
Lara bangun dari tidurnya menjelang malam. Dia beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Usai itu, Lara mengganti pakaiannya dan langsung keluar kamarnya. Lara membuka pintunya dan di saat yang bersamaan, Phoenix juga keluar dari kamarnya.
'Dia lagi ...' batin Lara.
Lara dan Phoenix sama-sama masuk ke dalam lift dan turun bersama. Seperti biasa, tak ada pembicaraan di antara mereka.
Lara membuka ponselnya dan menelepon Gonza.
"Aku lapar dan sudah ada di lobby apartemen," ucap Lara kemudian menutup ponselnya kembali.
"Ikutlah makan bersamaku. Aku ingin kita lebih dekat agar urusan bisnis kita lancar," kata Phoenix yang berjalan di samping Lara.
"Tidak," jawab Lara. Karena memang Lara tak suka berteman atau menjalin hubungan apapun dengan siapapun kecuali Silas.
Lara keluar dari lobby ketika Gonza sudah siap bersama supir di depan lobby.
Phoenix hanya menatap kepergian Lara. Dan dia memilih makan di restoran yang berada di seberang apartemennya.
Phoenix mengambil kesimpulan, Lara adalah wanita yang angkuh, memiliki sedikit empati dan introvert karena Lara enggan berinteraksi dengan siapapun kecuali urusan bisnis.
Setelah dari restoran, Lara langsung pulang ke apartemennya begitu juga dengan Phoenix.
Besok mereka akan berjumpa lagi di perusahaan Phoenix yang letaknya juga tak jauh dari apartemen.
*
*
*
Keesokan paginya, Lara memilih sarapan pagi di restoran seberang apartemen. Dia baru tahu semalam, jika ada restoran di sana.
Lara menyeberang jalan menuju restoran. Lara melewati seorang tuna wisma yang duduk meminta makanan dan bahkan tak melihatnya sama sekali serta berjalan terus tanpa mempedulikannya.
Phoenix yang berada di dalam restoran memandang ke arah Lara sejak tadi hingga masuk ke restoran.
Lara memesan makanan dan membisikkan sesuatu pada pelayan sembari menunjuk ke arah tuna wisma yang dilewatinya tadi.
Phoenix hanya mengawasinya dari jauh sambil menikmati makanannya. Dia memang tak menghampiri Lara karena Lara pasti akan tetap menghindar dan bersikap acuh tak acuh.
Beberapa menit kemudian, makanan pesanan Lara datang dan dia langsung memakannya. Sedangkan pelayan tadi tampak membawa sebungkus makanan dan memberikannya pada tuna wisma di di dekat traffic light tadi.
Lara hanya melihat pelayan itu dari jauh. Wajahnya tetap datar dan tak berekspresi.
Sejak bertemu Lara, Phoenix sama sekali tak pernah melihatnya tersenyum. Hanya wajah dingin dan sinis yang selalu ditunjukkannya.
Setelah menyelesaikan makannya, Phoenix menghampiri Lara dan duduk di depannya. Mata biru Lara melihat ke arah Phoenix.
"Kita akan pergi ke tempat yang sama jadi kita akan berangkat bersama," ucap Phoenix.
Lara tak menjawab dan meneruskan makan paginya. Dia tak mengiyakan ataupun menolak.
Beberapa menit kemudian, Lara dan Phoenix berjalan bersama menuju perusahaan Phoenix yang jaraknya hanya 200 meter saja dari sana.
Phoenix selalu berjalan dan jarang membawa mobilnya kecuali ketika pulang dari perusahaan. Dia akan menaiki mobil perusahaan yang dikemudikan oleh supirnya.
Lara dan Phoenix berjalan agak berjauhan. Lara di depan dan Phoenix di belakangnya. Dan seperti biasa tak ada obrolan di antara mereka.
Phoenix menatap tubuh Lara yang tampak sintal dari belakang karena memakai rok span berwarna abu-abu yang pas membentuk tubuhnya serta baju rajut bulu berwarna putih bersih.
Sepatu high heelsnya berbunyi mengetuk di atas trotoar. Lara berjalan tak terlalu lambat juga tak terlalu cepat.
Phoenix memperhatikan hal itu yang cukup menyegarkan matanya di pagi ini. Dia bahkan berpikir sedikit kotor ketika melihat bokong Lara yang bergerak naik turun.
Sesampainya di perusahaan, Lara dan Phoenix langsung masuk ke ruangan meeting. Selama 2 jam penuh mereka meeting bersama.
Phoenix cukup kagum dengan kepintaran dan kecerdasan Lara dibalik sikap acuhnya itu. Dia akan bersikap profesional jika menyangkut masalah pekerjaan dan Phoenix cukup cocok dengan Lara untuk masalah kedisplinan dan strategi bisnisnya.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA❤❤❤