BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#127



"Lara akan di sini selama kau ke perusahaan," ucap Velvet memutuskan.


"Hmm, nanti aku akan menjemputnya," jawab Phoenix sembari menikmati makan paginya.


"Kau tak ingin kemanapun, Lara? Kakak akan mengantarmu kemanapun kau mau," kata Velvet.


"Jangan, dia tak boleh kemanapun tanpa aku," sahut Phoenix.


"Aku tak bertanya padamu. Jangan terlalu posesif padanya," jawab Velvet.


"Bisakah kalian tak berdebat lagi? Aku benar-benar pusing mendengarnya," ucap Damon.


"Aku hanya ingin di sini saja, Kak. Kita bisa menghabiskan waktu mengobrol sepuasnya selama aku di sini," kata Lara akhirnya.


"Baiklah," jawab Velvet tersenyum.


"Kau sudah tak muntah-muntah lagi, Phoe?" tanya Velvet.


"Tidak, hanya sedikit mual saja," jawab Phoenix.


"Sayang sekali," ucap Damon menimpali.


Velvet tertawa pelan.


"Aku senang merasakan hal itu. Karena itu tandanya aku sangat mencintainya, Kak," kata Phoenix.


"Ya ya ya ... Selamat Lara, kau mendapatkan suami teladan," ucap Velvet.


Lara hanya tertawa pelan menanggapinya.


"Kau selalu menyebalkan, Vel," balas Phoenix.


"Phoe, hati-hati dengan kata-katamu," sahut Damon.


"Kalian sama saja," ucap Phoenix.


"Cepatlah makan, kalian akan terlambat meeting nanti," kata Velvet.


Setengah jam berlalu dan Phoenix pun berangkat ke perusahaan bersama Damon setelah makan pagi.


"Ayo kita duduk di dekat kolam renang saja." Velvet menggandengan tangan Lara dan membawa ke area kolam yang ada di area samping kanan mansion.


"Mereka dibawa oleh Uncle Bryce berlibur," jawab Velvet.


"Apakah mereka sedang libur sekolah?" tanya Lara.


"Ya, hanya seminggu saja," jawab Velvet.


"Bagaimana kehamilanmu, Lara? Apakah tak merepotkan?" Velvet dan Lara kini duduk di sofa rotan yang ada di pinggir kolam.


"Tidak, kehamilanku sama sekali tak rewel. Justru Phoenix yang sedikit rewel dan manja," jawab Lara.


"Dia memang selalu manja, Lara." Velvet tertawa kecil.


"Kau tahu tentang Davina?" tanya Velvet.


Lara mengangguk. "Dia hidup kekurangan dan tak terlalu menderita sepertinya," jawab Lara.


"Kau masih dendam padanya?" tanya Velvet.


Lara menggeleng.


"Aku tahu kau pasti berhati besar, Lara. Kau adalah adikku yang manis dan baik hati seperti yang kukenal dulu." Velvet memeluk Lara.


"Aku sudah tak punya keinginan lagi untuk membalasnya. Prioritasku kali ini hanyalah menjaga bayiku dengan baik dan selalu sehat. Itu saja, tak ada yang lain," ucap Lara melepaskan pelukannya dari Velvet.


"Kau sungguh-sungguh mencintai Phoenix? Maaf, aku menanyakan hal ini bukan karena aku tak yakin. Hanya saja aku ingin kau menikmati kebahagiaanmu dengan lebih lepas, Lara. Inilah saatnya kau bahagia. Dan Phoenix adalah kebahagiaanmu," kata Velvet.


"Aku mencintainya sejak 8 tahun yang lalu," kata Lara akhirnya.


"Delapan tahun? Kalian sudah saling mengenal delapan tahun yang lalu?" tanya Velvet tertegun.


"Tidak, aku belum mengenalnya kala itu. Kami hanya pernah bertemu saja tanpa saling mengenal. Dua kali dia menolongku waktu itu," jawab Lara.


"Really? Aku benar-benar penasaran dengan pertemuan pertama kalian. Mengapa aku baru tahu cerita ini?" Velvet memegang tangan Lara dan tak sabar menunggu cerita Lara seluruhnya.


"Kak Thea dan mommy yang tahu tentang cerita ini. Dan semuanya berawal dari jaket. Dua kali Phoenix memberikan jaketnya padaku delapan tahun yang lalu. Dan aku mencintainya karena hal itu. Lucu, bukan?" Lara tertawa pelan dan hanya dengan Velvet lah dia lebih terbuka tentang ceritanya.


Velvet mendengarkan dengan seksama keseluruhan cerita tentang pertemuan Lara dan Phoenix delapan tahun yang lalu.