BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#49



"Kau berani menantangku!!" marah Berly yang hampir saja terjatuh.


"Kau pikir aku takut? Oh come on ... Aku bisa saja melemparmu dari jendela itu dan membuatnya seakan terjadi kecelakaan, tapi tak akan kulakukan karena aku ingin kau melihat terlebih dulu bagaimana putrimu manjamu itu hancur secara perlahan," jawab Lara dengan penekanan suara yang membuat Berly sedikit takut.


Berly cukup sadar karena Lara memiliki segalanya sekarang tak seperti dulu. Jadi Lara pasti punya kekuasaan yang cukup besar untuk bisa menghancurkan hidup Davina dengan mudah.


"Demi kebahagiaan putriku aku bisa membunuhmu, Lara. Jangan mengganggu hidupnya!!" geram Berly.


"Kau akan menyewa orang bayaran lagi untuk membunuhku, begitu? Seperti yang kau lakukan dulu padaku? Mengirim orang untuk mengambil kehormatanku? Ah ya, bagaimana jika itu kubalik sekarang? Aku akan menyewa beberapa pria untuk memperkosaa Davina. Akan menarik sepertinya," kata Lara dengan santainya.


"LARA!!!" teriak Berly.


"Tidak ... Tidak ... Tenang saja ... Aku tak akan melakukan hal serendah itu. Aku hanya ingin melihatnya kehilangan apa yang sudah diperjuangkannya selama bertahun-tahun. Itu saja, tenanglah ..." Lara tertawa pelan.


Berly menggenggam tangannya erat-erat dan akhirnya berbalik keluar dari ruangan Lara. Lara langsung memasang wajah dingin dan sinisnya pada Berly yang semakin menjauh darinya.


Berly membuka pintu dan menutupnya dengan sangat keras. Hal itu justru membuat Lara tersenyum kembali melihat kemarahan Berly.


"Tunggu saja ... Keluarga Robert sedang mengawasiku saat ini. Nanti, ada saatnya aku akan mulai hal menyakitkan itu secara perlahan dengan cara yang bahkan tak terpikirkan oleh kalian. Meskipun aku harus mengorbankan diriku," gumam Lara lirih.


"Aku berjanji akan mengambil semua yang kau miliki, Davina. Hingga kau menangis darah karena menyesal telah membuat masalah denganku dulu. Kau akan hancur, Davina. Aku tak perlu menghancurkan fisikmu. Cukup dengan menghancurkanmu dari dalam hingga kau ingin bunuh diri seperti apa yang hampir aku lakukan dulu," lanjut Lara bermonolog.


"Phoenix? Baiklah ... Aku akan memulainya darimu dulu. Aku tak suka melakukan pekerjaan yang lambat dan aku akan mempersingkatnya dengan cara licik." Lara tersenyum jahat memikirkan rencana apa yang akan dilakukannya pada Phoenix nanti.


*


*


*


Makan malam yang akan dihadirinya adalah makan malam bisnis bersama beberapa pengusaha dan konglomerat termasuk Phoenix.


Lara mengambil ponselnya dan menelepon Gonza.


"Kau sudah menyiapkannya?" tanya Lara pada Gonza.


"Ya, Nona. Apa anda yakin akan melakukan hal ini tanpa tuan Silas ketahui?" tanya Gonza dari seberang telepon.


"Hmm, tenang saja. Aku akan melakukannya dengan sangat rapi. Lagipula tempat tinggal yang berdekatan membuatku akan mudah melakukannya dan uncle Silas tak akan mengetahuinya," jawab Lara santai.


"Baiklah, Nona. Nanti aku akan memberikannya padamu," jawab Gonza lalu Lara menutup teleponnya.


Lara memakai baju sedikit terbuka dan membuatnya tampak lebih sexy dari biasanya. Dia hanya ingin menjadi pusat perhatian malam ini dengan tujuan memancing emosi Phoenix karena biasanya Lara tak luput dari candaan rekan bisnis Silas yang selalu ingin menggodanya.


Lara sudah memiliki rencana yang cukup matang dengan cara memanfaatkan Phoenix. Ya, jalan Lara akan lebih mulus jika Phoenix ada di sisinya. Dan dengan begitu keluarga Robert mau tak mau akan mendukungnya hingga dia dengan mudah menyingkirkan Davina yang sudah bertahun-tahun mendekati Phoenix akan merasakan sakitnya ditinggalkan.


Sekali lagi, Lara akan menggunakan cara cepat dan licik. Dia tak suka menunggu terlalu lama dan berbelit-belit. Lara tak perlu mengotori tangannya untuk melukai Davina secara fisik jika itu tidak terlalu diperlukan.