BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#123 (EDISI IRIS-GONZA)



Lalu Gonza mulai mencium ganas bibir Iris dan membuka celana Iris serta celananya sendiri.


"Aku akan melakukannya perlahan," bisik Gonza.


Iris mengangguk tak sabar. Kemudian Gonza membuka paha Iris dan mulai memasukkannya.


Tak sulit Gonza memasukkannya meskipun milik Iris masih sangat rapat.


Gonza mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur dan membuat suara desahaan keluar dari mulutnya.


"Aaahhh," desah Gonza yang bersahutan dengan Iris juga.


"Apakah sakit?" tanya Gonza yang masih bergerak perlahan di atas Iris.


Iris menggeleng dan tubuhnya gemetar menerima kenikmatan ini. Halnyang ditunggunya selama ini akhirnya tercapai juga.


Gonza -- cinta pertamanya -- adalah orang pertama yang menyentuhnya. Iris tersenyum dan tangannya mencengkeram bahu lebar Gonza.


Gonza menjaga tubuhnya agar tak menggesek perut Iris yang terluka.


"I love you," bisik Iris.


"Aku menunggu hal ini sekian lama," lanjutnya dengan suara pelan.


Gonza menatap mata Iris. Dia tak tahu bahwa cinta Iris sebesar ini padanya.


Hal inilah juga yang membuat Iris bercerai dari suaminya. Iris tak bisa melakukan hal penting ini jika tidak dengan orang yang dicintainya.


Iris hanya ingin melakukan percintaan ini dengan pria yang sangat dicintainya inj.


Senyum samar yang hampir tak terlihat itu ditampakkan oleh Gonza.


Iris yang benar-benar mengamati hal itu merasa sangat bahagia melihatnya.


Gonza kembali mencium Iris dan semakin melumaatnya dengan lahap. Entah perasaan seperti apa yang dirasakannya kini.


Yang pasti, Gonza merasa dunianya kini telah lengkap dengan memiliki Iris. Dan dia yakin, dia pasti bisa mencintai Iris seperti Iris yang mencintainya.


"Aku tak terlalu suka mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. Aku lebih suka mengungkapkannya dengan perbuatan," ucap Gonza pelan berharap Iris bisa memahaminya.


Iris tersenyum dan dengan berani mencium bibir Gonza terlebih dulu.


Hingga cukup lama mereka pun menyelesaikan adegan ranjang perdana mereka setelah 2 minggu melewati waktu mereka bersama.


Kini Gonza tampak memeluk Iris dari belakang dan mengusap perutnya yang lukanya sudah terlihat mengering itu.


"Hmm, tidurlah," jawab Gonza.


"Tetaplah di sini sampai aku bangun. Aku hanya tidur sebentar saja," ucap Iris pelan yang sudah memejamkam matanya.


"Hmm." Gonza semakin memeluk Iris dan menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.


"I love you," bisik Iris.


Di balik punggung Iris, Gonza tersenyum tipis mendengar kata-kata manis dari Iris itu.


*


*


Seminggu kemudian ...


"Jadi Nona Lara mengirim ini?" tanya Iris melihat tiket online yang ada di ponsel Gonza.


"Hmm, dia ingin kita berbulan madu sebelum kembali ke New Jersey," jawab Gonza.


"Apakah ini tak terlalu lama? 2 bulan?" ucap Iris heran.


Gonza hanya mengedikkan bahunya dan menggandeng tangan Iris menyusuri hamparan rumput indah di bukit dekat rumahnya.


"I love you," ucap Iris yang tak pernah bosan mengatakan hal itu.


Gonza tak menjawabnya seperti biasa, tetapi dia langsung merengkuh pinggang Iris dan kemudian mencium bibirnya.


"Kau ingin punya berapa anak?" tanya Iris sembari menangkup wajah tampan Gonza yang selalu tampak cool itu.


"Terserah dirimu memberiku berapa anak," jawab Gonza.


Iris tertawa pelan.


"Umurku sudah 30 jadi cukup 2 saja. Oke?" kata Iris.


"Kau tak terlihat berumur 30." Gonza mengusap lembut rambut panjang Iris.


"Oh God, kau memujiku? Seharusnya aku merekamnya." Iris tertawa pelan dan mengecup bibir Gonza.


Lalu mereka kembali berjalan bersama menyusuri jalanan indah itu.


"Aku akan mengirim banyak foto kita di sini pada Nona Lara nanti. Dia pasti sangat iri. Dia benar-benar merindukan tempat ini katanya," ucap Iris tertawa kecil.