BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#53



"Kau sadar dengan apa yang kau lakukan, Lara??" ucap Phoenix di atas bibir Lara.


"Hmm," jawab Lara.


Dan Phoenix masih sedikit sadar kemudian menjauh kembali dari Lara tetapi Lara menarik kerah bajunya dan mencium bibirnya kembali.


Di mana Lara mempelajari kegiatan vulgaar ini? Cukup mudah. Lara hanya melihatnya dari internet dan sisanya lagi adalah naluri manusia yang pasti membutuhkan sekss.


Tangan Phoenix merengkuh pinggang Lara yang tak tertutup lagi. Phoenix mendorong Lara ke ranjangnya yang pas ada di belakang Lara.


Lara tersenyum menang dan membuka baju Phoenix dengan cepat. Lara merasakan gairahh? Ya, Lara tentu saja ikut merasakannya meskipun ini bagian dari rencana liciknya.


Lara mencium leher Phoenix dan membuat Phoenix semakin tak bisa mengendalikan hasratnya pada Lara.


'Harum ini?' batin Lara dan mencoba menyesap dalam harum tubuh Phoenix yang tak asing di hidungnya.


Lara melingkarkan tangannya ke leher Phoenix dan tetap mencium wangi leher dan ceruknya untuk memastikan sesuatu.


'Phoenix ... Kau kah itu?' pikir Lara sembari melihat ke arah mata tajam Phoenix yang kini sedang asyik bermain di area dada Lara.


Phoenix sudah melucuti semua pakaian dalam Lara dan menyusuri tubuh Lara dengan tangannya hingga akhirnya dia membuka celananya sendiri dan langsung memasukkan miliknya pada Lara.


Karena Phoenix dikuasai oleh obat, membuatnya tak bisa melakukan hal ini dengan perlahan. Lara menahan sakitnya dan tak terasa air matanya menetes tanpa terlihat oleh Phoenix.


'Ya, yang kulakukan sudah benar. Tak ada salahnya memberikan milikku padanya. Banyak yang bisa kumanfaatkan darinya. Aku berharap aku bisa hamil dan benar-benar mengikatmu, Phoenix,' batin Lara menguatkan hatinya sendiri.


Phoenix sudah lupa diri dan menggerakkan tubuhnya di atas Lara dengan gerakan liar dan menggebu-gebu.


"ini salahmu, Lara. Jangan menyesal dengan apa yang kau mulai sendiri," ucap Phoenix ngos-ngosan.


Lara menahan rasa sakit itu tapi sekaligus terasa nikmat baginya.


"Aku cukup sadar untuk memutuskan melakukan hal ini," jawab Lara lirih.


Hingga akhirnya, Phoenix pun melepaskan cairan putih itu di dalam milik Lara dengan penuh kepuasan. Tak ada yang bisa dipikirkannya saat ini selain menyalurkan hasratnya yang sudah menguasai tubuh dan otaknya itu.


Tubuhnya masih berada di atas tubuh Lara dan mereka masih sama-sama terdiam.


"Hanya karena Davina kau melakukan ini, Lara?" ucap Phoenix pelan.


"Kau adalah titik terlemah Davina. Tak ada salahnya aku memanfaatkanmu," balas Lara dengan suara lirihnya.


"Dendam terlalu menguasaimu hingga kau tak memakai logikamu lagi. Kau tak perlu melakukan hal ini untuk membalasnya. Cukup bahagiakan dirimu sendiri maka dia akan iri melihat kebahahagianmu. Itupun jika dia iri padamu. Dia mungkin sudah tak memiliki rasa itu padamu," ucap Phoenix yang kemudian beranjak dari tubuh polos Lara.


Phoenix melihat darah yang tampak terlihat dari inti tubuh Lara dan mengumpat kembali ketika melihatnya.


Phoenix kemudian berbalik dan menuju kamar mandi. Lara duduk terbangun dan berjalan perlahan menuju lemari Phoenix kemudian mengambil kemeja putih dan memakainya.


Lara keluar dari kamar Phoenix dan mencari kamar mandi di kamar tamu dan membersihkan area sensitifnya di sana. Lara tampak meringis tak nyaman karena rasa perih di **** *************.


Beberapa menit kemudian, Lara keluar menuju ruang tengah dan mengambil rokok di dalam tasnya. Dia menuju balkon dan menyalakan rokoknya serta menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya.


Tangan kirinya terlipat di depan dadanya dan tangan kanannya memegang rokok di jari lentiknya.