
Lara mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memasukkan ke dalam kaleng minuman milik Phoenix. Inilah cara Lara untuk menjebak Phoenix.
Cara kuno yang terkesan licik tetapi itu justru disukai oleh Lara yang tak mau terlalu bertele-tele. Anti baginya untuk merayu seorang pria dalam cara yang wajar.
Beberapa menit kemudian, Phoenix kembali masuk setelah tadi tampak terdengar berbicara dengan seseorang di depan pintu.
Lara melihat Phoenix membawa sebungkus rokok dan itu adalah milik Lara. Phoenix membuang rokok itu ke tempat sampah yang ada di dapurnya.
"Apa yang kau buang?" tanya Lara.
"Sesuatu yang tak penting," jawab Phoenix dan dia kembali lagi ke sofa.
"Itu rokokku dan pemantiknya" ucap Lara.
"Tadi terjatuh di depan lobby dan security menemukannya. Di pemantik itu ada namamu," kata Phoenix kembali meminum minumannya.
Lara beranjak dari duduknya dan menuju dapur untuk mengambil rokok dan pemantik yang dibuang oleh Phoenix tadi.
"Pemantik ini sangat berharga bagiku. Tuan Silas yang memberikannya," ucap Lara dan mengambil pemantik itu dari tempat sampah.
"Jadi tuan Silas menyarankanmu untuk merokok?" tanya Phoenix.
Lara kemudian berjalan ke arah Phoenix sambil membawa pemantiknya.
"Jika aku ada berada dalam kegelapan, dia menyuruhku untuk menyalakan pemantik api ini untuk memberiku cahaya penerang," jawab Lara dan memasukkan kembali pemantik itu ke dalam tasnya.
"Filosofi yang bagus. Tapi kau menggunakannya untuk merusak tubuhmu," ucap Phoenix.
"Itu bukan urusanmu," jawab Lara meminum lagi minumannya.
1 ... 2 ... 3 ...
Lara melihat Phoenix yang terlihat sedikit gelisah. Phoenix melihat ke arah Lara dan mereka saling bertatapan. Mata Phoenix menyipit dan menatap tajam mata Lara.
"Apa yang kau lakukan, Lara? Apa kau gila?" geram Phoenix yang tampak sadar dengan apa yang mulai terjadi pada tubuhnya.
"Aku hanya ingin mengikatmu dan membuat wanita jalaang itu gila," jawab Lara tersenyum.
"Kau gila, Lara!! Kau gila!!" teriak Phoenix dan beranjak dari kursinya menuju kamarnya.
Lara berdiri juga dan mengikuti Phoenix dari belakang serta menahan pintu kamar Phoenix ketika Phoenix akan menutup pintunya.
"LARAA!!" marah Phoenix.
"Aku bahkan akan melakukan hal rendah ini untuk membuatnya menderita, Phoenix. Permudah ini," ucap Lara dan menyentuh dada Phoenix.
"OOhh Shitt!!!" umpat Phoenix dan menghempaskan tangan Lara dari dadanya.
"Pergilah, Lara!!! Please," ucap Phoenix yang mulai berkeringat.
"Tidak," jawab Lara dan melangkah maju ke arah Phoenix yang terus mundur.
"Kau tak akan mendapat apapun dari memanfaatkanku!!" geram Phoenix.
"Banyak yang akan kudapat darimu, Phoenix." Lara membuka resleting bajunya di punggungnya dan melepaskannya hingga bajunya meluncur bebas ke atas lantai kamar Phoenix.
"Oh my ... Shiittt!!!" umpat Phoenix lagi ketika melihat Lara hanya menggunakan pakaian dalamnya yang berwarna hitam.
Itu membuat kulitnya yang putih terlihat indah di setiap mata pria yang melihatnya termasuk Phoenix apalagi Phoenix dalam pengaruh obat perangsaang.
"Kau merusak dirimu sendiri, Lara. Sadarlah!!" ucap Phoenix yang semakin tak mampu lagi menahan gairahhnya karena pengaruh obat itu.
"Aku lebih suka cara cepat seperti ini. Aku tak suka alur yang lambat," Lara terlihat santai dan tak ada rasa gugup atau takut sama sekalipun karena tekadnya telah bulat.
Lalu Lara mendekati Phoenix dan berjinjit kemudian mengecup bibir Phoenix. Hanya dengan pancingan seperti itu, membuat Phoenix akhirnya kehilangan kendali. Dia membalas kecupan Lara itu dengan ciuman dalam yang panas dan penuh gairaahh.