BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#78



Lara kemudian masuk bersama Iris dan Velvet ke dalam kamar dengan Phoenix tetap di belakangnya.


Ketika Velvet lengah dan melepaskan tangan Lara,Phoenix langsung menarik tangan Lara dan membawanya dengan langkah cepat ke kamar seberang lalu mengunci pintunya.


"PHOENIIIIXXXX," teriak Velvet.


"Akan kuadukan kau pada mommy," Velvet menggedor pintu kamar tamu yang dimasuki Phoenix dan Lara.


"Adukan saja," teriak Phoenix dari dalam.


Iris tertawa melihat hal itu.


"Iris ... Kau seharusnya memegang tangan Lara dengan kuat tadi," ucap Velvet.


Iris tersenyum geli dan mengangguk saja.


"Baby ... Biarkan mereka. Mungkin mereka saling merindukan," kata Damon yang berdiri di dekat pintu kamarnya yang ada di sebelah kamar tamu.


"Aku hanya ingin memberikan pelajaran padanya," ucap Velvet.


"Ayo tidurlah. Aku sudah mengantuk menunggumu terlalu lama," kata Damon menghampiri Velvet dan menarik tangannya ke kamar.


"Iris ... Tidurlah di kamar itu. Good night," ucap Velvet.


"Ya, Nyonya," jawa Iris dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.


*


*


Kini Lara dan Phoenix telah bersama di dalam kamar mereka. Phoenix memeluk Lara dan masih belum bicara.


"Kau merindukanku?" tanya Lara memberanikan bertanya.


"Hmm ... Aku khawatir padamu," jawab Phoenix pelan dan kemudian melepaskan pelukannya.


"Jadi karena ini kau menyukai wangi leherku?" tanya Phoenix melihat jaket yang dipakai Lara.


Lara terdiam karena Phoenix ternyata sadar dengan jaket yang dipakainya adalah milik Phoenix.


Lara tak tahu harus berkata apa. Baru kali ini dia merasa mati kutu karena merasa sedikit malu.


"Hei ... Mengapa kau tak mengatakan apapun?" tanya Phoenix dan kemudian mengecupi bibir Lara.


"Jaket ini adalah pemberian mommy ketika aku ulang tahun. Dan ini dipesan khusus, jadi aku akan langsung mengenali jaket ini. Begitu juga dengan mommy," ucap Phoenix.


'Itulah mengapa sikap aunty Galy berubah padaku tadi. Apa karena jaket ini? Apa yang diceritakan Phoenix pada aunty Galy tentang bagaimana jaket ini berada di tangannya saat ini?' batin Lara.


Lara menunduk karena hal itu. Kemudian tangan Phoenix mengangkat dagu Lara agar melihat ke arahnya.


"Kau menyukaiku, Lara? Aku ingin tahu jawabanmu tanpa ada nama Davina pada jawabanmu itu," ucap Phoenix.


Lara menatap mata Phoenix dan masih terdiam.


"Kau penyelamatku kala itu. Jadi ... aku ..." ucapan Lara menggantung.


"Lanjutkan," ucap Phoenix tak sabar.


"Tidak, aku tak mau melanjutkannya," kata Lara berbalik tetapi Phoenix menahan tangannya dan merengkuh pinggangnya agar Lara tak pergi kemanapun.


"Hei ... Itu tak adil. Ayo katakan," kata Phoenix.


"Kau akan menertawakanku nanti," jawab Lara.


"Tak ada gunanya menertawakanmu," kata Phoenix.


"In benar-benar seperti cerita dongeng anak-anak. Kau pasti akan menertawakanku," ucap Lara lagi.


"Ya Tuhan ... Cepat katakan saja," Phoenix mulai gemas karena Lara tak kunjung mengatakannya.


"Ck." Lara mencebik.


Phoenix masih memandang wajah Lara dan mereka saling bertatapan.


"Aku menyukai pemilik jaket itu tanpa mengenal siapa pemiliknya," jawab Lara.


Phoenix tersenyum dan mengecup bibir Lara lagi.


"Teruskan ..." kata Phoenix.


"Aku selalu memakainya hingga wangi parfum di jaket itu menghilang setelah 8 tahun berlalu," lanjut Lara.


"Dan aku mencium wangi parfum itu lagi di lehermu meskipun sebenarnya aku selalu menyangkalnya."


"Jadi kau tak ingin mengakui bahwa pemilik jaket itu adalah aku?" tanya Phoenix.


Lara mengangguk.


"Why?"


"Karena aku tak ingin goyah," jawab Lara.