
Setelah melakukan hal itu, Lara tertidur kembali karena memang dirinya masih mengantuk tadi.
Sedangkan Phoenix berada di kamar mandi untuk bersiap-siap ke perusahaan.
Setelah mandi, Phoenix memakai bajunya. Dan setelah rapi, dia keluar kamar kemudian melihat Lara yang tampak tertidur nyenyak di sofa.
Baju mereka berserakan di lantai. Lara hanya menutup bagian dada dan **** ************* menggunakan selimut yang ada di sofa.
Phoenix tak menyangka mereka akan melakukan hal gila ini kembali. Dan kali ini tanpa drama. Semuanya hanya mengikuti nafsu mereka yang sudah lama terbendung.
"Hei bangunlah ... Hari ini kita akan ada meeting penting," bisik Phoenix di telinga Lara.
Lara membuka matanya perlahan dan melihat Phoenix di depan wajahnya dengan penampilan yang sudah sangat rapi.
Sinar matahari sudah masuk melalui jendela balkon yang telah dibuka oleh Phoenix.
"Oh God ... Ini sudah siang?" tanya Lara dan langsung beranjak duduk.
"Ini masih pagi," jawab Phoenix dengan sedikit tersenyum.
"Mengapa kau membiarkanku tertidur?" tanya Lara dan mengikat selimut itu di dadanya lalu berdiri.
Lara kemudian mendengar ponselnya berbunyi. Dia mencari tasnya karena ponsel itu ada di tasnya.
"Oh my ... Di mana tasku?" tanya Lara kebingungan mencari tasnya.
Phoenix tersenyum kembali melihat tingkah Lara yang kebingungan mencari tasnya. Selama ini, Phoenix hanya melihat sosok Lara yang cool dan sinis.
Lalu Phoenix berjalan ke arah pintu dan mengambil tas Lara yang ada di bawah lantai.
Lara segera mengambil tas itu dari Phoenix dan tangannya merogoh ke dalam tas kemudian mengambil ponselnya.
"Halo, Uncle?" ucap Lara.
"Halo, Lara. Kau masih di apartemen atau sudah di perusahaan?" tanya Tuan Silas dari seberang telepon.
"Aku masih di apartemen," jawab Lara sembari memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai.
"Baiklah, kalau begitu uncle akan ke sana terlebih dulu. Mungkin 10 menit lagi akan sampai," jawab Silas.
"W-What??" ucap Lara dan langsung menuju ke arah pintu keluar hanya dengan menggunakan selimut yang tersampir di dadanya.
Phoenix menahan tawa gelinya karena kelakuan Lara yang seperti akan kena gerebek oleh orang tuanya.
Lara menoleh dan membelalakkan matanya pada Phoenix karena takut Silas mendengarnya.
Lara berjalan cepat ke arah Phoenix dan mengambil celana dalaam berendanya dari tangan Phoenix.
Phoenix cukup terhibur dengan keribetan Lara yang menurutnya itu suatu yang langka. Lara yang perfeksionis ternyata bisa kewalahan juga.
Kemudian Lara masuk ke dalam apartemennya.
"Baik, Uncle. Bagaimana jika kita makan pagi bersama di restoran seberang apartemen? Kita bertemu di sana saja," ucap Lara yang langsung masuk ke kamarnya dan melepas selimut milik Phoenix dari tubuhnya.
"Oke, uncle tunggu di sana saja," jawab Silas.
"Oke, bye," jawab Lara dan menutup ponselnya.
Lara segera masuk ke kamar mandi dan mandi secepat kilat karena Silas sudah hampir sampai di restoran.
Hanya 10 menit saja, Lara menyelesaikan semuanya. Hingga akhirnya dia pun keluar dan menuju lift.
Phoenix juga tampak masuk ke dalam lift.
"Kau belum berangkat?" tanya Lara sembari memasang sepatu hak tingginya.
"Belum, tuan Silas meneleponku dan mengajakku makan pagi bersama di restoran seberang," jawab Phoenix.
"What?"
"Kita akan meeting bersama tuan Silas juga, bukan? Jadi dia ingin mentraktirku makan pagi terlebih dulu," jawab Phoenix santai.
Lara mengambil lipstik di tasnya lalu memakainya dengan terburu-buru hingga ada yang sedikit keluar garis bibirnya.
Phoenix mengangkat tangannya dan menghapus lipstik Lara yang sedikit tak rapi itu dengan jarinya.
Ting ....
Pintu lift terbuka dan mereka keluar bersama. Lara berjalan cepat di depan dan Phoenix di belakangnya.
Bokong Lara yang padat tampak terlihat sexy di mata Phoenix. Apalagi Lara memakai rok span yang pas membentuk bodynya.
Entah mengapa Phoenix selalu memperhatikan hal itu sejak pertama kali mereka bertemu.
Bedanya, kini dia sudah pernah memegang benda padat dan kenyal itu dengan cukup puas.😁