
Kini Lara dan Phoenix berada di dalam mobil. Tak ada obrolan apapun dari mereka seperti biasa.
Sesampainya di apartemen, mereka pun keluar dari mobil secara bersamaan. Phoenix tak lagi menggandeng tangan Lara.
Kini Lara berjalan di belakang Phoenix. Lara sedikit kesal karena Phoenix kini tampak tak menghiraukannya lagi.
Setibanya di lantai apartemen mereka, Phoenix pun keluar terlebih dulu dari lift.
"Masuklah ke kamarmu," ucap Phoenix ketika sudah ada di depan pintunya.
"Mengapa kau mengajakku pulang?" tanya Lara datar.
"Velvet meminta bantuanku untuk menjagamu. Setidaknya gadis kecil nakalnya ini sudah berada di apartemennya dengan selamat dan aku sudah melakukan tugasku dengan baik," jawab Phoenix yang kemudian masuk memencet tombol pintunya dan langsung masuk.
Lara akhirnya masuk juga ke dalam apartemennya. Entah mengapa dia sedikit kesal dengan hal itu. Phoenix benar-benar mengabaikannya.
Lara membuang tasnya dengan kesal ke atas lantai dan menuju ruang tengah. Dia merebahkan dirinya di atas sofa empuknya dan matanya memandang ke arah luar jendela besarnya yang gordennya terbuka.
Besok dirinya akan meeting bersama perusahaan Phoenix. Apakah Phoenix masih tak akan hadir di meeting besok? Entahlah, Lara juga tak tahu.
"Apakah malam itu tak berarti apapun bagimu?" gumam Lara lirih dan memejamkan matanya serta memeluk tubuhnya sendiri.
"Sepertinya aku terjebak permainanku sendiri. Aku sangat menginginkannya saat ini. Dan dia mengabaikanku."
*
*
*
Keesokan paginya, Lara sudah bersiap untuk pergi ke perusahaannya. Dia berangkat sedikit telat karena merasa sedikit tak enak badan.
Lara sudah berhenti merokok dan dia cukup tersiksa dengan hal itu. Itulah yang membuat dirinya sedikit gelisah ketika dirinya sangat ingin merokok.
Lara keluar dari apartemennya dan tak melihat Phoenix. Lara menebak, Phoenix tak akan datang lagi ke acara meeting perusahaan mereka lagi.
"Anda sehat, Nona?" tanya Gonza yang melihat Lara sedikit pucat.
"Hmm, aku hanya tak bisa merokok dan itu membuatku gelisah," jawab Lara di bangku penumpang.
"Nanti anda akan terbiasa," ucap Gonza.
Setibanya di perusahaan, Lara langsung masuk ke ruangan meeting. Lara masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Phoenix sudah duduk di sana.
Lara hanya menatap dingin ke arah Phoenix begitu juga dengan Phoenix.
Lara dan Phoenix sama-sama profesional dan meeting hari itu berjalan dengan lancar.
Lara langsung keluar seusai meeting dan sama sekali tak melihat ke arah Phoenix. Untuk sementara Lara akan menghindari Phoenix dan memikirkan langkah selanjutnya apa yang akan dilakukannya.
Lara tiba di ruangannya dan langsung duduk karena kepalanya sedikit pusing.
Dia mengambil ponselnya dan menelepon Gonza.
"Bawakan aku obat sakit kepala yang aman dan tak terlalu keras dosisnya," ucap Lara.
"Baiklah, Nona," jawab Gonza.
Lara akhirnya beranjak dari kursinya dan menuju sofa. Dia sudah tak bisa menahan sakit kepalanya lagi.
"Aku benar-benar ingin merokok," lirih Lara.
Lara tidur meringkuk di sofanya sembari memegang kepalanya yang pusing.
Beberapa menit kemudian, ada ketukan di pintu ruangan Lara tetapi Lara tak menggubrisnya karena mengira itu pasti Gonza membawakan obatnya.
Hingga akhirnya pintu itu terbuka dan terdengar langkah kaki menuju Lara.
"Mengapa kau lama sekali. Cepat ambilkan air minumnya di mejaku, Gonza," ucap Lara yang masih meringkuk di sofa.
"Kau sakit?" tanya suara yang saat ini tak ingin di dengar oleh Lara.
"Tidak," jawab Lara dan membuka matanya lalu beranjak duduk dan berjalan menuju kursi kebesarannya lagi dengan langkah pelan.
"Ada apa? Apa ada yang masih ingin kau tanyakan tentang meeting tadi?" tanya Lara yang berusaha kuat menahan rasa pusing di kepalanya.
"Velvet tak memberitahumu? Dia menyuruhku membawamu ke mansion keluarga kami. Dia ada di New Jersey saat ini," jawab Phoenix.
Lara melihat ke arah Phoenix sembari memegang kepalanya yang pusing.