
"Di mana dia sekarang?" tanya Lara pada anak buahnya di seberang telepon.
"Dia bekerja di sebuah perusahaan kecil di Ohio , Nona," jawab Patrick.
"Hmm, lalu?"
"Dia tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggir kota. Dan dia sama sekali tak pernah menghubungi ibunya di penjara," ucap Patrick melalui telepon.
"Sayang sekali aku tak bisa melihatnya secara langsung. Kirim fotonya padaku," kata Lara dan kemudian menutup sambungan teleponnya.
Tak lama kemudian, Patrick mengirimkan beberapa foto-foto Davina. Ekspresi wajah Lara biasa saja dan tak berubah.
Wajahnya masih datar dan hanya melihat ke arah foto-foto Davina itu.
"Dia tak terlalu menderita rupanya. Apakah aku harus mengusirnya dari kantor barunya itu?" gumam Lara tersenyum tipis.
"Beruntunglah kau, Davina. Aku sedang tidak mood berbuat jahat padamu." Lara mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Tunggulah saja nanti," gumam Lara yang kemudian beranjak dari kursinya lalu menuju ke arah jendela.
CEKLEK ...
Pintu ruangan Lara terbuka dan membuatnya menoleh ke arah pintu itu.
"Ini masih pagi," ucap Lara pada sosok tampan yang baru saja memasuki ruangannya.
Phoenix tersenyum dan menghampiri Lara lalu mencium bibirnya.
"Kita akan pergi ke New York siang nanti," kata Phoenix.
"Apakah ada acara di sana?" tanya Lara.
"Tidak. Aku ada meeting penting di sana dan aku tak bisa membiarkanmu sendirian di sini," jawab Phoenix merengkuh pinggang Lara dan mengusap pipi merahnya.
Lara masih diam dan belum menanggapi apapun.
"Berapa lama kita di sana?" tanya Lara akhirnya.
"3 hari saja," jawab Phoenix.
"Hmm, baiklah," jawab Lara tersenyum tipis.
Lalu Phoenix menggandeng tangan Lara dan mengambil tasnya. Mereka keluar dari ruangan Lara dan akan langsung menuju mansion.
"Hmm, anak buah daddy mengawasinya," jawab Phoenix.
"Kalian masih menjaganya? Agar aku tak menyentuhnya?" Lara tertawa pelan.
"Tidak, aku hanya tak ingin dia menemuimu," jawab Phoenix yang kemudian mengambil tangan Lara dan menciumnya.
"Aku masih belum selesai dengannya," ucap Lara.
"Seiring berjalannya waktu, aku harap kau akan melupakannya. Aku tahu bahwa dia sangat jahat padamu dulu. Tapi aku berharap kau lebih memilihku dan bayi kita yang ada dalam kandunganmu," kata Phoenix.
"Menurutmu aku bisa melupakannya?" tanya Lara.
"Hmm, aku yakin kau pasti bisa," ucap Phoenix.
"Bagaimana jika tidak bisa?" tanya Lara lagi.
Phoenix tak menjawab dan hanya menunjukkan senyum smirknya. Dia akan berusaha membuat Lara bahagia hingga Lara benar-benar melupakan masa lalunya yang kelam.
Setibanya di mansion, Lara dan Phoenix bersiap untuk ke New York dengan mengepak sedikit baju dan menukar mobilnya.
Phoenix akan membawa mobil sendiri ke New York tanpa supir. Dia ingin menikmati perjalanan yang santai dan tak terlalu panjang ini bersama Lara.
Setelah makan siang pun, mereka berangkat menuju New York. Phoenix memakai mobil ferrari-nya yang berwarna hitam metalic.
"Aku menemui wanita tua itu kemarin," ucap Lara.
Phoenix menoleh pada Lara dan kemudian meminggirkan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi itu.
"Bukankah aku sudah melarangmu? Kau selalu lolos dari pengawasanku rupanya," ucap Phoenix sedikit menahan kekesalannya pada kekeras-kepalaan Lara.
"Aku hanya ingin sedikit berbicara padanya. Urusanku sudah selesai dengannya. Kau tak perlu khawatir," jawab Lara santai.
"Seharusnya kau tak perlu menemuinya lagi karena itu akan menimbulkan luka dan dendam baru yang tak berkesudahan," ucap Phoenix.
Lara tertawa pelan. "Aku menunggunya jika dia ingin membalasku. Tapi sepertinya dia akan membusuk di penjara itu sampai mati."
Phoenix melihat wajah Lara yang tampak senang dengan keadaan Berly saat ini.