
Davina pergi dengan rasa marah yang benar-benar membakar hatinya.
Dia memutuskan untuk langsung pulang ke New York. Dia menyuruh sopirnya untuk menjemputnya di hotel.
Dia tak akan sanggup melihat pesta pernikahan Phoenix dan Lara. Hati Davina terlalu hancur dan tak bisa menerima hal ini.
Apalagi keluarga Phoenix tak menyambutnya hangat lagi karena kehadiran Lara.
*
*
Hari pernikahan pun tiba. Lara dan Phoenix pun akhirnya sah menjadi suami istri. Semua berjalan cepat dan lancar tanpa drama apapun.
"Selamat , Sayang. Semoga kau selalu bahagia," ucap Silas memeluk Lara.
Lara membalas pelukan Silas.
"Uncle sudah menemukan wanita yang akan menjaga uncle?" tanya Lara.
Silas melepaskan pelukannya dan tertawa pelan.
"Kau tak perlu khawatir dengan hal itu. Banyak yang mengantri untuk menjagaku," jawab Silas.
Phoenix yang mendengarnya tampak tertawa pelan.
"Jagalah Lara dengan baik, Phoenix. Aku bisa mengambilnya kembali jika kau menyakitinya," ucap Silas.
"Ya, aku akan benar-benar menjaganya," jawab Phoenix.
Lalu Silas pun duduk di tempat yang sudah disediakan.
Phoenix membawa Lara berdansa di tengah lantai dansa yang sudah disiapkan.
"Aku tak suka dengan suasana seperti ini," ucap Lara yang memang tak terlalu suka pesta.
"Kelaurgaku adalah keluarga besar. Jadi bersiaplah selalu berada dalam situasi seperti ini," jawab Phoenix tersenyum.
"Besok aku akan langsung kembali bekerja. Tak akan ada bulan madu bagi kita," kata Lara.
"Aku tak masalah dengan hal itu. Kita bisa berbulan madu di mansion saja," jawab Phoenix yang kemudian mencium bibir Lara.
"Aku sedang hamil. Kau tak boleh terlalu sering melakukan hal itu," Lara mengingatkan.
Lara senang tak ada Davina di dalam pestanya. Dan dia berharap tak bertemu dengan Davina lagi seterusnya.
Tetapi niat Lara untuk menghancurkan Davina masih tetap ada. Dia ingin Phoenix tak berhubungan dengan Davina apapun bentuknya termasuk kerja sama bisnis karena hingga saat ini, Phoenix masih menjalin kerja sama dengan Davina meskipun Phoenix tak terjun langsung menanganinya.
"Besok aku akan mulai bekerja," kata Lara.
"Kau masih ingin bekerja?" tanya Phoenix.
"Hmm, aku tak suka hanya berdiam diri saja di rumah. Aku harus bekerja karena kita tak tahu bagaiman nasib kita ke depannya. Bisa saja kita berpisah atau kau meninggalkanku," jawab Lara.
Phoenix tertawa pelan. "Aku tak mungkin meninggalkanmu. Se-menyebalkan apapun dirimu, aku tak akan meninggalkanmu," kata Phoenix.
Lara menatap mata Phoenix yang juga menatapnya intens.
"I love you," ucap Phoenix.
Lara tak menjawabnya dan hanya memeluk tubuh Phoenix.
Lara masih belum percaya bahwa Phoenix begitu mencintainya. Mungkin ada perasaan takut akan kehilangan hingga dia sedikit mengontrol rasa cintanya pada Phoenix.
Lara bahkan tak pernah mrngungkapkan rasa cintanya pada Phoenix. Dia hanya takut kecewa jika seandainya realita tak seindah ekspektasinya.
Gonza dan Iris tampak berdiri berdampingan sembari melihat ke arah Phoenix dan Lara yang sedang berdansa.
"Kau tak ingin berdansa, Gonza?" tanya Iris.
"Kita sedang bertugas. Jangan bermain-main," jawab Gonza dingin.
"Nona Lara menyuruh kita berdansa bersama tadi. Jadi itu artinya kita sedang libur, Gonza," ucap Iris.
"Tak pernah ada hari libur untukku," jawab Gonza.
"Ck, kau tetap saja menyebalkan dan kaku," ucap Iris.
"Bisakah kau diam, Iris?" tegur Gonza.
"Sepertinya aku harus melakukan saran nona Lara untuk mencari pria baru daripada harus menunggumu," jawab Iris.
"Itu bagus, agar kau tak terus menggangguku," ucap Gonza.
Iris mencebik mendengar hal itu. Ingin sekali rasanya dia mencabik-cabik Gonza dan mulut pedasnya itu.