BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#96



Setelah makan malam, Lara pun berisitirahat kembali. Phoenix tetap berada di sampingnya dan tak pergi ke manapun.


Kini mereka hanya berdua di kamar. Dan Phoenix memeluk tubuhnya dari belakang serta mengusap lembut perutnya.


"Aku ingin menghilang sementara. Aku tak akan meninggalkanmu. Ijinkan aku untuk pergi sebentar saja. Hanya sementara, aku janji," ucap Lara pelan.


Phoenix menghentikan gerakan tangannya di perut Lara.


"Jika kau ingin pergi, pergilah denganku. Aku tak akan membiarkanmu sendirian. Aku tak akan bisa berpikir jika kau jauh dariku," jawab Phoenix.


"Aku akan mengikuti semua maumu. Aku janji," lanjut Phoenix dengan suara lirih.


Ya, Lara tahu jika ini akan terjadi juga. Lambat lain Phoenix pasti akan mengikuti kemauannya.


Tetapi kini yang ada di pikirannya hanyalah ingin menghilang dari segala masalahnya.


Dia ingin bayinya berkembang dengan sehat. Lara tak ingin egois. Dia ingin bayinya sehat dan lahir dengan selamat tanpa kendala apapun.


Lara tak mau kehilangan bayinya. Inilah yang diinginkannya sejak dulu. Memiliki sebuah keluarga. Lara tak ingin kehilangan satu-satunya darah dagingnya.


Lara mulai menekuk tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di bawah lengannya.


Lara ingin menangis tetapi dia terlalu gengsi melakukannya. Dia tak ingin dianggap lemah da cengeng bahkan oleh Phoenix -- suaminya.


Lara menahannya hingga tubuhnya bergetar dan Phoenix merasakannya.


Phoemix semakin erat memeluknya. Dia tahu Lara sedang berada di titik emosi terbawahnya.


"Menangislah jika kau ingin menangis. Menangis terkadang bisa meringankan bebanmu," bisik Phoenix.


Lara sudah terlalu lama tak menangis. Tetapi kehamilannya membuat dirinya terlalu mellow.


Phoenix merasa Lara mulai sedikit terbuka padanya. Phoenix ingin lebih tahu banyak tentang Lara dari mulut Lara sendiri, bukan dari cerita orang lain.


Phoenix mengusap lengan Lara tanpa mengatakan apapun karena Lara hanya ingin didengarkan.


"Aku tak suka menceritakan tentang kehidupanku yang dulu. Aku tak mau menjual cerita sedihku hanya untuk mencari simpati orang. Aku anti dengan hal seperti itu karena aku tak suka dikasihani. Harga diriku terlalu tinggi hingga banyak orang menganggapku sombong," lanjut Lara.


"Aku tak ingin terlihat lemah di mata siapapun. Aku kuat, aku tak boleh lemah karena aku hanya sendirian di dunia ini. Itulah yang selalu terngiang di otakku. Kata-kata kak Velvet yang selalu menjadi acuanku untuk tetap menjalani hidup."


"Kau tak sendirian sekarang. Aku dan keluargaku adalah keluargamu," kata Phoenix akhirnya.


"Tidak, aku belum merasa seperti itu," jawab Lara.


"Kita akan pergi sementara waktu dari sini," ucap Phoenix.


Lara tak menjawab apapun dan kini hanya terdiam.


"Aku ingin kita lebih saling mengenal. Jujur, aku tak terlalu mengenalmu. Hubungan kita berjalan terlali cepat hingga kita sama sekali tak saling mengenal.


Lama tak ada pembicaraan, hingga akhirnya Lara dan Phoenix pun sama-sama tertidur lelap.


Lara begitu nyaman dengan usapan tangan Phoenix di tangannya hingga membuatnya tertidur.


Velvet yang sedari tadi berada di luar pintu kamar Phoenix tampak mendengarkan percakapan mereka.


Bukan berniat menguping, tetapi dia hanya ingin memastikan bahwa Lara baik-baik saja dan tak ada masalah lagi dengan Phoenix.


Velvet menutup perlahan pintu kamar Phoenix yang sedikit terbuka itu lalu berbalik menuju kamarnya yang ada di sebelah persis kamar Phoenix.