BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#106



"Kau benar-benar tak akan kulepaskan, Nenek Tua. Kau akan membusuk di penjara. Aku akan pastikan hal itu," ucap Lara dingin dengan mata tajamnya yang menusuk ke arah Berly.


Tangannya masih tetap mencekik leher Berly. Sudah banyak orang yang mengerubungi mereka.


Beberapa menit kemudian, mobil ambulance dan polisi pun tiba di tempat. Lara melihat dari jauh Iris yang dibawa menuju ambulance.


Matanya mengarah ke arah Lara dan air matanya menetes.


"Maaf, Iris ..." gumam Lara lirih.


"Nona ... Kami akan mengamankan wanita ini. Sekarang berdirilah," ucap salah satu polisi.


PLAK... PLAK ...


Lara menampar keras pipi Berly sebelum dirinya berdiri. Polisi hanya bisa melihatnya tanpa bisa melakukan apapun.


"Lihatlah nanti. Kau tak akan kulepaskan," ucap Lara dengan pandangan dinginnya pada Berly.


"Seharusnya kau mati, LARA!!! KAU HARUS MATI!!!" teriak Berly.


"Lihatlah, dia ingin membunuhku, Pak Polisi. Ini bisa menjadi bukti bahwa dia akan melakukan rencana pembunuhan padaku," kata Lara.


"Ya, kami akan memproses ini. Anda jangan khawatir," jawab polisi itu dan segera meringkus Berly kemudian memasukkannya ke dalam mobil polisi.


Baru 2 langkah, Lara tiba-tiba terjatuh lunglai hingga beberapa polisi yang masih berada di sana menangkap tubuhnya agar tak sampai terjatuh ke bawah.


"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya seorang polisi wanita pada Lara.


"Tolong bawa aku ke rumah sakit. Aku sedang hamil. Aku takut terjadi apa-apa dengan bayiku," ucap Lara khawatir.


Lalu tanpa berkata apapun polisi wanita itu yang dibantu oleh polisi lainnya menggendong Lara ke dalam mobil patroli polisi.


"Antar aku di rumah sakit yang sama dengan temanku tadi," kata Lara lemas.


"Baik, sekarang beristirahatlah. Anda jangan khawatir karena jarak rumah sakit tak terlalu jauh," jawab polisi wanita itu.


*


*


"APA???"!!! teriak Phoenix ketika baru mengetahui kabar insiden yang di alami Lara dan Iris dari sang asisten.


Sesampainya di lobby, Phoenix langsung masuk ke mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.


Tak sampai berapa lama, Phoenix pun tiba di rumah sakit di mana Lara serta Iris di rawat.


Gonza yang berada di depan ruang UGD menghampiri Phoenix.


"Maaf, Tuan. Aku tak berada bersama nona Lara tadi," Gonza menunduk.


"Di mana istriku?" tanya Phoenix.


"Nona di ruangan itu. Dokter masih merawatnya dan memberinya infus. Nona mengalami sedikit shock karena kehamilannya," jawab Gonza.


"Bagaimana dengan Iris?" tanta Phoenix.


"Iris ada di ruang operasi," sahut Gonza.


"Oh God ... Jagalah Iris. Aku akan menemani Lara," kata Phoenix.


Phoenix langsung menuju ke ruangan di mana Lara di rawat sementara saat ini. Sedangkan Gonza menuju ruangan operasi dan akan menunggu di sana sampai Iris selesai di operasi.


Phoenix melihat Lara yang tampak memejamkan matanya. Dia menghampiri Lara dan memegang tangannya.


"Honey ... Maafkan aku." Phoenix menciumi wajah Lara.


Lara membuka matanya.


"Bagaimana keadaan Iris?" tanya Lara.


"Dia masih dioperasi," jawab Phoenix mencium tangan Lara.


"Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Lara lirih dan tak terasa air matanya menetes.


"Dia akan baik-baik saja. Kau harus tenang, oke? Iris akan baik-baik saja." Phoenix memeluk tubuh Lara dan kemudian Lara menangis sesenggukan.


"Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya, hmm? Darahnya keluar terlalu banyak tadi dan pisau itu menancap begitu dalam di perutnya."


Lara semakin menangis dan Phoenix memeluknya semakin erat. Tak terbayang olehnya jika yang ditusuk tadi adalah Lara dan bayinya.


Phoenix begitu murka memikirkan hal itu. Dia tak akan memberi ampun pada Berly.