
Lara mendekati Davina dan menatapnya sinis lalu tertawa.
"Kau lucu sekali. Aku yang menderita di sini dan kau yang seakan tersakiti? Sikap manjamu itu tetap tak berubah. Kau melakukan hal ini karena kau tak ingin keluarga Robert membencimu dan membuat posisimu aman. Aku sangat tahu otak licikmu, Davina. Kau ingin aku memaafkanmu? Berikan perusahaanmu padaku," ucap Lara.
Davina terdiam karena ucapan Lara itu.
"Kau tak bisa melakukannya, bukan?" kata Lara.
"Kau baik-baik saja, Lara. Kau bahkan sudah kaya dan bahagia. Perbuatanku padamu dulu tak berpengaruh untuk hidupmu sekarang, bukan?" kata Davina yang membuat Lara marah.
Lara mendorong tubuh Davina hingga terbentur ke dinding lalu Lara menjambak rambutnya hingga ikatannya terlepas.
"Aaww ..." teriak Davina kesakitan.
"Kau lupa bahwa kau telah membuatku menumpuk dendam padamu sejak kita sekolah? Kau membullyku, menendangku, memukulku, menghinaku dan kau bahkan membuatku hampir kehilangan kehormatanku, Davina. Kau manusia kotor, Davina. Kau sangat kotor dan aibmu itu hanya aku yang mengetahuinya. Aku bisa saja membuatmu dibenci oleh keluarga ini tapi tidak akan kulakukan karena itu tidak terlalu menyakitkan menurutku," ucap Lara lirih dengan penuh kebencian di depan wajah Davina.
Lalu Lara menghempaskan kepala Davina ke bawah hingga kepala Davina terbentur lantai dan berdarah.
"Lara!! Hentikan!!" teriak Galy yang kebetulan akan masuk ke kamarnya bersama Rey.
Lara mundur dan masih menatap tajam ke arah Davina yang tampak memegang kepalanya yang berdarah.
"Apa yang kau lakukan, Lara?" ucap Rey yang masih tenang tak seperti Galy yang sudah khawatir melihat darah di kepala Davina yang mulai menetes ke wajahnya.
"Dia tersandung kakiku, benar kan Davina?" ucap Lara.
"I-iya itu benar, Aunty. Aku terjatuh karena tidak melihat Lara di depanku," kata Davina.
"Aku akan mengobati lukamu," ucap Galy yang jelas-jelas melihat Lara dengan sengaja menghempaskan kepala Davina ke lantai tadi pas dia masuk ke dalam mansion begitu juga dengan Rey.
"Ada apa ini?" tanya Phoenix.
"Dia terjatuh ketika berpapasan dengan Lara," jawab Rey.
"Kau sengaja melakukan hal ini padanya, bukan?" tanya Phoenix dengan memicingkan matanya.
"Tanyalah sendiri padanya," jawab Lara datar.
"Tidak, Phoenix. Aku benar-benar terjatuh," ucap Davina yang kini telah berdiri dan Galy memapahnya ke dalam untuk mengobati lukanya.
Phoenix masih melihat ke arah Lara dan Lara mengedikkan bahunya dengan santai lalu keluar dari mansion menuju ke arah pesta berlangsung.
Lara tak peduli jikalau pun keluarga Phoenix menganggapnya orang jahat. Who cares? Itu yang ada di pikiran Lara.
"Phoenix, panggil dokter," perintah Rey.
"Ya, Dad," jawab Phoenix kemudian menelepon dokter menggunakan ponselnya.
Lalu Phoenix menyusul Davina yang kini ada di kamar tamu dimana Davina tidur di sana selama berada di New Jersey sejak kemarin.
"Are you oke?" tanya Phoenix sedikit panik.
"Aku tidak apa-apa," jawab Davina.
"Aku tak habis pikir mengapa Lara begitu jahat padamu. Aku tahu bahwa dia sengaja melakukan hal itu padamu," ucap Phoenix.
"Aku benar-benar tersandung, Phoenix. Itu bukan salahnya," ucap Davina.
"Davina, aunty melihat apa yang terjadi tadi. Lara sengaja menghempaskan kepalamu ke lantai. Mengapa kau menutupi perbuatannya? Apa karena rasa bersalahmu padanya? Dan membuatmu menerima semua perlakuan jahatnya padamu? Kau tak boleh seperti itu, Davina. Jauh-jauhlah darinya agar kau tak terluka lagi. Bagaimana jika tadi kami tak masuk ke mansion? Dia bisa saja melakukan hal yang lebih jahat lagi padamu," kata Galy geram.
"Tapi yang aku lakukan padanya memang sangat jahat, Aunty. Aku akan menerima apapun yang akan dia lakukan padaku. Aku pantas menerimanya," ucap Davina.
Phoenix menjadi hilang respect pada Lara atas perbuatannya pada Davina kali ini.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA..