
Dua minggu berlalu ...
"Iris? Kau di sini?" tanya Lorris yang tampak kaget melihat Iris berada di rumah nenek Gonza.
"Mom?" Iris melihat Lorris juga dengan wajah terkejutnya.
"Bagaimana bisa kau ada di sini sementara kuncinya ada pada mommy?"
"Dia bersamaku," jawab Gonza yang keluar dari arah dapur.
"Gonza? Kau di sini? Wait, apa yang kalian lakukan berdua di sini? Jangan bilang kalian ..." ucapan Lorris menggantung.
"Kami sudah menikah. Dan kami kemari untuk mengatakan hal itu pada bibi," ucap Gonza dengan tenang dan menghampiri Lorris.
"Apa???? Kalian sudah menikah???" ucap Lorris seakan tak percaya.
"Ya, kami sudah menikah, Mom. Gonza melamarku dan aku menerimanya," jawab Iris akhirnya.
"Kau serius, Gonza?" tanya Lorris yang masih tak percaya.
"Apakah aku harus menunjukkan surat nikah kami?" ucap Gonza.
"Oh my ... Kalian hampir saja membuatku serangan jantung." Lorris memegang dadanya karena masih terkejut dengan hal ini.
"Duduklah, Mom." Iris menggandeng sang ibu dan mendudukkannya di kursi.
"Bagaimana bisa? Apa kau menyukai putriku, Gonza? Jangan sampai kau mempermainkannya. Karena aku tak ingin dia gagal untuk kedua kalinya," ucap Lorris.
"Pernahkah bibi melihatku tak serius? Aku bukan orang yang suka membuang-buang waktu dengan percuma," jawab Gonza.
"Mengapa kalian tak mengatakannya padaku sebelumnya?" tanya Lorris.
"Dia begitu mendadak melamarku, Mom. Dan aku dengan cepat menjawabnya agar dia tak berubah pikiran," jawab Iris apa adanya.
Secara spontan Lorris memukul punggung Iris cukup keras karena merasa gemas.
"Awwww, Mom!!" teriak Iris.
"Bisakah tak memukulnya?" ucap Gonza berdiri dan menghampiri Iris.
Lorris cukup terkejut dengan reaksi Gonza yang begitu perhatian pada Iris.
"Duduklah," ucap Gonza pada Iris.
"Kalian tak mengadakan pesta?" tanya Lorris lagi.
"Why?" tanya Lorris.
"Pesta tak ada gunanya buatku, Mom. Aku malas dengan hal-hal seperti itu. Apalagi ini pernikahan keduaku," ucap Iris.
"Ya, ini memang pernikahan keduamu tapi kau masih perawan waktu bercerai. Jadi anggap saja ini pernikahan pertamamu," ucap Lorris frontal.
"Uuuhhh, Mooomm," ucap Iris malu karena mengingatkan hal itu lagi dan sampai sekarang pun dia masih perawan.
"Sudah, mommy pulang saja. Aku sudah membersihkan rumah ini," kata Iris yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Lorris ke pintu sebelum berbicara macam-macam lagi yang membuatnya malu pada Gonza.
"Hei, ada apa? Kau mengusir mommy?" tanya Lorris heran.
"Aku malu mommy berbicara seperti itu di depan Gonza," bisik Iris ketika mereka sudah ada di beranda depan rumah.
"Kalian sudah melakukannya?" tanya Lorris dengan ke-kepo-an yang maksimal.
"Mom, please, pergilah sekarang," ucap Iris yang kini wajahnya memerah.
"Baiklah, baiklah. Mommy tak akan mengganggu bulan madu kalian." Lorris mengerlingkan matanya tanda dia mengerti.
"Mom ..." bisik Iris sembari membelalakkan matanya.
Lalu Lorris pun pergi dari sana setelah mencium kedua pipinya.
"Huuuffttt." Iris menghembuskan nafasnya perlahan seakan lega ketika Lorris pulang.
Lalu Iris berbalik dan melihat Gonza sudah berdiri di depan pintu dengan tangan yang terlipat di depan dada.
Iris menundukkan kepalanya dan beranjak masuk melewati Gonza.
"Perutmu masih sakit?" tanya Gonza ketika Iris melewatinya.
"T-tidak," jawab Iris gugup.
Lalu Gonza menutup pintunya dan berjalan di belakang Iris.
Tiba-tiba Gonza menahan tangan Iris dan membuat Iris menghentikan langkahnya.
'Oh God ... Apa yang akan dia lakukan?' batin Iris gugup.