
5 hari berlalu, Lara tak pernah melihat Phoenix lagi. Menurut asisten Lara, Phoenix sedang berada di New York untuk perjalanan bisnis.
Lara tampak duduk di kursi kebesarannya. Jari-jemarinya memainkan pulpen mahal yang merupakan hadiah dari Tuan Silas.
Pikirannya melayang pada sosok Phoenix. Tak bertemu dengannya selama 4 hari cukup membuatnya berpikiran yang tidak-tidak hingga dia menyuruh anak buah Gonza mengawasi Phoenix di New York.
Dan salah satu laporan anak buahnya mengatakan bahwa Phoenix beberapa kali terlihat bersama Davina dan itu benar-benar membuatnya kesal.
Lara menggenggam erat pulpen yang dipegangnya.
"Jadi kau menghindariku, Phoenix?" geram Lara.
Lara tak bisa melakukan apapun karena dia memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Phoenix seakan sengaja menghindarinya dengan menyuruh para asistennya setiap perusahaan mereka mengadakan meeting bersama.
Lalu Lara beranjak dari kursinya dan segera keluar dari ruangannya. Sesampainya di lobby, Lara langsung meuju mobil dan mengganti bajunya lalu mengendarai mobilnya sendiri. Gonza tetap setia mengikutinya dari belakang.
Lara menuju sebuah club malam dan ingin merefresh pikirannya yang sedang suntuk. Gonza masih setia menemaninya. Jadi tak ada yang bisa menyentuh atau pun menggoda Lara karena hal itu.
Lara turun ke lantai dansa dan menari dengan sepuasnya hingga berkeringat. Lara sementara menghentikan kebiasaan merokoknya serta minum-minumnya karena takut dirinya sedang hamil. Entah mengapa Lara sangat berharap akan hal itu.
Setelah cukup lama menari menikmati musik DJ, Lara pun menuju meja bar dan meminta air putih serta jus jeruk pada bartender. Gonza memperhatikan hal itu.
"Ini sudah malam, Nona," ucap Gonza di dekat telinga Lara.
"Hmm, baiklah," jawab Lara dan menghabiskan jus jeruknya.
Lalu Lara berjalan menuju ke arah pintu dan sekilas dirinya melihat sosok Phoenix yang ada di antara kerumunan yang ada di lantai 2.
'Jadi dia sudah ada di sini?' batin Lara yang masih berjalan dan tepat sekali di depannya ada pria tampan yang memandanginya.
"Kau mau menari denganku?" tanya Lara di telinga pria asing yang tampan itu.
"Kau hanya sendiri? Aku merasa tersanjung ada wanita cantik yang mengajakku," pria itu tersenyum manis dan merengkuh pinggang Lara.
Gonza yang berada di belakangnya melepas tangan pria itu dari pinggang Lara.
"Tak masalah, Gonza. I'm okey," ucap Lara menoleh pada Gonza.
"Dia bodyguardmu?" tanya pria itu.
"Hmm," jawab Lara.
"Kita lanjutkan di luar?" pria itu menaruh minumannya di meja.
Lalu tangan pria itu memegang tangan Lara dan membawa Lara menuju pintu keluar. Belum sampai pintu, tangan kanan Lara tampak tertahan oleh sebuah tangan lain.
Lara menoleh ke arah si empunya tangan itu.
"Hei ... Dia milikku, lepaskan tangannya," ucap pria asing itu.
Phoenix tak menjawab dan melepaskan tangan pria itu dari tangan Lara.
"Kau ingin membuat masalah?" kesal pria itu.
Lalu tampak security datang dan menarik tangan pria itu keluar.
"Hei ... Apa yang kalian lakukan? Seharusnya dia yang kalian bawa keluar!" marah pria itu.
"Dia salah satu pemilik club ini, Tuan," kata 2 security itu sembari menyeret pria itu keluar.
Lara melipat tangannya di depan dadanya.
"Kau mengganggu acaraku, Tuan," ucap Lara di telinga Phoenix.
"Pulanglah," balas Phoenix dengan wajah dinginnya.
"Baiklah, aku akan menyusul pria itu, Bye," kata Lara berbalik tetapi sekali lagi Phoenix menahan tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan dengannya? Apa kau wanita murahan, Lara?" ucap Phoenix.
Gonza mencoba maju tetapi Lara menahan dadanya agar tak ikut campur.
"Kau berpikir aku akan tidur dengannya? No ... Of course not, Honey. Hanya kau yang boleh menyentuhku," ucap Lara di telinga Phoenix dan menjilatnya.
"Aku hanya ingin bersenang-senang dengannya," lanjut Lara tersenyum miring.
Phoenix mengambil tas Lara dan mengambil kunci mobilnya kemudian memberikannya pada Gonza.
"Dia akan pulang bersamaku, Gonza," ucap Phoenix dan kemudian menarik tangan Lara keluar.