
Lara tampak duduk di depan kolam renang yang terdapat air terjun buatan di sana.
Wajahnya tampak sumringah dan tersenyum sembari memakan bola-bola coklatnya yang di belinya semalam.
Phoenix terlihat berjalan menuju tempat Lara duduk kemudian mengecup puncak kepalanya.
"Kau terlihat bahagia, Honey. Aku senang melihatnya," kata Phoenix.
"Air terjun itu sangat indah. Bisakah kau membuatnya di mansion kita nanti?" tanya Lara.
Phoenix tersenyum dan duduk di sebelah Lara lalu merangkul bahunya.
"Hmm, nanti akan kubuatkan yang lebih besar dari ini."
Lara menyunggingkan senyum cantiknya dan memeluk Phoenix sembari masih mengunyah coklat yang lumer di dalam mulutnya itu.
Suara air terjun yang cukup menyejukkan di telinga Lara, membuat perasaanya menjadi tenang.
Apalagi sang anak buah baru memberikan kabar membahagiakan baginya.
Rencananya berjalan sangat lancar dan telak mengenai sasaran.
Lara memainkan rencananya dalam diam. Dia mencari kelemahan Davina yang lain dan dia menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Berly selama 1 minggu lamanya.
Hingga akhirnya Lara menemukan cara untuk menghancurkan wanita culas itu dan putri semata wayangnya dengan cara sederhana, cepat serta tepat sasaran.
Lara mengetahui tentang kebiasaan judi Berly dan hidupnya yang glamour. Tak susah bagi Lara untuk menjalankan rencananya itu tanpa ketahuan oleh keluarga Robert.
Lara tak pernah ke manapun secara raga, tetapi dia menggerakkan semua anak buah bayangannya untuk bertindak.
Lara juga tak pernah membiarkan siapapun bisa menyadap ponselnya. Dan itu adalah ajaran dari Gonza.
"Aku cukup puas di sini. Besok aku ingin pulang." Lara mengusap dada bidang Phoenix yang menjadi tumpuan wajahnya di dalam pelukan pria tampan itu.
"Ya, kita pulang besok." Phoenix mengecup puncak kepala Lara dengan senyumnya yang tersungging.
"Kau masih mual?" tanya Lara menengadahkan kepalanya menghadap wajah suaminya.
Lara tersenyum dan mengecup bibir sexy yang tersaji di depannya
"Kau memiliki bentuk bibir yang sempurna untuk ukuran seorang laki-laki," ucap Lara sambil mengusap bibir Phoenix dengan jari lentiknya.
Senyum Phoenix mengembang mendengar ucapan Lara yang hampir seperti pujian baginya. Lara jarang mengucapkan sesuatu seperti itu dan seketika membuat Phoenix gemas mendengarnya.
Phoenix menangkup pipi Lara dengan tangannya lalu menyesap bibirnya dalam-dalam. Kemudian melanjutkannya dengan menciuminya bertubi-tubi hingga terdengar suara-suara kecupan yang cukup keras.
Phoenix mengangkat tubuh Lara dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Kita berenang?" tanya Lara sambil memain-mainkan bibirnya di atas bibir Phoenix.
"Aku tak yakin kita benar-benar akan berenang," lirih Phoenix dengan menggigit-gigit kecil bibir Lara yang bermain di atas bibirnya.
"Kita bisa bicarakan hal itu nanti," jawab Lara tersenyum nakal.
"Aku lebih suka kita berenang di ranjang." Suara Phoenix semakin terdengar sexy di telinga Lara.
Lara tertawa kecil kemudian melumaat bibir Phoenix.
Tangannya mengusap halus leher kokoh Phoenix serta memajukan tubuhnya agar lebih menempel dengan tubuh suami sexynya itu.
"You're so sexy," bisik Lara di sela-sela ciumannya.
"Sejak tadi kau memujiku. Apa kau menginginkan sesuatu, Baby?" Phoenix memainkan lidahnya di bibir Lara yang terbuka.
"Hmm, i want you," lirih Lara.
"Oke, I will grant it. Aku akan memuaskanmu siang ini," sahut Phoenix yang kemudian menggendong Lara menuju kamar mereka.