
"Mengapa kita harus pulang ke apartemen?" tanya Lara yang kini sedang berada di dalam mobil Phoenix menuju apartemen mereka.
"Agar tak akan ada yang mengganggu malam kita," jawab Phoenix.
"Apa kita masih memerlukan malam pertama?" tanya Lara yang disambut tawa oleh Phoenix.
"Keluarga besarku sedang berkumpul semua. Dan kau belum tahu betapa mengganggunya mereka," jawab Phoenix.
"Malam ini aku tak ingin melakukan apapun. Kau tak keberatan, kan?" kata Lara.
"Kita memang tak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin memelukmu saja dan mengobrol ringan denganmu," jawab Phoenix.
Lara menanggapinya hanya dengan anggukan saja. Tak lama kemudian mereka pun tiba di apartemen mereka. Kini mereka masuk ke dalam apartemen Lara bukan Phoenix.
Phoenix yang tak pernah masuk ke dalam apartemen Lara tampak mengedarkan pandangannya. Tak ada yang berubah dari design asli apartemen ini.
Dan apartemen Lara terlihat sangat rapi bahkan terlalu rapi hingga tak ada barang yang keluar dari tempatnya.
Phoenix membuka jasnya dan menaruhnya di sandaran kursi sofa tengah lalu dia membuka gorden di jendela raksasa itu.
Tampak pemandangan kota New Jersey yang berkelap-kelip. Lara menuju dapur dan meminum air mineral yang ada di dalam kulkasnya.
Setelah itu, Lara menuju ruang tengah dan mengambil jas Phioenix yang diletakkan di atas kursi tadi, Lara tak suka dengan ketidak-rapian. Lara membawa jas Phoenix ke kamarnya dan menggantungnya di lemari karena besok dia akan mengirimnya ke binatu bersama gaun pengantinnya juga,
Phoenix tersenyum tipis melihat hal itu. Dia berdiri di belakang Lara dan membantu membukakan resleting gaunnya yang ada di belakang punggungnya.
Phoenix mengecup bahu putih Lara yang terbuka dan dilanjutkan mengecupi tengkuk leher Lara yang terpampang nyata karena rambut Lara di gelung ke atas.
Lalu Phoenix membuka gelungan rambut Lara dan mengurainya. Lara membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Phoenix yang selalu terlihat tampan itu.
"Kita mandi bersama?" tanya Phoenix dengan suara lirih dan tangan yang membuka gaun Lara.
"Aku akan mengisinya dengan air hangat terlebih dulu," kata Phoenix dan berjalan menuju kamar mandi.
Lara melanjutkan membuka pakaiannya dan juga pakaian dalamnya hingga akhirnya kini dia tak sama sekali tak mengenakan apapun.
Lara berjalan menuju kamar mandi dan mengambil handuk pendek di yang ada di lemari dekat wastafel besarnya.
"Sudah?" tanya Lara.
Phoenix menoleh dan mulai membuka pakaiannya lalu meletakkannya di atas lantai marmer hitam itu.
Lara menggelengkan kepalanya dan mengambil pakaian Phoenix yang berceceran di lantai.
"Keranjang pakaian ada di pojok ruangan. Kau bisa menaruh pakaian kotormu di sana," ucap Lara sambil memasukkan pakaian Phoenix ke dalam keranjang kotor.
"Hmm, tapi aku lebih suka kau yang menaruhnya," jawab Phoenix dan mulai masuk ke dalam bathtub.
"Kemarilah," kata Phoenix.
Kemudian Lara membuka handuknya dan masuk ke dalam bathtub berisi air hangat dan busa sabun yang melimpah itu.
"Aaahhh ... Rasanya sangat nyaman sekali," kata Lara dan Phoenix memeluk perut Lara hingga Lara bersandar padanya.
Tangan Phoenix mulai memijat dada Lara dengan lembut dan membuat Lara memejamkan matanya.
"Kau sengaja melakukan hal itu?" tanya Lara.
"Ada sesuatu yang indah di dekatku. Aku tak mungkin mengabaikannya," jawab Phoenix menciumi tengkuk leher Lara.
"Aku yakin kita akan berakhir di ranjang," ucap Lara dan membuat Phoenix tertawa pelan.