BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#116



"Apa? Kalian akan menikah?" ucap Lara kaget mendengar pernyataan Gonza bahwa dia dan Iris akan menikah.


"Kau serius, Gonza?" tanya Phoenix.


Pagi ini, Gonza mendatangi apartemen Phoenix dan mengatakan tentang niatnya ini pada para bosnya.


"Ya, aku sangat serius, Tuan," jawab Gonza.


"Kapan kalian akan menikah? Aku akan menyuruh pengacaraku mengurus berkasnya," tanya Phoenix lagi.


"Dalam minggu ini atau secepatnya, Tuan," jawab Gonza.


Phoenix mengangguk.


"Kalian tak mengadakan pesta?" tanya Lara.


"Tidak, Nona."


"Why?"


"Iris dan aku sepakat akan hal itu. Lagi pula Iris masih dalam proses penyembuhan," jawab Gonza.


"Setelah menikah, pergilah ke villa kami yang ada di perbukitan. Aku meliburkanmu selama 1 bulan penuh. Kau bisa merawat Iris dengan fokus jika ada di sana," ucap Phoenix.


"Ya, itu ide yang bagus," timpal Lara.


"Baiklah, Nona. Terima kasih," jawab Gonza dengan nada datar seperti biasanya.


"Aku permisi dulu, Tuan, Nona," ucap Gonza.


"Hmm," jawab Phoenix singkat.


Lalu Gonza pun keluar dari apartemen dan langsung pulang ke apartemennya sendiri karena dia tak ingin meninggalkan Iris terlalu lama.


"Apakah wajahnya selalu datar seperti itu?" tanya Phoenix pada Lara yang kini duduk di pangkuannya.


"Ya, dia bahkan tak pernah tersenyum sama sekali sejak aku mengenalnya," jawab Lara melingkarkan tangannya pada leher Phoenix.


"Aku penasaran bagaimana dengan malam pertamanya. Apakah dia akan mendesah?" tanya Phoenix dengan randomnya.


Lara spontan memukul bahu Phoenix karena ucapan gilanya itu.


"Aku hanya penasaran saja," ucap Phoenix.


"Apa kau mau melihatnya?" tanya Lara sembari menggigit tangan Phoenix dengan gemas.


"Oooh itu menjijikkan, Baby. Aku lebih suka mengadakan pertujukan ranjang sendiri denganmu," jawab Phoenix dan merebahkan tubuh Lara di sofa empuknya.


"Kau tak ke perusahaan?" tanya Lara dan mengusap lembut pipi Phoenix.


"Nanti siang saja. Aku ingin membuatmu mendesah pagi ini." Phoenix tersenyum dan mulai mencium bibir Lara dengan lembut.


"Bagaiman hasil pengadilan ibu Davina?" tanya Lara.


Phoenix melepaskan tangan Lara yang menutupi mulutnya kemudian menciumnya.


"Dia dihukum 15 tahun penjara." Phoenix kembali mencium bibir Lara.


Lara menahan bibir Phoenix kembali.


"Lalu bagaimana dengan Davina?" tanya Lara.


"Aku tak tahu dan aku tak ingin tahu. Yang pasti aku selalu mengawasimu dari jauh agar Davina tak bisa menemuimu," jawab Phoenix.


"Tapi aku ingin menemuinya," ucap Lara.


"Untuk apa?"


"Untuk melihat wajah menyedihkannya," jawab Lara santai.


"Jika aku tak mengizinkan kau bertemu dengannya apa kau akan tetap menemuinya?" tanya Phoenix.


Lara mengangguk.


Phoenix melihat mata biru Lara dan menaikkan alisnya. Lalu Phoenix mencium bibir Lara tanpa bisa dicegah lagi oleh Lara.


Phoenix tak ingin Lara membahas hal itu lagi karena itu membuatnya semakin rumit dan pusing. Phoenix tak memberi kesempatan Lara untuk berbicara lagi dan dia tertawa pelan karena Lara berusaha melepaskan bibirnya dari ciuman bibir Phoenix.


Hingga akhirnya Lara menyerah dan mengikuti permainan panas Phoenix di pagi yang cerah ini. Lara menciumi leher Phoenix yang akan selalu menjadi tempat favoritnya.


Menurut Lara, Phoenix memiliki wangi tubuh yang sangat harum dan tak pernah sekalipun dia mencium bau dari tubuhnya sekalipun Phoenix berkeringat. (Eaaaakkk🤣)


"Kita lakukan di sini?" tanya Lara.


"Hmm, bukankah sofa ini cukup lebar dan empuk? Kita bahkan bisa melakukan banyak gaya bercinta di sini," jawab Phoenix tersenyum nakal.


"Aku sedang hamil jika kau lupa," ucap Lara.


Phoenix tertawa. "Aku akan melakukannya dengan amat sangat lembut hingga kau tak ingin menyuruhku berhenti," ucap Phoenix dan mulai membuka baju Lara.


(YAaaaakkk ... Silahkan bertravelling maaakk😜)


PHOENIX



LARA