BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#115 (EDISI IRIS-GONZA)



Gonza kemudian mendekati Iris yang duduk di sofa dan kemudian duduk berlutut di depannya.


Gonza menatap mata Iris dengan sangat dekat dan semakin lama jarak wajah mereka semakin dekat. Iris tak pernah sedekat ini dekat Gonza.


Hal ini membuat dirinya sedikit menahan nafasnya karena nafas Gonza bahkan terasa di wajah cantiknya.


"Aku tak menikahi sembarang wanita. Dan kau cukup lama mengenalku begitu juga diriku. Aku tak perlu berpura-pura menjadi orang lain karena kau sudah sangat mengenalku dan sikapku. Tak semua orang bisa mengerti aku."


"Aku hanya akan melamarmu sekali. Jika kau menolak, aku tak akan mencobanya lagi karena kupikir itu sesuatu yang percuma," ucap Gonza.


Iris melihat mata Gonza yang menatapnya dengan sangat intens. Dia terdiam lama hingga Gonza menjauhkan wajahnya dari Iris.


"Baiklah, aku mau," jawab Iris akhirnya.


Tak ada perubahan ekspresi dari wajah Gonza atas jawaban Iris itu. Gonza mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Iris.


Iris menggigit bibirnya karena masih tak percaya Gonza melamarnya secepat itu. Tidak, ini bukan waktu yang cepat. Dia sudah menyukai Gonza selama 10 tahun lamanya dan sekarang adalah hasilnya.


Meskipun Iris tak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Gonza padanya.


"Apakah nanti kau akan bisa mencintaiku?" tanya Iris jujur.


"Kita akan hidup berdampingan. Saling membutuhkan satu lama lain itu lebih dari kata cinta, bukan? Kau sangat mengenalku dan aku tak suka dengan kata-kata melankolis seperti itu. Aku harap kita cukup saling mengerti," jawab Gonza.


"Hmm, aku sangat mengenalmu dan bisa hidup bersamamu saja sudah membuatku bahagia," jawab Iris pelan.


Gonza masih menatapnya tanpa ekspresi dan justru itu yang selalu membuat jantung Iris berdetak sangat kencang.


"Jangan menatapku seperti itu," ujar Iris mengalihkan pandangannya.


"Aku akan memberi tahu hal ini pada bibi Lorris," kata Gonza.


"Tapi lukaku belum sembuh sepenuhnya," jawab Iris.


"Aku akan bilang padanya kita akan menikah di catatan sipil tanpa pesta apapun," ucap Gonza.


"Apakah itu harus dipermasalahkan? Tidak, kan?" ucap Gonza.


Ini adalah obrolan terpanjang yang pernah dilakukan antara Gonza dan Iris.


"Terima kasih," jawab Iris.


"Aku akan mengatakan hal ini pada nona Lara dan tuan Phoenix besok," kata Gonza lagi.


Iris mengangguk. Entah apa yang dirasakannya sekarang. Semua rasa di dadanya kini terasa campur aduk. Dia tak bisa menggambarkannya karena hal ini terlalu tiba-tiba.


"Baiklah, aku akan memasak makan malam," ucap Gonza.


"Aku akan membantumu," sahut Iris.


"Tidak perlu, kau tak boleh terlalu banyak bergerak. Luka dalammu masih basah meskipun terlihat sedikit kering di bagian luarnya," jawab Gonza.


Iris pun tersenyum dan mengikuti perintah Gonza. Tapi sebenarnya dia sangat ingin bergerak karena tubuhnya terasa kebas akibat sama sekali tak pernah bergerak selama sakit.


"Apakah aku boleh berjalan sebentar saja?" tanya Iris.


"Tidak." Itulah jawaban mutlak dari Gonza ketika Iris meminta izin padanya untuk melakukan sesuatu.


"Huuffttt, baiklah," jawab Iris dengan pasrah.


Lalu Iris menyalakan televisinya dan Gonza menuju dapur. Gonza cukup pintar memasak karena terbiasa hidup sendiri sejak lama serta pengalamannya selama menjadi anggota militer dulu.


(EDISI IRIS DAN GONZA hanya selingan ya.. hanya cm beberapa episode aja.. ntar topik utamanya tetap dari LARA N PHOENIX)