BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#55



Keluar dari apartemen Phoenix, Lara langsung memasang wajah dinginnya kembali.


Dia berjalan beberapa langkah menuju pintu apartemennya dan memencet tombol kode kunci dan kemudian masuk.


Lara langsung membuka baju Phoenix dan berjalan tanpa memakai apapun menuju kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Lara berdiri di bawah shower dan menyalakan air.


Lara termenung dan tak ada keraguan sama sekali di matanya setelah apa yang baru saja dilakukannya bersama Phoenix.


'Phoenix ... Kau kah laki-laki itu?' batin Lara dibawah shower.


Setelah mandi, Lara memakai handuknya dan langsung menuju walking closet kemudian mengambil jaket keramatnya.


Lara mengusap bordiran benang emas yang ada di bagian leher jaket itu. Di sana tertulis kata "PHOENIX".


Lara mencium dalam-dalam wangi jaket itu berharap menemukan sisa wangi parfum yang sebelumnya ada di sana.


Lalu dia mengambil jaket satunya lagi dan mencoba mencium wanginya juga. Tapi Lara sama sekali tak menemukan wangi itu lagi.


Lara bersender pada lemari sembari memeluk 2 jaket itu.


"Bagaimana jika jaket ini benar miliknya? Apa yang harus kulakukan? Sungguh lucu ... Aku bahkan mencintai pemilik jaket ini tanpa tahu siapa pemiliknya. Aku benar-benar melupakan wajahnya," gumam Lara terduduk di atas karpet tebal.


8 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi sama sekali tak pernah terlintas di pikiran Lara untuk mengingat pria yang menolongnya dulu.


"Jika itu benar? Itu artinya aku mencintai Phoenix?Tidak, tidak, rencanaku tak boleh gagal karena hal itu. Tidak, jaket ini bukan miliknya. Tetaplah dalam pemahaman itu, Lara," Lara bermonolong dan menggeleng seakan tak ingin jaket itu adalah milik Phoenix. Lara harus menyangkal hal itu.


Lalu setelah beberapa lama terduduk, Lara mengembalikan jaket besar itu ke dalam lemarinya.


*


*


*


"Aku tak ingin membicarakan hal itu," jawab Phoenix.


"Tapi kau tahu kan? Dia hanya memanfaatkanmu saja karena ingin membalas dendam padaku," ucap Davina.


"Aku sudah bilang, aku tak ingin membicarakan hal ini," tegas Phoenix.


"Why? Mengapa kau tak pernah mau melakukannya denganku? Mengapa harus dengan Lara yang baru saja kau kenal? Apa lagi dia adalah musuhku," ucap Davina dengan suara tercekat.


"Kita hanya sahabat, Davina. Tidak lebih. Aku tak melakukan hal itu denganmu," jawab Phoenix.


"Lalu mengapa harus dengan Lara? Aku lebih bisa menerimamu melakukan hal itu dengan wanita lain daripada dengan Lara," ucap Davina frustasi.


"Aku tak bisa mengendalikan diriku. Baiklah, aku akan menyudahi percakapan ini. Ini masalah pribadiku dan kuharap kau mau mengerti," kata Phoenix dan langsung menutup ponselnya.


Phoenix menaruh ponselnya di meja dan duduk di sofa. Kedua tangannya menyusur rambut tebalnya dengan jari jemarinya.


"Oh my God ... Apa yang sudah dia lakukan?" gumam Phoenix pelan.


Lalu Phoenix menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan bersandar di sofa empuk itu.


Phoenix masih memakai handuk di pinggangnnya. Dia masih berpikir apa yang akan dilakukannya pada Lara atas apa yang Lara lakukan padanya.


Menurutnya apa yang dilakukan Lara sudah di luar batas. Phoenix tak menyangka Lara akan mengggunakan dirinya sebagai senjata melawan Davina.


Dan Lara mengakui secara terang-terangan hal itu pada Phoenix.


"Oh ****!!!" Apa yang harus kulakukan? Kau meremehkanku, Lara. Kau benar-benar meremehkanku. Baiklah, ayo kita bermain," gumam Phoenix dengan mata tajamnya yang menerawang membayangkan sosok Lara yang tadi berada di bawah tubuhnya.