
Gonza masih menatap Iris dan seakan meminta penjelasan dari ucapannya barusan.
"Why? Apakah aneh jika aku masih perawan?" tanya Iris karena tak suka reaksi Gonza.
"Orang awam pasti memandangnya aneh. Apakah ada masalah dengan pernikahanmu dulu?" tanya Gonza.
"Aku tak ingin membicarakannya saat ini. Nanti saja kuceritakan," jawab Iris dan menghindari tatapan Gonza.
Setelah terdiam sebentar, akhirnya Gonza kembali melajukan mobilnya. Dia tak bertanya lagi pada Iris tentang hal itu.
Kini tak ada obrolan apapun dari mereka. Setelah mencapai 3 jam perjalanan, Gonza berhenti di sebuah restoran untuk beristirahat.
Iris berjalan di samping Gonza. Tak ada gandengan tangan atau apapun yang terlihat layaknya pengantin baru.
Iris yang sudah mengenal Gonza dengan cukup baik, sudah terbiasa dengan hal itu.
Setelah berada di restoran, mereka pun memesan makanan dan minuman untuk mengisi tenaga.
Gonza melihat Iris makan ketika dirinya sudah selesai makan. Ketika gelas Iris sudah kosong, Gonza beranjak dari duduknya dan meminta minuman lagi untuk Iris.
Lalu dia menaruhnya di depan Iris. Iris melihatnya dan tersenyum.
"Thanks," ucapnya.
Gonza hanya diam dengan wajah datar seperti biasanya.
'Sedatar ini saja dia tampan, apalagi jika tersenyum. Bisa mati aku dibuatnya,' batin Iris.
Setelah selesai makan, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Mereka sudah tak terlalu canggung dan kaku lagi sekarang.
Gonza sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Iris yang kini mulai 24 jam menemaninya.
"Kau belum bilang pada ibuku jika kita ke sana, kan?" tanya Iris.
"Belum," jawab Gonza.
"Jadi ibu tak akan tahu jika kita nanti tinggal di rumah nenekmu, kan?" tanya Iris lagi.
"Hmm."
Iris hanya mengangguk tanda mengerti.
'Apa yang akan kami lakukan nanti di sana? Apakah hanya mengobrol atauuuu ...' pikir Iris.
"Sejak kapan kau mengenal Nona Lara?" tanya Iris membuka obrolan karena Iris memang tak bisa jika harus berdiam terlalu lama.
"Ketika nona Lara berumur 19 tahun," jawab Gonza.
"Ya, setahun sebelumnya."
"Kau pernah punya kekasih sebelumnya?" tanya Iris dengan berani karena dia ingin tahu semua hal tentang suaminya itu.
"Hmm," jawab Gonza singkat.
'Jadi dia sudah punya kekasih dulu? Ck, menyebalkan. Berarti aku bukan pacar pertamanya? Iiiisshh,' kesal Iris.
"Kapan?" tanya Iris lagi.
"Itu urusan pribadiku," jawab Gonza.
'Kalau saja kau bukan pria yang kucintai, sudah kuhajar kau seperti mantan suamiku dulu,' batin Iris.
"Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Gonza.
Iris menoleh pada Gonza karena dia tak menyangka Gonza juga ingin tahu tentang dirinya.
"Bertanya-lah," sahut Iris.
"Mengapa kau bercerai dari mantan suamimu?" tanya Gonza.
Seketika senyum di bibir Iris hilang dan berganti dengan cebikan. Iris pikir dia akan bertanya sesuatu yang lain tentang pribadinya.
"Karena kami dijodohkan. Dan aku tak memberinya kebutuhan ranjang," jawab Iris akhirnya.
"Why?"
"Mengapa apanya? Sudah jelas aku tak menyukainya. Bagaimana bisa aku berhubungan ranjang dengan pria yang tak kusukai? Membayangkannya saja membuatku muntah," jawab Iris.
Gonza hanya terdiam mendengar hal itu. Dia sangat tahu betapa Iris menyukainya sejak dulu.
Dan itu artinya Iris hanya mau melakukan hal itu dengannya saja. Gonza sebenarnya tak sedatar ini dulu. Dia memiliki seorang kekasih yang juga bekerja di militer seperti dirinya.
Hanya saja kekasihnya itu meninggalkannya dan menikah dengan orang lain ketika mereka sudah tak ditugaskan bersama lagi.
Itulah yang membuatnya tak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun lagi karena akan membuang-buang waktunya.
Dan itu juga yang menjadi alasan Gonza langsung menikahi Iris. Dia tak suka hubungan yang membuang-buang waktunya lagi.
Menikahi Iris akan membuatnya memiliki keluarga lagi karena semua anggota keluarganya telah tiada dan membuatnya dirinya sendirian di dunia ini.
Lara selalu mengingatkan padanya jika keluarga adalah hal yang penting baginya untuk bisa bertahan di dunia ini. Jika sudah tak punya keluarga, makan buatlah keluarga kecil untuk dirimu sendiri.
Dan melihat Lara yang kini bahagia membuat dirinya juga ikut bahagia. Lara telah memiliki keluarga yang sangat mencintainya kini dan tak sendirian lagi.