
"Bagaimana keadaannya?" tanya Galy yang baru saja tiba di New Jersey.
"Dua malam dia tak tidur karena memikirkan Iris," jawab Phoenix yang tidur di samping Lara.
"Lalu?"
"Sekarang sudah sedikit tenang karena Iris sudah sadar." Phoenix mengusap lengan Lara yang ada di pelukannya.
Efek tak tidur 2 malam membuatnya kini terlelap tidur.
"Huffftt ... Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah dia punya bodyguard?" tanya Galy dengan suara pelan.
"Gonza sedang ada urusan kala itu. Dan Lara hanya makan siang saja. Itu pun di dekat perusahaannya. Tak ada yang menyangka ini terjadi. Daddy mengawasi Davina tapi kita lupa dengan ibunya. Kita lengah, Mom," jawab Phoenix.
"Lalu bagaimana dengan Davina?" tanya Galy.
"Kata Kak Damon dia pergi dari New York. Perusahaanya telah diambil alih oleh Tuan Cornwell dan rumahnya dijual oleh ibunya. Aku malas mrnceritakan detailnya," jawab Phoenix.
"Karma akan selalu ada meskipun kita tak tahu kapan datangnya." Galy mengusap tangan Lara yang tertidur.
CEKLEK ...
"Honey ... Ayo kita pulang. Ini sudah sangat malam," ucap Rey yang baru saja masuk ke kamar perawatan Lara.
"Hmm," jawab Galy singkat lalu mencium kening Lara.
"Mommy pulang dulu. Besok pagi kami akan kemari lagi," ucap Galy pada Phoenix.
"Ya, berhati-hatilah di jalan," jawab Phoenix.
"Daddy sudah mengurus semuanya. Iris akan dipindahkan ke kamar perawatan besok pagi," ucap Rey -- sang daddy.
"Ya, Dad. Thanks," jawab Phoenix.
Lalu mereka pun pulang dari rumah sakit menuju ke mansion Phoenix.
*
*
"Morning, Baby," sapa Phoenix ketika Lara membuka matanya.
Lara beberapa kali mengerjap dan kemudian sdnyum tipisnya tersungging ketika melihat suami tampannya berada di depan wajahnya.
"Morning ... Aku ingin pulang hari ini," kata Lara dengan suara serak.
"Hmm, kita akan pulang hari ini," jawab Phoenix.
"Kau tak ingin mandi?" tanya Phoenix.
Phoenix membantunya duduk dengan memegangi bahunya.
"Kau ingin ke kamar mandi?"
Lara mengangguk dan Phoenix langsung turun dari ranjangnya.
Dia memapah sang istri menuju kamar mandi.
"Aku tidak sakit. Jangan memapahku seperti ini," ujar Lara.
"Aku takut kau terjatuh," jawab Phoenix tak mengindahkan protesan Lara.
"Aku tak suka terlihat manja," sahut Lara.
"Masuklah. Aku tunggu di sini," kata Phoenix ketika sampai di depan pintu kamar mandi.
"Hmm." Lara pun masuk.
*
*
"Apa yang kau lakukan di sini?" Velvet memegang tangan Davina yang dilihatnya masuk ke dalam area rumah sakit.
"A-aku ingin menjenguk Lara," jawan Davina tergagap.
"Tidak boleh. Kau tak boleh menemuinya. Pergilah," usir Velvet.
"Pergilah, Davina. Lebih baik jangan menemuinya lagi. Urusan kalian sudah benar-benar selesai sekarang," Damon menimpali.
"Tapi aku benar-benar ingin minta maaf padanya, Kak," jawab Davina.
"Tidak perlu. Kau pergi sendiri atau aku akan menyeretmu keluar?" kata Velvet tajam.
"Ba-baik, Kak. Aku pergi," jawab Davina dengan wajah takut.
Lalu Velvet melepaskan tangan Davina dan dia pun akhirnya pergi.
"Ke mana orang-orangmu, Honey? Mengapa dia bisa sampai kemari?" tanya Velvet kesal pada Damon.
"Dia tak akan berani berbuat macam-macam pada Lara. Tenanglah," jawab Damon dan menggandeng tangan Velvet masuk menuju ruang perawatan Lara.
"Kau kecolongan dengan wanita tua itu karena kau meremehkannya," sahut Velvet.
"Untuk kali ini tidak, Baby. Percayalah," jawab Damon.