
"Apa yang kau lakukan di sini? Ayo ikut pulang bersamaku," ucap Galy.
Lara tak langsung menjawab dan tampak berpikir.
"Ayo, jangan banyak berpikir." Galy menarik tangan Lara dan Iris yang tampak paham situasinya langsung berjalan di belakang Lara.
Lalu merekapu masuk ke mobil Galy yang sudah ada supir di dalamnya.
"Ayo masuk," kata Galy dan dia melihat ke arah Iris.
"Dia asisten pribadiku, Aunty," ucap Lara.
Galy tersenyum pada Iris. "Terima kasih sudah menjaga calon menantuku."
Iris pun tersenyum dan menunduk hormat.
Lalu mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Lara dan Galy duduk di bangku belakang, sedangkan Iris duduk di bangku depan bersama supir.
Sepanjang perjalanan, Galy memegang tangan Lara dan tak pernah melepaskannya seakan takut Lara akan kabur kembali.
Galy sama sekali tak menanyakan apapun pada Lara karena mungkin itu akan mengganggu Lara. Dia berusaha memahami posisi Lara.
Menjadi hamil adalah sesuatu yang kompleks dan cukup menguras emosi serta membuat seorang wanita semakin sensitif.
Galy berpikir Lara pergi sementara untuk menenangkan pikirannya.
"Kau sudah makan malam?" tanya Galy.
"Sudah," jawab Lara.
"Belum," kata Iris menimpali.
"Oh my ... Ini sudah jam 9 malam dan kau belum makan?"
"Aku sudah makan roti tadi," jawab Lara.
"Pedro, cari restoran di dekat sini," ucap Galy pada supirnya.
"Baik, Nyonya," jawab Pedro.
Lara sekali berpikir, Galy melakukan hal ini karena Lara sedang mengandung calon cucunya.
Tetapi hal itu setidaknya membuatnya sedikit bahagia dan merasa diperhatikan.
Iris yang berada di depan, tampak tersenyum melihat sang Nona begitu diperhatikan oleh calon mertuanya.
Sesampainya di restoran, Lara memesan makanan begitu juga dengan Iris.
Sedangkan Galy tidak, karena tadi dia sudah makan di hotel bersama Heidi -- teman sekaligus ibu tiri salah satu menantunya.
"Halo, Sayang. Ada apa?" tanya Galy.
"Mommy di mana? Ini sudah malam dan mommy belum ada di mansion. Apa mommy masih bersama aunty Heidi?" tanya Velvet.
"Mommy bersama Lara," jawab Galy.
"What? Bagaimana bisa? Di mana mommy sekarang? Aku akan menyusul ke sana," ucap Velvet.
"Tidak perlu, Sayang. Lara masih makan dan setelah ini mommy akan langsung ke mansion," jawab Galy.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Mom," ucao Lara dan kemudian Galy menutup ponselnya.
"Apakah itu kak Velvet?" tanya Lara.
"Hmm, kami baru datang dari New York kemarin. Velvet yang memaksa kemari untuk ikut mencarimu," kata Galy.
Lara tersenyum mendengar hal itu.
Seusai menghabiskan makan malamnya, mereka langsung menuju mansion.
"Apa Phoenix ada di sana?" tanya Lara.
"Tidak, aku belum memberitahunya," jawab Galy yang masih memegang tangan Lara.
"Aku tak akan lari, Aunty," ucap Lara.
Galy tertawa pelan dan kembali mengusap punggung tangan Lara.
"Kau akan menjadi menantuku. Maafkan aku jika ada sikapku yang menyinggungmu," kata Galy.
"Aunty senang aku hamil?" tanya Lara.
"Tentu saja. Nenek mana yang tak senang ketika cucunya akan bertambah," jawab Galy.
"Tapi aku tak sesuai ekspektasi kriteria menantu aunty," kata Lara.
"Aku akan menerima siapapun yang menjadi pilihan anakku dan itu membuatnya bahagia," ucap Galy.
"Phoenix bahagia bersamaku?" tanya Lara tak yakin.
Galy menoleh pada Lara.
"Tentu saja, Sayang. Melihatnya kebingungan mencarimu sepeti orang gila, itu artinya dia sangat mencintaimu dan bahagia bersamamu," kata Galy.
'Benarkah?' batin Lara tak percaya.