BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#79



"Oh my ... Mengapa kau begitu angkuh, Lara?" Phoenix menangkup wajah Lara.


"Aku hanya takut menjadi lemah," jawab Lara lirih.


"Look at me," ucap Phoenix ketika Lara tak kunjung melihat ke arah wajahnya.


Lalu perlahan Lara mendongakkan kepalanya melihat mata Phoenix.


"Jadi kau akan lemah jika bersikap baik atau manis padaku?" tanya Phoenix.


"Aku tak perlu menjawabnya," jawab Lara.


"Kapan kau tahu bahwa aku pemilik jaket itu?" tanya Phoenix.


"Bukankah kau sudah tahu tadu? Ketika aku mencium harum lehermu dan di jaket itu ada bodiran benang emas yang bertuliskan namamu," jawab Lara.


"Mengapa kau tak mengatakannya padaku sebelumnya? Bukankah itu artinya kau sudah lama mengetahuinya?" tanya Phoenix lagi.


"Kau menjadi cerewet sekarang. Sudahlah, aku ingin istirahat. Aku benar-benar lelah karena menempuh perjalanan 9 jam," jawab Lara.


"Aku tak menemukanmu dimanapun. Kemana saja kau selama ini?"


"Itu rahasia," jawab Lara tersenyum miring.


"Mengapa kau merahasiakannya padaku?" tanya Phoenix.


"Karena aku akan pergi kesana lagi jika kau membuatku kesal," jawab Lara.


"Jadi kau berniat melakukan hal itu jika bertengkar denganku?"


"Tentu saja," jawab Lara membuka jaketnya dan kemudian sepatunya.


"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi," jawab Phoenix.


Phoenix menghampiri Lara dan merengkuh kembali pinggangnya.


"Kau masih mau bermain-main denganku?"


"Selama ada Davina di sekitar kita, aku akan selalu bermain-main denganmu. Singkirkan dia, maka aku akan serius denganmu," ucap Lara.


Phoenix memandang tajam mata Lara.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kehancurannya?"


"Hmm, aku tahu bahwa kau adalah motor penggerak perusahaannya. Jika kau melepaskannya, maka perusahaannya tak akan bisa diselamatkan dan hancur secara perlahan. Aku menunggu pilihanmu. Kau memilih aku atau dia. Pilihan yang mudah sebenarnya karena aku memiliki kartu darimu. Bayimu ada di dalam rahimku," ucap Lara tegas.


"Mengapa kau menjadi seperti ini, Lara. Kau sangat berbeda dengan gadis yang dulu kuberi jaket. Kau sangat berbeda," kata Phoenix yang masih merengkuh pinggang Lara.


"Karena Lara yang dulu telah mati. Kau tahu siapa pembunuhnya? Davina," kata Lara sembari melepaskan tangan Phoenix dari pinggangnya.


"Tak bisakah kau melupakan dendammu? Kita cukup hidup menjauh dari Davina. Tak perlu melakukan apapun padanya. Menjauh saja, itu sudah cukup," ucap Phoenix.


"Oh God ... Kau masih melindunginya? Apa kau ingin aku pergi lagi darimu?" Lara tersenyum getir.


"Pikirkan dirimu dan bayi kita. Kebahagiaanmu itu lebih penting bagiku," jawab Phoenix.


"Itu bukan jawaban. Kau masih melindunginya, Phoenix!!!!" marah Lara.


"Aku tak melindunginya. Aku hanya tak ingin kau menjadi seperti itu, Lara. Itu bukan dirimu. Aku tahu itu. Kau tak seperti itu." Phoenix bersikeras meyakinkan Lara.


Lara terdiam sebentar dan menatap tajam mata Phoenix.


"Kau tahu? Aku memiliki 2 jaket darimu. Jaket coklat yang kau lihat tadi dan jaket hitam yang kau gunakan untuk menolongku ketika aku terlibat kecelakaan dulu. Kau ingat hal itu? Kau mengantarku ke kampus ketika aku terluka cukup parah. Aku akan mengikuti ujian beasiswa kala itu. Tetapi wanita jalaang itu berupaya mejegalku hingga aku hampir saja gagal mengikuti ujian itu meskipun pada akhirnya dia benar-benar melakukannya padaku dengan menyebarkan foto-foto tak pantas itu."


"Kau pikir orang seperti itu harus kumaafkan? Haruskaaaahhh???? Kau tak pernah tahu menjadi diriku. Dia membullyku, menedangku, memukulku, mengataiku, meludahiku dan aku menerima semuanya hanya karena aku ingin lulus sekolah dengan tanpa masalah. Hingga akhirnya dia menghancurkan semuanya. Impianku satu-satunya yang kubangun selama bertahun-tahun. Dia menghancurkannya dalam waktu semalam saja. Kau tahu itu????!!" teriak Lara marah dan masuk ke dalam kamar mandi dengan menutup pintunya keras-keras.