BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#84



Galy masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi, begitu juga dengan Davina.


"Begini, kau tahu kan aunty tak suka berbasa-basi?"


Davina mengangguk dan masih memasang senyu manisnya.


"Pergilah dari sini," ucap Galy.


Ucapan Galy seketika membuat senyum di wajah Davina menghilang.


"Aunty mengusirku?" tanya Davina kecewa.


"Bukan, akan kujelaskan. Phoenix dan Lara akan menikah. Kau tahu kan kalau mansion ini milik Phoenix dan otomatis akan menjadi milik Lara. Aunty tetap akan mengundangmu di pernikahan mereka. Jadi menginaplah di hotel nanti aku yang akan membayarnya," jawab Galy.


"Aku hanya ingin menjaga perasaan Lara. Tidak baik jika kau selalu menginap di mansion sementara ada Lara di sini. Dia calon istri Phoenix. Mengertilah Davina," lanjut Galy.


"T-tapi bukankah aku sudah sangat dekat dengan keluarga kalian?"


"Itu masalah yang berbeda, Davina. Aku tak ingin membicarakan hal ini. Berkemaslah, kau akan diantar oleh supir ke hotel yang sudah kusiapkan." Galy beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Davina.


Galy lumayan kecewa pada Davina. Dia sempat mendengar sedikit percakapan antara Davina dan Lara di lorong tadi.


Hubungan Davina dan Lara memang benar-benar tak bisa diperbaiki. Dan akan lebih baik jika Davina tak masuk lagi ke dalam circle keluarga mereka karena itu akan membuat keributan yang mungkin suatu saat akan menjadi semakin besar.


Davina mengepalkan tangannya dan menatap ke arah pintu dengan tatapan kemarahan.


"Lara ... Kau selalu menghancurkan kebahagiaanku. Benar kata mommy, seharusnya aku membereskanmu sejak dulu," geram Davina dengan suara berbisik.


Beberapa mebit kemudian, Davina akhirnya membereskan pakaiannya dan menyeret kopernya ke pintu keluar.


"Ckckckck ... Kasihan sekali. Kau diusir ya? Seharusnya kau pergi sebelum diusir, Davina. Memalukan," ucap Lara dengan nada mengejek sekaligus senang.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu, Lara. Jika kau bisa membuat cara licik, maka aku akan lebih licik darimu," geram Davina.


"Huuuu ... Aku takut sekali mendengar ancamanmu, Nona manja," jawab Lara.


"Berbahagialah karena nanti aku akan mengambil kebahagiaanmu kembali," ancam Davina.


Lara mendekat ke arah Davina dan mendorong tubuh Davina ke tembok lalu mencekik lehernya.


"Apa yang k-kau lakukan?" suara Davina tercekat karena cekikan di lehernya sangat kuat.


"Kau mengancamku? Kau berani mengancamku? Kau pikir balas dendamku berakhir sampai di sini? Aku beri kau bocoran ... Aku akan menghancurkan perusahaanmu hingga kau dan wanita tua itu menjadi gelandangan dan hidup susah. Hal yang pernah kualami dulu. Aku hanya ingin kau tahu rasanya menjadi aku yang dulu," kata Lara di dekat telinga Davina.


"Lepaskan aku." Davina mencoba melepaskan tangan Lara yang mencekik kuat lehernya.


"Ingat perkataanku tadi. Aku tak akan berhenti sebelum kau menjadi hancur, Davina. Kau sangat berada jauh di bawahku. Aku memiliki segalanya saat ini bahkan aku memiliki kartu As yang bisa membuat kau hancur di perusahaanmu sendiri. Phoenix ada di tanganku saat ini dan aku sangat mudah mengendalikannya." Lara masih mencekik leher Davina.


"Phoenix masih punya akal sehat dan tak akan menghancurkan perusahaanku," jawab Davina.


"Hei, siapa bilang aku akan menghancurkan perusahaanmu? Kau salah, aku akan mengambil perusahaanmu dan mendepakmu dari sana," jawab Lara tertawa kemudian melepaskan tangannya dari leher Davina.


Davina langsung mengambil nafasnya dalam-dalam dan sedikit terbatuk karena cekikan itu.


"Bersiaplah, Davina. Oh ya, sampaikan salamku pada nenek sihir itu. Bilang padanya bahwa aku telah mengandung bayi Phoenix. Aku harap dia terkena serangan jantung mendengar hal itu." Lara kembali tertawa dan meninggalkan Davina yang ada di depan pintu.