BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#47



Thea tampak berada di dapur bersama putri bungsunya yang baru menginjak usia 3 tahun. Dan Jared -- sang suami -- tampak menemaninya juga di sana.


Thea sedang membuatkan jus buah untuk putrinya dan setelah selesai membuatnya, dia menyerahkan botol yang berisi jus itu pada Jared.


"Honey ... Bawa gadis cantik ini jalan-jalan di luar," ucap Thea.


"Kau tak ikut?" tanya Jared.


"Tidak, aku akan menelepon kak Dillon," jawab Thea.


Lalu Jared pun menggendong putri cantiknya itu lalu mengecup bibir Thea dan menuju ke halaman belakang mansion.


Galy -- sang nyonya besar Robert -- terilhat keluar dari dalam kamarnya ketika Thea akan mengambil ponselnya yang ada di ruang tengah.


"Di mana Phoenix?" tanya Galy pada Thea.


"Dia baru saja keluar," jawab Thea.


Thea melihat Galy menggigit bibirnya seakan memikirkan sesuatu.


"Jangan terlalu dipikirkan, Mom. Daddy pasti akan menanganinya. Dan Phoenix cukup bisa diandalkan untuk menghadapi hal ini," ucap Thea seakan tahu apa yang dipikirkan Galy.


Galy kemudian duduk di sofa dan bersender pasrah di sana.


"Mom, minta daddy agar menyuruh Phoenix untuk mengawasi Lara. Lara bisa sangat berbahaya mengingat dendam yang dipendamnya terlalu besar pada Davina. Jika aku menjadi Lara, mungkin kalian juga tak akan terima kalau aku diperlakukan seperti itu. Aku masih beruntung memiliki keluarga. Bagaimana dengan Lara yang hanya hidup sendirian tanpa siapapun? Tak ada yang membelanya ataupun memberikan dukungan padanya dulu."


"Kita tak bisa menyalahkannya jikalau pun dia berhasil melukai Davina atau membuat Davina menderita. Tapi kita bisa mencegahnya dengan mendekatinya."


"Istilahnya adalah pendekatan kognitif. Ya, kita bisa membantunya memahami dirinya dan masalah-masalah yang dihadapinya bahkan memberikan masukan untuk memecahkan masalah yang membebani perasaannya selama ini," ucap Thea panjang lebar.


"Kau tahu tentang masalah Lara dan Davina? Kau baru saja datang kemarin dan dari mana kau tahu tentang hal itu, Thea?" tanya Galy heran.


"Kemarin secara tak sengaja, aku mendengarkan pertengkaran mereka di dalam mansion sebelum Lara menghempaskan kepala Davina ke lantai. Hingga akhirnya mommy datang dan melihat Davina sudah bersimbah darah di kepalanya," jawab Thea.


"Oh God ... Mommy benar-benar tak tahu harus bagaimana. Ini adalah kasus terumit yang pernah mommy hadapi. Terlalu banyak dilema di sini. Velvet jelas-jelas membela Lara dan mommy juga tak bisa membela Davina begitu saja setelah tahu akar masalah mereka berdua," ucap Galy.


"Sudahlah, Mom. Bukankah aku sudah mengatakan, serahkan ini pada daddy dan Phoenix serta terima saranku tadi. Jangan menjauhi Lara. Kita justru harus mendekatinya agar Lara tetap terkendali," kata Thea.


"Entahlah ... Untuk saat ini, mommy belum bisa berpikir. Mommy takut akan terjadi pertumpahan darah di sini. Dan mommy tak ingin itu terjadi," kata Galy pelan.


"Apa yang dilakukan Davina memang benar-benar jahat dan keterlaluan. Mommy bahkan pernah membentak Lara karena dia menyakiti Davina secara fisik berulang kali," lanjut Galy yang masih galau.


"Lalu siapa yang mommy bela saat ini? Aku tahu mommy menyayangi Davina. Tapi mommy harus melihat kenyataan bahwa Davina pernah melakukan kesalahan yang tak termaafkan oleh Lara." Thea berusaha menjelaskan secara detail pada sang mommy.


"Phoenix pasti sedang bingung saat ini. Lara adalah rekan bisnisnya dan Davina adalah teman dekatnya," ucap Galy pasrah.