
Phoenix mengangkat rok Lara hingga ke atas pinggangnya dan membuka pakaian dalamnya.
Bibir mereka masih saling bertautan. Mereka sama-sama merasa gairah yang begitu tinggis meskipun tadi pagi sudah melakukannya.
Phoenix membuka celananya dengan cepat dan menarik paha Lara hingga bagian bawah tubuh mereka sudah menempel sempurna.
Phoenix bergerak cepat. Tangan kanan Lara memegang tengkuk leher Phoenix sedangkan tangan kirinya bertumpu di atas meja.
Tangan Phoenix memegang erang bokong padat Lara dan meremasnya agar gerakannya semakin terpacu sempurna.
"Ah ... Ah ... Ah ..." Phoenix mendesah keras begitu juga dengan Lara.
Dan sepertinya kali ini, Phoenix tak bisa melakukannya terburu-buru.
Phoenix akhirnya mengangkat tubuh Lara ke kursi sofa dan merebahkannya di sana.
Tangan Phoenix masuk ke dalam kemeja Lara dan meremas dadanya yang bulat dan penuh tanpa membuka bajunya.
Phoenix akhirnya mengangkat kemeja Lara hingga akhirnya dia bebas menciumi dan melumaat dadanya dengan puas.
Kaki Lara bertumpu di atas meja dan sandaran kursi.
Phoenix masih bergerak liar di atas Lara dan seakan tak ada puasanya menggerayangi tubuh sintal Lara yang langsing.
"Apakah kau akan menikahiku jika selalu melakukan ini padaku?" tanya Lara.
Phoenix memperlambat laku gerakannya dan menatap mata Lara.
"Kau ingin aku menikahimu?" tanya Phoenix.
"Hmm," jawab Lara singkat.
"Apa karena Davina?" tanya Phoenix yang kembali menciumi leher Lara.
"Maybe," jawab Lara pelan.
"Aku tak mau jika alasanmu hanya karena Davina. Aku akan menikahimu jika kau memang mengingingkanku," jawab Phoenix.
Kemudian Phoenix menguluum bibir Lara dan menciumnya cukup lama agar Lara tak banyak bicara dan bertanya.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka menyelesaikan permainan panas mereka yang berlangsung cukup panjang di siang ini.
*
*
"Apa kau sedang menertawakan kebodohanku saat ini, Lara?" tanya Phoenix yang kini duduk di sebelah Lara sembari melihat Lara membenarkan pakaiannya yang acak-acakan karena kelakuan Phoenix.
"Tidak ... Aku hanya berpikir realistis. Kita sama-sama menginginkan hal ini. Sebut saja simbiosis mutualisme," jawab Lara yang tampak kesulitan memasang branya di dalam kemejanya.
Lalu Phoenix mengambil alih tugas Lara dan memasangkan kait bra Lara yang ada di punggung mulusnya.
Phoenix mencium bahu Lara setelah menyelesaikan tugas tambahannya itu.
Lara melihat arloji di tangannya dan dengan cepat berdiri memperbaiki posisi roknya yang sudah tak karuan.
Phoenix hanya memperhatikannya tanpa berkata apapun lagi. Melihat Lara dengan keriwehan ini selalu membuatnya terhibur.
Setelah membenarkan pakaiannya, Lara melepas ikatan rambutnya dan menggelungnya kembali dengan rapi.
Tangan Lara mengambil tas dan lisptik di dalamnya lalu memakainya dengan cepat.
Kemudian Lara memakai sepatu hak tingginya dan beranjak dari kursi sofa. Tetapi sebelum itu, Phoenix menahan tangannya dan mengecup bibir Lara.
"Aku akan ke Rusia selama satu bulan. Jangan menjadi gadis nakal selama aku pergi," ucap Phoenix.
Lara mengerjapkan matanya dan seakan terhipnotis dengan tatapan dan ucapan Phoenix yang seakan menyatakan bahwa Lara adalah miliknya.
"Hmm, be careful. Aku harus segera pergi. Akan ada meeting lagi dengan tuan Xander," jawab Lara.
"Kau belum makan siang," ucap Phoenix.
"Aku akan menyuruh Gonza nanti," jawab Lara.
"Bye," ucap Lara.
CUP ...
Phoenix mengecup kembali bibir Lara.
"Bye ..." balas Phoenix lalu melepaskan tangan Lara.
Lara bergegas pergi dadi perusahaan Phoenix. Dan Phoenix memandang punggung Kara sampai hilang di balik pintu.
Phoenix akan membahas hubungannya dengan Lara pada Rey nanti. Dia ingin meminta pendapat sang daddy sebelum memutuskan hal penting dalam hidupnya karena tak mungkin Phoenix hanya membuat Lara sebagai teman ranjangnya saja.
Phoenix selalu memandang bahwa pernikahan adalah suatu yang sakral dan penting serta bukanlah permainan.
Sedangkan Lara hanya berpikir bahwa pernikahannya dengan Phoenix nanti hanya karena azas manfaat saja.