
"Halo, Sayang," ucap sebuah suara yang datang dari pintu ruangan Lara.
Lara menoleh ke arah pintu dan melihat Galy serta Velvet di sana. Melihat mereka membuat Lara langsung menyunggingkan senyumnya dengan lebar.
"Mom ... Kakak ..." Lara beranjak dari kursinya dan menghampiri mereka.
Lalu mereka bertiga pun duduk di kursi sofa yang ada di ruangan Lara.
"Kau yakin tak ingin berbulan madu, Lara?" tanya Velvet.
"Tidak, kami sudah cukup senang berbulan madu di apartemen atau di mansion," jawab Lara.
"Jika tiba-tiba kau ingin berbulan madu, katakan pada mommy," kata Galy.
Lara mengagguk dan tersenyum tipis.
"Nanti malam tidurlah di mansion. Besok kami sudah akan pulang dan nanti malam kita akan makan malam bersama," ucap Galy.
"Baiklah, Mom," jawab Lara.
"Oh ya, bagaimana kandunganmu, Sayang?" tanya Galy.
"Bayiku tidak rewel dan aku sangat baik-baik saja," jawab Lara.
"Seharusnya kau tak bekerja dulu, Lara. Mengapa kau sangat keras kepala?" tanya Velvet.
"Aku punya tanggung jawab yang besar atas perusahaan ini, Kak. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja," jawab Lara.
"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Tadi kami sedang keluar dan kebetulan lewat perusahaanmu jadi kami mampir," ucap Galy.
"Ya, Mom. Berhati-hatilah," jawab Lara.
"Bye, Sayang," pamit Galy dan mencium kedua pipi Lara, begitu juga dengan Velvet.
Seusai itu, Lara kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, Iris datang dengan membawa segelas jus jeruk untuk Lara.
"Yuhuuu ... Ini jus untuk nona mudaku yang paling cantik," kata iris dengan pembawaannya yang selalu ceria.
Lara tersenyum.
"Terima kasih, Iris," ucap Lara dan mengambil jus jeruk itu dari tangan Iris.
"Berterima kasihlah pada tuan Phoenix. Dia yang menyuruhku untuk menyediakan jus buah untukmu, Nona. Aku benar-benar iri padamu," kata Iris.
Lara tertawa pelan lalu meminum jusnya. "Jadi dia yang menyuruhmu?" tanya Lara.
"Hmm, kau benar. Aku akan menyimpannya sampai aku mati," jawab Lara.
"Oh God. Dia bukan barang, Nona," ucap Iris yang disambut tawa oleh Lara.
Lara memang akan selalu tertawa jika mengobrol dengan Iris. Entah mengapa, Iris selalu membawa keceriaannya di manapun dia berada dan membuat Lara pun ikut ceria.
Setelah meminum jusnya, Lara pun melanjutkan kembali pekerjaannya. Hampir setiap jam, Phoenix mengiriminya pesan hanya untuk bertanya makanan apa yang diinginkannya.
Tetapi itu justru cukup mengganggu pekerjaan Lara dan memperlambatnya. Dia kesal dengan hal itu.
Lalu Lara menelepon Phoenix.
"Halo, Sayang? Apa ada yang kau inginkan?" tanya Phoenix.
"Ya, jangan terus menerus mengirimiku pesan. Aku tak konsentrasi bekerja karena hal itu," jawab Lara.
"Aku tetap akan mengirimimu pesan, Honey. Kau bisa mengabaikannya jika kau mau," sahut Phoenix.
"Tapi sayangnya aku tak bisa mengabaikannya," jawab Lara.
Phoenix terdengar tertawa di ujung teleponnya.
"I love you, Baby. Aku akan menjemputmu jam 5 sore. Kau tak boleh bekerja lembur," kata Phoenix dan langsung menutup ponselnya agar Lara tak membantahnya.
Lara mencebik sembari melihat ke arah ponselnya. "I love you too," bisik Lara.
*
*
Sebelum jam 5, Phoenix tampak sudah datang untuk menjemput Lara pulang.
"Ini masih jam setengah 5 sore," ucap Lara yang sudah melihat Phoenix di ruangannya.
"Aku merindukanmu," jawab Phoenix dan menghampiri kursi Lara lalu mencium bibirnya.
"Tutup semua pekerjaanmu. Kita pulang sekarang," kata Phoenix pelan di atas bibir Lara.
"Tinggal sedikit lagi," sahut Lara.
"Tidak, Sayang. Bereskan pekerjaanmu sekarang." Phoenix kembali mencium bibir Lara dan mengangkat tubuhnya ke atas meja.