
"Halo adikku yang manis ... Aku benar-benar merindukanmu." Velvet menyambut kedatangan Lara dan memeluknya.
"Aku juga merindukan kakak," sahut Lara dan mengusap punggung kakak tercintanya itu.
"Kalian menginap di sini kan?" tanya Velvet.
"Hanya satu hari saja. Selanjutnya kami akan menginap di apartemen," jawab Phoenix yang ada di belakang Lara.
"Why? Mansion kami tak kekurangan kamar, Phoe," ucap Velvet.
"Aku tak mau istriku dikuasai olehmu, Vel," jawab Phoenix.
"Ck, kau melihatnya setiap hari. Sedangkan aku tidak," protes Velvet.
"Kau bisa meneleponnya jika merindukannya," ucap Phoenix yang tak mau tahu.
Damon dan Lara hanya bisa melihat perdebatan yang selalu terjadi antara Velvet dan Phoenix dengan topik dan masalah yang sama yaitu memperebutkan Lara.
Velvet masih menggandeng tangan Lara dan mengapit lengannya sembari berdebat dengan Phoenix.
"Hei, bisakah kalian diam?" ucap Damon yang merasa berisik dengan perdebatan yang tak ada ujungnya itu.
"Kak, buatlah bayi lagi agar istrimu tak mengganggu milikku," kata Phoenix dan menghampiri Lara lalu menarik tangannya.
"Kalian mau ke mana?" tanya Velvet.
"Lara butuh istrirahat karena cukup lama duduk di mobil, Kakak Ipar," jawab Phoenix dengan wajah menyebalkannya.
"Ya, kau memang menyebalkan, Phoenix," ujar Velvet.
"Aku akan istirahat dulu, Kak. Ketika makan malam nanti, kami akan turun ke ruang makan," ucap Lara tersenyum pada Velvet.
"Baiklah, Lara. Istirahatlah. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu," jawab Velvet.
"Dia hanya membutuhkan aku, Vel," sahut Phoenix.
Lara tertawa pelan dan mengikuti langkah sang suami ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Kau selalu terseyum jika bersama Velvet. Aku merasa cemburu dengan hal itu," kata Phoenix sembari berjalan menuju kamarnya.
"Aku tersenyum padamu juga, kan?" tanya Lara heran.
"Tapi berbeda. Kau lebih sering tersenyum dan tertawa jika bersama Velvet, Honey," jawab Phoenix.
"Benarkah? Aku bahkan tak menyadari hal itu. Porsi cintaku padamu dan cintaku pada kak Velvet sama besarnya. Aku tak akan membeda-bedakan kalian," ucap Lara.
"Jadi hanya 50 persen saja untukku?" tanya Phoenix tak terima.
Phoenix membuka pintu kamarnya dan membawa Lara masuk ke kamar kemudian
mendudukkannya di tepi ranjang.
"Tidak, aku sangat mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Oh God, aku tak percaya akan mengatakan kata-kata yang membuatku geli ini," ucap Lara heran.
Phoenix tertawa pelan dan mengecup bibir serta tangan Lara yang ada di dalam genggamannya.
"Kalau begitu, cintamu harus lebih besar padaku daripada Velvet. Ingat, akulah yang memberimu bayi," kata Phoenix random.
Lara otomatis tertawa mendengar hal itu. Phoenix akan terlihat seperti anak kecil jika perhatian Lara terpecah karena kehadiran Velvet. Dan biasanya Velvet lebih bisa menguasai Lara dari pada dirinya.
"Kau benar-benar seperti anak manja, Honey," ucap Lara menangkup pipi sang suami tampannya itu.
"Aku suka melihat tawamu. Selalu tertawalah bersamaku. Kau bahagia denganku, Baby?" tanya Phoenix yang masih berlutut di hadapan Lara dan mendongak ke arah wajah cantik Lara.
Lara tersenyum dan kemudian mengecup bibir Phoenix. "You complete me and you mean so much for me." (Kau melengkapiku dan kau sangat berarti bagiku)
"Itu kata-kata indah yang pernah kudengar darimu. I love you." Phoenix mencium bibir Lara dengan penuh cinta dan menahan tengkuk lehernya agar semakin memperdalam ciumannya.