
Davina bingung harus ke mana mencari bantuan untuk membayar semua hutang Berly. Para renternir itu bahkan telah datang membuat keonaran di perusahaan dan itu membuatnya sangat malu.
Davina sebenarnya sudah menyiapkan kepindahannya ke Eropa. Tetapi masalah ibunya, membuat semuanya kacau. Jika hal ini sampai terdengar ke telinga keluarga Robert, tamatlah riwayatnya.
"Nona, tuan Cornwell memanggil anda," ucap sekretaris Davina.
"Ya," jawab Davina dan langsung beranjak dari kursinya.
Tuan Cornwell adalah CEO perusahaannya yang menggantikannya kemarin. Dia adalah salah satu orang kepercayaan dari perusahaan Robert.
Davina memasuki ruangan tuan Cornwell dan melihat pandangan tajam matanya yang mengarah kepadanya.
"Apa-apaan ini, Davina? Jika wartawan sampai tahu hal ini, mereka akan memberitakan hal memalukan ini dengan banyak bumbu. Dan kau tahu apa artinya? Klien kita tak akan percaya lagi pada perusahaan ini dan mereka akan mundur. Otomatis perusahaan ini tak akan berjalan lagi," marah Tuan Cornwell.
"Aku tahu, tapi beri aku waktu untuk menyelesaikan hal ini. Kalau perlu aku akan meminta bantuan pada Phoenix atau uncle Rey," jawab Davina menunduk.
"Kau gila? Kau sadar apa yang kau ucapkan? Phoenix tak akan membantumu sama sekali. Aku tahu masalah internal yang kalian hadapi. Dia tak akan membantumu, Davina. Dan tuan Rey? Dia tak akan membuang-buang uangnya dengan percuma hanya untuk membayar sesuatu yang tak berguna seperti itu," jawab Cornwell.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Davina putus asa.
"Aku tak tahu. Dan itu bukan urusanku. Jangan membawa masalahmu ke dalam perusahaan ini. Aku yang menghandle perusahaan ini sekarang. Sudah banyak yang aku keluarkan untuk perusahaan ini setelah Phoenix hengkang dari sini," jawab Cornwell marah.
"Pergilah dari sini. Itu caramu satu-satunya. Aku tak mau perusahaan ini terkena imbasnya. Aku akan membeli semua sahammu dan ibumu yang tak seberapa itu," ucap Cornwell.
Davina terkejut mendengar hal itu.
"Ini perusahaan ayahku. Aku yang membesarkannya dan seenaknya kau ingin mengambilnya?" marah Davina.
"Kau yang membesarkannya? Kau lupa bahwa semua karena Phoenix? Jika tak ada dia, kau tak ada apa-apanya , Davina. Seperti saat ini. Dan kini aku yang punya kuasa di sini. Aku punya saham yang jauh lebih banyak darimu," kilah tuan Cornwell.
"Kauuu ..." geram Davina.
"Pergilah dengan sukarela atau aku harus mengusirmu dengan paksa." kata tuan Cornwell dengan nada tajam.
Davina terdiam dan tak bisa berbuat apapun. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Tak ada jalan lain selain menjual sahamnya karena itu sekarang tak ada gunanya lagi bagi dia.
"Pilihan yang bagus. Pergilah, nanti asistenku akan menghubungimu." Cornwell duduk kembali di tempat duduknya.
Davina keluar dari ruangan itu dengan langkah lunglai dan lemas. Dia merasa dunianya hancur dan kini hanya tersisa rumah saja yang dimilikinya. Dan perusahaan ayahnya pun telah hilang dari genggamannya.
Lara kembali ke ruangannya dan menutup pintunya. Dia menangis di balik pintu. Dia tak tahu apa yang setelah ini terjadi dengan hidupnya yang sudah berantakan karena ulah ibunya itu.
*
*
"Halo ... Semuanya beres nona. Tuan Cornwell sudah menghubungiku untuk membeli saham itu," ucap anak buah Lara dari seberang telepon.
"Good. Kerjamu sangat bagus, Preston. Tak salah Gonza memilihmu. Aku akan mengirim bonus yang besar untukmu. Ingat, kerjalah dengan sangat bersih. Keluarga Robert amat sangat jeli," ucap Lara lirih.
"Ya, Nona. Aku pastikan tak akan ada yang tahu hal ini," jawab Preston.
Lalu Lara menutup ponselnya dan menyusul Phoenix yang sudah ada di mobil. Senyumnya mengembang dan tampak ceria.
"Kau sudah siap?" tanya Phoenix ketika Lara membuka pintu mobilnya.
"Ya," jawab Lara tersenyum dan masuk ke dalam mobil.
Lalu Lara mendekati sang suami dan mengecup pipinya.
"I love you," ucapnya sembari tersenyum cantik.
Phoenix tampak tertegun mendengar hal itu. Karena Lara mengatakan hal itu dengan sukarela tanpa disuruh olehnya.
"I love you too, Baby." Phoenix membalasnya dengan mengecup bibir Lara.