
Iris memutar tubuhnya dan melihat ke arah Gonza yang kini menatap matanya dengan intens.
Gonza mendekatkan tubuhnya pada Iris sehingga membuat nafas Iris terasa sedikit sesak.
Semakin lama tubuh Gonza dan Iris benar-benar berdekatan dan menempel. Hanya sehelai pakaian saja yang menjadi penghalang.
Tangan kiri Gonza menangkup pipi Iris dan menjalar ke tengkuk lehernya. Hal itu membuat tubuh Iris menjadi merinding.
Tak ada kata apapun di antara mereka. Iris sudah cukup dewasa untuk tau dengan apa yang akan dilakukan Gonza.
"Aku ingin melakukannya sekarang," bisik Gonza di telinga Iris yang semakin membuat dadanya berdetak kencang.
Iris menggigit bibirnya dan jari Gonza mengusap bibir itu.
Semakin lama wajah Gonza semakin mendekat ke arah wajah Iris. Mata tajam Gonza masih menatap mata biru Iris yang indah.
Gonza tak langsung menciumnya, dia meraba bibir Iris dengan bibirnya hingga membuat nafas Iris semakin sesak.
Lalu tangan kanan Gonza merengkuh pinggang Iris dan tangan kirinya memegang tengkuk leher Iris.
Gonza mulai mencium bibir Iria dengan sangat perlahan. Iris menutup matanya dan menikmati ciuman lemvut Gonza.
Kecupan bibir itu berubah menjadi ciuman dalam ketika lidah Gonza menyelinap masuk di antara bibir atas dan bawah Iris.
Gonza mulai menguluum bibir Iris yang terasa manis di lidahnya. Tangan Iris mulai melingkar di leher Gonza.
Iris mulai berani membalas ciuman Gonza. Tak ada keburu-buruan di sini. Mereka seakan menikmati ciuman lembut mereka satu sama lain.
Meskipun terlihat datar dan dingin, Gonza juga memiliki hasrat layaknya lelaki lainnya ketika melihat sang istri.
Apalagi tiap hari dia membantu Iris mengobati lukanya dan melihat perutnya setiap hari. Tak mungkin Gonza tak tergoda.
Maka dari itu dia ingin melakukan hal ini dengan perlahan dan lembut agar tak membuat perut Iris sakit.
Lalu Gonza menarik melepaskan ciumannya dan menggandeng tangan Iris masuk ke dalam kamar mereka.
Gonza mengunci pintunya dan mulai melanjutkan ciumannya lagi. Iris hanya mengikuti permainan yang dipimpin oleh sang suami.
Tangan Gonza mulai masuk ke dalam kaos oblong yang dipakai Iris. Tangan kerasnya meraba kulit halus punggung Iris dan membuat Iris semakin menempelkan tubuhnya pada Gonza.
Gonza akhirnya membuka baju Iris dan membuka pengait bra Iris.
"Katakan jika perutmu terasa sakit," ucap Gonza pelan.
Iris mengangguk dan merasa sedikit malu ketika Gonza membuka bra-nya dan melihat gundukan bulat penuh nan indah milik Iris itu.
Tangan Gonza mulai menangkup benda bulat kenyal itu dan membuat Iris semakin bergairaah hingga mendesah.
"Aaahhh." Suara desahaan indah itu membuat hasrat Gonza pun semakin memuncak.
Gonza mengangkat tubuh Iris dan membawanya ke ranjang. Dia merebahkan tubuh Iris dan membuka bajunya sendiri.
Iris melihat banyak tato yang tergambar di tubuh Gonza yang atletis dan sexy.
Gonza kembali mencium bibir Iris dan mengangkat tangan Iris ke atas kepalanya. Ciumannya kini merambat ke leher Iris dan bermuara di dada Iris.
Gonza melahap puncak dada Iris hingga membuat Iris melengkungkan tubuhnya merasakan kenikmatan itu.
Tangan Gonza kini masuk ke dalam celana pendek Iris yang dipakainya. Iris sampai terpekik ketika Gonza memainkan jarinya di bagian tubuhnya yang paling sensitif itu.
Gonza melihat mata Iris yang terlihat bergairaah karena sentuhannya itu.