
Hingga akhirnya, perebutan Lara dimenangkan oleh Velvet karena Velvet mendapat dukungan dari Galy.
Velvet langsung membawa Lara ke kamar tamu bersama Iris juga.
"Ini hukuman untukmu, Phoenix. Kau tao boleh bertemu Lara untuk sementara waktumu. Kau hanya boleh melihatnya dari jauh sampai hari pernikahan kalian dilaksanakan," kata Velvet.
"Apa-apaan ini. Aku tak menerima aturan ini," ucap Phoenix.
"Kau harus menerimanya, Sayang. Pulanglah ke apartemenmu," kata Galy.
"Oh my God," Phoenix memegang kepalanya.
"Kak, aku ingin bersama Phoenix." Lara akhirnya bersuara.
Dan ucapan Lara itu, tampak membuat semua yang ada di sana mengarahkan pandangannya pada Lara.
"See?" ucap Phoenix dengan lega.
'Davina ... Lihatlah ... Phoenix hanya milikku ... milikku. Matilah kau!' batin Lara melirik ke arah Davina yang sudah berwajah shock.
"Lepaskan tangannya sekarang, Velvet. She's mine," kata Phoenix dan mengambil tangan Lara dari genggaman.
"Lara ... Bisa-bisanya kau tak sejalan denganku?" tanya Velvet.
"Kak, bayiku ingin bersama daddynya," jawab Lara tersenyum tipis dan itu semakin membuat Davina menahan kekesalannya.
Lara sengaja melakukan hal itu meskipun sebenarnya itu bukanlah gayanya.
Lalu Phoenix merengkuh pinggang Lara dan mengecup bibirnya.
Davina mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. Dia terlihat seperti orang bodoh yang sama sekali tak dianggap di sana. Semua perhatian mengarah hanya pada Lara.
Davina menggertakkan giginya karena merasa sangat ingin marah dan kebenciannya pada Lara kembali menguasainya.
"Lihatkan? Sekarang biarkan kami pergi," kata Phoenix.
"Kata siapa kau boleh pergi? Kalian akan menginap di sini malam ini. Hentikan drama ini dan bawalah Lara ke kamarnya, Phoenix. Kalian masih tak boleh tidur bersama sampai kalian menikah," kata Galy memutuskan dan tak bisa dibantah oleh Phoenix lagi.
"Tapi aku sudah menghamilinya, Mom," kata Phoenix tak terima.
Galy menghampiri Phoenix dan memukul punggungnya.
"Oucchh, Mom ..." ujar Phoenix.
"Jangan membantah mommy." Galy membelalakkan matanya pada Phoenix.
"Iris, bawa Lara ke kamarnya," perintah sang nyonya besar.
"Baik, Nyonya," jawab Iris.
"Ayo aku akan mengantar kalian," kata Velvet.
Lara melihat ke arah Phoenix dan mereka saling menatap sekilas hingga akhirnya Lara berbalik dan mengikuti Velvet di belakangnya.
Tak putus asa, Phoenix mengikuti Lara di belakangnya. Galy hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Phoenix yang benar-benar tak akan melepaskan Lara.
Lalu Galy melihat ke arah Davina yang ada di ujung tangga.
"Davina, kapan kau datang tadi?" tanya Galy.
Davina menyunggingkan senyumnya seakan tak terjadi apapun.
"Aku mendengar kabar hilangnya Lara, jadi aku kemari untuk memastikannya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Lara meskipun dulu kami pernah bermasalah," jawab Davina.
Galy tersenyum.
"Terima kasih, Davina. Tidurlah jika kau lelah. Aunty ingin masuk ke kamar dulu untuk istirahat," ucap Galy.
"Ya, Aunty," jawab Davina tersenyum.
Lalu Galy pun masuk ke kamarnya lalu Davina pun masuk juga ke kamar tamu yang ada di lantai 2.
Galy tak bisa menyuruh Davina pergi karena dulu Davina sudah biasa menginap di mansion ini.
Jadi, besok Galy akan memberi pengertian pada Davina bahwa jangan mendatangi apalagi menginap di mansion ini lagi karena Lara pasti akan tersinggung.
Mansion ini milik Phoenix dan otomatis itu akan menjadi milik Lara nanti. Dia tak ingin ada perang dingin di dalam rumah ini nantinya.
Galy cukup mengerti apa yang dirasakan Lara jika Davina tetap selalu berkunjung ke mansion ini bahkan sampai menginap.