
Lara membuka pintunya dan menarik tangan Velvet masuk.
"Wait ... Kau masih mengikuti caraku tidur?" tanya Velvet tertawa pelan.
"Ya, dan ini membuatku nyaman," jawab Lara yang kemudian mengikat selimutnya di dadanya.
"Baiklah ... Kakak pulang dulu. Nanti kau bisa pulang bersama Phoenix," ucap Velvet mencium kedua pipi Lara lalu memencet hidung mancungnya dengan gemas.
"Kakak ... Itu sakit," protes Lara dan memegang hidungnya.
Velvet tertawa dan kini mencubit gemas pipi Lara yang chubby.
"Kakak ... Aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi," ucap Lara.
"Kau tetap anak kecil di mataku. Baiklah, bye sweety," kata Velvet melambaikan tangannya lalu keluar dari kamar Lara.
Lara mengintip dari balik pintu dan melihat Velvet sampai bayangan Velvet menghilang di balik lorong.
Ketika akan menutup pintunya, Phoenix lewat di depannya dan melihatnya.
Lara segera menutup pintunya karena dia hanya menggunakan selimut saja.
Phoenix mengetuk pintu Lara..
"Ada apa?" tanya Lara dari dalam.
"Bersiaplah, kita juga akan kembali ke apartemen sekarang juga," jawab Phoenix.
"Aku ingin tidur sebentar," ucap Lara.
"Tidak bisa. Kita harus pulang sekarang. Nanti perusahaan kita akan meeting kembali. Besok aku harus ke Rusia," jawab Phoenix.
"Baiklah," kata Lara.
Lalu Lara langsung ke kamar mandi. Dia menyempatkan dirinya untuk mandi dan segera berganti baju.
Usai itu, Lara langsung keluar kamar dan Phoenix sudah menunggunya di taman depan. Phoenix menyandar di mobil sportnya.
Lara melihat ke arah mata Phoenix dan kemudian langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya tak terkunci.
Lara masih memakai pakaian kerjanya kemarin. Setelan kerja yang cukup membentuk tubuh rampingnya.
Bagaikan memiliki daya magnet yang kuat, hal itu membuat mata Phoenix melihatnya dan Lara tahu hal itu.
Pun begitu, Lara tak membenarkan roknya yang cukup terbuka itu. Dia justru senang jika Phoenix tampak tergoda.
Sedingin-dinginnya Phoenix, dia tetap pria biasa yang memiliki nafsu pada seorang wanita, bukan? Itu yang ada di pikiran Lara.
"Ini masih sangat gelap, dan kau memaksaku untuk pulang. Menyebalkan," ucap Lara yang memejamkan matanya karena memang masih mengantuk.
"Kau bisa melanjutkan tidurmu di apartemen," jawab Phoenix.
Lara membuka sepatunya dan menekuk kakinya ke atas kursi dan memeluknya dengan kedua tangannya.
Pandangannya kembali terarah ke luar mobil yang masih terlihat gelap tetapi menyejukkan karena masih belum ada orang-orang yang beraktivitas.
Posisi duduk Lara membuat belahan roknya semakin keatas dan hampir seluruh pahanya terlihat.
"Duduklah yang benar. Pahamu terlihat," ucap Phoenix.
Lara tertawa pelan tanpa melihat ke arah Phoenix.
"Kau sudah melihat seluruh tubuhku. Jadi tak masalah bagiku dan bagimu, bukan?" balas Lara.
Lalu Lara menoleh pada Phoenix dan bersandar di kursi dengan santai.
"Beberapa hari yang lalu, sempat terlintas di pikiranku untuk mencari seorang gigolo. Aku sangat ingin melakukan sekks ketika itu. Apakah menurutmu itu hal yang normal? Aku baru pertama kali melakukannya denganmu dan ternyata aku menginginkannya lagi. Tetapi Gonza mencegahku melakukan hal itu karena itu sangat beresiko menurutnya," ucap Lara dengan lugunya dan membuat Phoenix meminggirkan mobilnya dan menginjak rem mobil dengan dalam.
Phoenix menoleh pada Lara.
"Apa kau gila, Lara???" bentak Phoenix.
Lara menatap Phoenix heran.
"Why? Apakah ada yang salah? Aku wanita dewasa yang membutuhkan hal itu. Dan melakukannya dengan seorang gigolo itu lebih aman dari pada aku harus menjalin hubungan dengan seorang pria secara personal. Aku sudah cukup banyak mencari tahu hal itu," ucap Lara.
"Tentu saja itu benar-benar salah. Itu sangat menjijikkan," kata Phoenix kesal yang tak habis pikir bagaimana Lara bisa memiliki pikiran seliar itu.
"Aku hanya mengikuti reaksi tubuhku saja. Bukankah ini hal yang alami? Dan ketika aku menginginkannya, aku tak bisa melakukan apapun termasuk merokok hingga membuat kepalaku pusing," kata Lara dengan polosnya.
"Oh my God ..." Phoenix memandang Lara dengan heran.