BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#54



Tiba-tiba ponsel Phoenix yang ada di meja berdering. Lara menoleh dan melihat ke arah ponsel Phoenix yang masih berdering.


Lara kemudian mengambil ponsel itu dan melihat nama Davina di layar ponsel.


"Good," gumam Lara lalu mengangkat ponsel Phoenix dengan tangan kirinya.


"Halo," ucap Lara datar.


"K-kau?! ... Ma-mana Phoenix? Kalian sedang meeting?" tanya Davina tergagap sekaligus sedikit kesal.


"Dia di kamar mandi," jawab Lara sembari menghisap rokoknya kembali.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Davina dari seberang telepon.


"Bukan urusanmu. Ini urusan orang dewasa yang tak perlu disebar kemanapun," jawab Lara tersenyum dan duduk santai di sofa.


"Apa yang kau lakukan pada Phoenix? Tak mungkin Phoenix melakukan hal itu denganmu. Aku sangat mengenalnya. Apa yang kau lakukan padanya, LARA??!!" bentak Davina marah.


"Kau berani marah padaku? Bukankah kemarin kau memohon-mohon padaku untuk memaafkanmu? Sungguh palsu," jawab Lara tertawa pelan.


"Ah ya ... Apa kau kekasih Phoenix? Dia masih bebas dan single jadi tak masalah jika aku mendekatinya, bukan?" tanya Lara.


"Kau selalu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!!" marah Davina yang sekarang tampak terdengar menangis.


"Ooohh ... Kasian sekali gadis manja ini. Usahamu bertahun-tahun untuk mendekatinya terpatahkan olehku, Davina. Ingatlah satu hal. Kau tak akan pernah menang dariku," ucap Lara dengan nada dingin.


"LARA!!! Aku benar-benar meminta maaf atas kesalahanku dulu. Tapi mengapa kau justru menciptakan kebencian ini lagi. Tolong, jangan mengganggu hidupku, Lara. Pleasee," mohon Davina sembari menangis.


"Kau mau menukar Phoenix dengan perusahaanmu mungkin? Ah ya, kau tak akan berani melakukannya," kata Lara.


"Laraaa ... Tolong lepaskan Phoenix. Aku sangat mencintainya dan tak mudah bagiku untuk membuatnya sedekat ini denganku. Jangan mengambil kebahagiaanku lagi, Lara," mohon Lara lagi.


"Aku mengambil kebahagiaanmu? Coba berikan salah satu contohnya?" balas Lara menghisap kembali rokoknya.


"Why Lara??? Why?? Mengapa harus aku? Bukankah kau sudah hidup bahagia?"


"Kau tahu kebahagiaanku? Melihatmu menderita dan gila atau mungkin bunuh diri. Oh God ... Aku tak sabar menunggu scene itu," Lara tertawa bahagia.


"Kau gila, Lara."


"Hmm, whatever," ucap Lara tak peduli.


"Apa kau akan mengirim ibumu lagi untuk menemuiku?" tanya Lara.


"Apa maksudmu? Aku tak mengerti," jawab Davina.


"Aku tak percaya kau tak tahu. Kau dan ibumu sama saja, Davina," ucap Lara.


"Jangan membuatku untuk menjadi jahat lagi padamu, Lara!!" bentak Davina.


"Hei ... Aku lebih jahat darimu. Aku adalah antagonis dan aku tak mau menjadi protagonis dalam cerita kita ini. Aku menawarkanmu untuk menjadi protagonis yang teraniaya dan cengeng serta mendapat banyak pembelaan dari protagonis lainnya, bagaimana? Aku lumayan baik, bukan?" Lara tertawa pelan.


Lalu tiba-tiba Phoenix yang baru keluar dari kamar langsung mengambil ponsel yang ada di tangan Lara. Lara tersenyum santai dan berdiri kemudian mengecup bibir Phoenix dengan beraninya.


"Panggil aku jika kau membutuhkan teman ranjang lagi. Oh ya, biarkan bajuku di sini saja. Aku cukup nyaman memakai bajumu," ucap Lara pas di depan ponsel Phoenix agar Davina mendengarnya.


Lalu Lara berbalik dan menuju pintu sambil membawa tasnya. Dia berjalan santai hanya dengan memakai kemeja putih milik Phoenix yang membuat kaki jenjangnya terlihat sempurna.


Lara tetap sambil merokok dan membuka pintu Phoenix lalu mengedipkan matanya pada Phoenix sebelum keluar dan menutup pintunya kembali.