BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#58



"Aku akan bertemu dengan kak Velvet di luar saja," jawab Lara.


"Sekarang keluarlah," usir Lara dengan nada datar.


CEKLEK ...


Gonza tampak menunduk hormat lalu masuk dan memberikan bungkusan kecil pada Lara.


"Aku juga membelikan anda vitamin sesuai pesan tuan Silas, Nona," ucap Gonza.


"Thankz, Gonza," jawab Lara dan menerima bungkusan itu pada Lara.


Lalu Gonza keluar kembali. Lara membuka bungkusan itu dan meminum obat yang diberikan oleh Gonza tadi karena dia sudah tak tahan dengan sakit di kepalanya.


Lara tak peduli meskipun masih ada Phoenix di sana dan mengawasinya. Lara merebahkan kepalanya di sandaran kursi dan menutup matanya.


"Pergilah, aku akan menghubungi kak Velvet nanti," ucap Lara lirih dengan mata yang terpejam.


"Kau sakit?" tanya Phoenix.


"Itu bukan urusanmu," jawab Lara.


Lalu Phoenix justru duduk di kursi yang ada di depan meja Lara.


Lama mereka terdiam dan sama sekali tak ada obrolan. Lara benar-benar tak peduli pada Phoenix karena sakit kepala yang melandanya. Lalu Lara membuka sepatunya dan menuju sofa dan tidur meringkuk di sana. Efek obat membuatnya mengantuk.


Phoenix melihat setiap gerak Lara hingga akhirnya Lara tertidur pulas di kursi sofa. Tak lama kemudian, asisten Lara tampak masuk dan Phoenix meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, tanda agar tak mengganggu Lara yang sedang tertidur.


Asisten Lara tampak mengangguk dan keluar lagi dari ruangannya. Phoenix berdiri dari kursinya dan menghampiri Lara. Dia duduk berlutut di depan wajah Lara yang tertidur pulas.


Phoenix hanya memandangi wajah cantik Lara saja tanpa melakukan apapun. Lara -- gadis yang baru saja dikenalnya dengan nekatnya memberikan kehormatannya hanya untuk membalaskan sakit hatinya kepada Davina.


Mungkin jika hubungan mereka tak dimulai dengan hal itu, Phoenix akan secara alami menyukainya karena Lara adalah tipe wanitanya.


Tapi perbuatan Lara yang memanfaatkan dirinya, begitu membuatnya kecewa dan Phoenix memang menghindari Lara sementara waktu untuk memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Lara.


Tak mudah berada di posisinya saat ini. Meskipun Lara dengan sengaja memberikan kehormatannya, tetapi itu tetap membuat Phoenix merasa memiliki tanggung jawab pada Lara.


Apapun yang dilakukan Davina untuk menebus kesalahannya pada Lara nanti, itu tak akan ada gunanya karena Lara hanya menginginkan kehancuran Davina. Davina hanya menyiapkan dirinya untuk bisa menghadapi dendam Lara.


Phoenix dengan jelas mengatakan pada Davina, bahwa jangan mengharapkan dirinya karena itu sesuatu yang tak akan mungkin terjadi. Phoenix hanya menganggap Davina teman dekat, tak lebih dan Phoenix selalu menekankan hal itu pada Davina berkali-kali.


Karena dengan hal ini, membuat Lara mungkin berniat tak akan memanfaatkannya lagi untuk menyerang Davina. Phoenix tak mau berada di tenga-tengah perseteruan Lara dan Davina.


*


*


*


Lara terbangun di sore hari. Lara segera beranjak dari sofa dan melihat jam di ponselnya. Di mejanya terdapat beberapa macam makanan dan jus buah.


Karena lapar, Lara langsung memakan makanan itu dengan sangat lahap. Seusai makan, Lara menelepon Velvet.


"Halo, Kakak?" ucap Lara.


"Sayang ... Kau di mana?" tanya Velvet di seberang telepon.


"Aku masih di perusahaan," jawab Lara.


"Nanti malam kemarilah. Kita makan malam bersama," kata Velvet.


"Tidak bisakah kita bertemu di luar saja, Kak?" tanya Lara.


"Tidak, Lara. Damon akan marah jika aku tak menemaninya makan malam. Kemarilah, hanya ada aku dan Damon yang ada di mansion," ucap Velvet.


"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan ke sana," jawab Lara tersenyum.


"Oke, bye," balas Velvet.


Lara menutup ponselnya dan bersiap-siap pulang. Pusing di kepalanya telah hilang dan Lara meminum vitaminnya terlebih dulu sebelum pulang.