BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#65



Hampir 3 minggu berlalu. Selama itu pula, Lara dan Phoenix tak bertemu. Apakah mereka masih menjalin komunikasi? Jawabannya adalah iya, tetapi hanya seputar bisnis saja.


Jika mereka membicarakan sesuatu di luar bisnis, itu akan memecah konsentrasi mereka dalam bekerja.


Dan itu tak bermasalah bagi mereka. Mereka sama-sama santai menjalaninya. Apalagi hubungan mereka masih abu-abu dan belum jelas.


Hingga akhirnya telepon Phoenix berbunyi dan itu adalah panggilan dari Lara.


Phoenix mengangkat teleponnya. "Halo," ucapnya.


"Apa yang kau lakukan? Apa maksudmu memasukkan perusahaan Davina di dalam proyek kita???" marah Lara.


Phoenix tahu akan menerima kemarahan Lara karena hal ini dan sebenarnya ini bukanlah keinginan Phoenix semata.


Perusahaan Davina sudah sangat stabil dan para pemegang saham cukup setuju jika perusahaan Davina yang masuk ke dalam proyek mereka bersama perusahaan Lara daripada perusahaan rekanan mereka yang lainnya.


Meskipun sebenarnya Phoenix adalah pemegang saham tertinggi, tetapi dia juga memperhitungkan keberhasilan proyeknya untuk ke depannya.


Phoenix memang menempatkan beberapa orang-orangnya di dalam perusahaan Davina dalam 3 tahun belakangan.


Itu artinya perusahaan Davina ada dalam kuasa Phoenix karena dulu Phoenix lah yang menjadi penyelamat perusahaan itu.


"Saham tertinggi di perusahaan Davina adalah milikku karena dulu aku membantunya ketika akan collaps. Dan perusahaan itu cukup stabil dan kuat sekarang untuk masuk ke dalam proyek kita," jawab Phoenix dengan tenang.


"Ooohh romantis sekali kisah kalian. Aku tak mau tahu dengan hal itu. Aku tak ingin bekerja sama dengannya!!" bentak Lara emosi.


"Bersikaplah profesional, Lara. Bukankah kau pernah mengatakan hal itu padaku?" tanya Phoenix.


"Aku akan memutuskan kerja sama denganmu jika kau tetap memasukkan perusahaan Davina ke dalam proyek kita," ancam Lara.


"Kau tak bisa melakukan hal itu karena tuan Silas sudah menyetujuinya," jawab Phoenix.


Lara begitu terkejut mendengar hal itu. Dia tak menyangka bahwa dirinya tak dilibatkan untuk memutuskan hal ini sebelumnya.


'Jadi aku tak penting bagi kalian?' batin Lara marah.


Lara akhirnya menutup teleponnya dan melemparnya ke lantai hingga ponselnya pecah.


"Aku benci kalian. Aku sangat membenci kalian. Kalian menusukku dari belakang. Bukankah kalian tahu bahwa aku sangat membencinya??!!" teriak Lara frustasi.


Kekesalannya membuat hatinya sangat sakit dan Lara menepuk-nepuk dadanya yang terasa ngilu karena hal itu.


Pada akhirnya tetap tak ada yang mengerti dirinya dan dia hanya sendirian. Lara benar-benar kecewa pada Phoenix dan Tuan Silas yang dia pikir mengerti akan dirinya.


"I hate you. I hate you so much," ucap Lara lirih lalu tiba-tiba pandangannya menjadi buram dan akhirnya Lara pun jatuh pingsan.


*


*


*


Setengah jam kemudian, Lara terbangun. Dia membuka matanya perlahan.


Lara mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangannya di tempat yang tak dikenalnya itu.


"Nona, anda sudah sadar?" tanya Gonza yang berdiri di samping tempat tidur Lara.


"Di mana aku?" tanya Lara memegang kepalanya yang pusing.


"Anda di rumah sakit, Nona. Tadi nona pingsan," jawab Gonza.


Lara melihat tangannya yang di pasang infus.


"Apa kata dokter? Apakah ada masalah dengan kesehatanku?" tanya Lara lirih.


Gonza terdiam sebentar. Lalu dia berkata, "Anda hamil, Nona."


Lara langsung menoleh ke arah Gonza. Dia mencerna terlebih dulu perkataan Gonza barusan.


"Apa yang kau katakan? Katakan sekali lagi," ucap Lara.


"Kata dokter, anda hamil, Nona," jawab Gonza sekali lagi.


Senyum Lara akhirnya mengembang mendengar hal itu.


'Kali ini kau tak akan bisa menolak keinginanku, Phoenix. Aku akan menguasaimu dengan kehamilanku,' batin Lara.