BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#50



Lara adalah sosok yang tak bisa berpura-pura menjadi orang lain. Lara adalah Lara. Dia bisa saja mendekati keluarga Robert melalui Velvet.


Tapi Lara tak bisa bersikap manis seperti Davina yang menggunakan senyum manis dan tutur lembutnya untuk masuk ke dalam circle keluarga Phoenix.


Tidak, itu bukan cara Lara. Lara lebih suka cara singkat yang memaksa keluarga Robert untuk mendukungnya. Dia sudah muak dengan kepuraa-puraan. Di pikirannya hanya ingin melihat kehancuran Davina saja.


Lara pergi ke restoran dengan supir dan juga Gonza pastinya. Sesampainya di sana, Lara langsung menuju tempat makan malam di ruangan VVIP yang dipesan oleh Silas.


"Halo, Sayang. Kau terlihat sangat cantik malam ini," kata Silas dan Lara mencium kedua pipi Silas.


"Uncle sehat? Apakah uncle sudah menemukan wanita yang akan merawat uncle di hari tua?" tanya Lara datar yang justru di sambut tawa oleh beberapa rekan bisnis Silas kecuali Phoenix yang sama sekali tak tertawa dan matanya hanya tertuju pada sosok Lara.


Sejak mengetahui tentang masalah Davina dan Lara, Phoenix justru menghindari keduanya sesuai saran daddynya untuk membuat situasinya tetap terkendali.


Mata biru Lara tertumbuk pada mata Phoenix yang tampak menatapnya tajam. Lara menyunggingkan senyum tipis pada Phoenix. Senyum yang hampir tak terlihat dan hanya Phoenix yang melihatnya.


"Duduklah, Lara sayang. Ah ya, kapan kau akan menemui anak uncle? Dia sudah menunggu berbulan-bulan untuk berkencan denganmu," ucap Tuan Xander yang merupakan salah satu sahabat dekat Silas.


"Aku tak tertarik berkencan, Uncle. Aku lebih suka bekerja," jawab Lara santai sambil meminum minumannya yang ada di depan mejanya.


"Oooh ... Kau akan membuatnya patah hati, Lara. Setidaknya cobalah dulu. Uncle sangat mengenal anak tuan Xander dengan baik. Dia pria yang baik dan kurasa akan cocok denganmu. Dia sangat manis dan romantis," ucap Silas menimpali.


"Thank you ... Kau mempromosikan anakku di depan Lara dengan sangat baik, Silas," ucap Xander tertawa pelan.


Xander dan Silas tertawa bersamaan karena ucapan Lara itu. Reaksi Phoenix? Terkesan cuek dan menanggapi apapun obrolan ringan itu.


Kemudian obrolan dilanjutkan dengan pembicaraan tentang bisnis mereka. Lara tampak bisa membaur dan masuk ke dalam obrolan itu karena dia sudah terlatih dan terbiasa dengan hal itu. Itu tak terlepas dari peran Silas yang selalu membawa Lara kemanapun dia menghadiri acara bisnis.


Lara yang sangat cerdas dan pintar langsung bisa menyerap ilmu yang diajarkan oleh Silas dengan cepat.


Dalam makan malam itu, Lara dan Phoenix bahkan tak berinteraksi sama sekali. Lara tak suka dengan hal itu karena dia pikir akan mudah memancing Phoenix tetapi ternyata tak semudah itu.


Makan malam pun berakhir. Semuanya pun pulang. Lara berada di depan Lobby hotel dan menunggu supirnya menjemput.


Phoenix yang lewat mau tak mau menghentikan mobilnya di depan Lara karena melihat Lara sendirian di sana. Phoenix membuka kaca jendela mobil mewahnya dan menoleh ke arah Lara.


"Ke mana supir dan bodyguardmu?" tanya Phoenix.


Lara hanya mengedikkan bahunya tanpa menjawab.


"Naiklah ... Tujuan kita sama," ucap Phoenix datar.


Kemudian Lara pun masuk ke dalam mobil Phoenix tanpa banyak bicara. Phoenix tak heran dengan hal itu karena Lara termasuk orang yang tak terlalu banyak drama dan basa-basi.


Lalu Phoenix pun akhirnya melajukan mobilnya lagi. Mereka pulang bersama menuju apertemen.