BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#107



Davina sedang berada di rumahnya saat ini. Dia hanya mendekam saja di sana. Dia sudab tak peduli lagi dengan nasib ibunya.


Davina mulai membereskan barang-barangnya karena akan pergi dari rumah peninggalan ayahnya.


Pasalnya sang mommy juga menjaminkan rumah ini pada salah seorang rentenir yang lain.


Ternyata Berly memiliki hutang di beberapa rentenir. Davina pasrah dengan hidupnya saat ini.


Ponsel Davina berbunyi tetapi Davina tak semangat untuk menjawabnya.


Karena tak kunjung berhenti berdering, akhirnya Davina mengangkatnya.


"Halo," jawab Davina.


"Ini Nona Davina Wilson?" tanya seseorang di seberang telepon.


"Ya, siapa anda?"


"Kami dari kepolisian. Ibu anda -- Nyonya Berly Wilson -- telah kami tangkap atas penusukan pada nona Iris dan percobaan pembunuhan pada nona Lara Robert," jawab sang polisi.


"APA???!!" Davina begitu terkejut mendengar hal itu.


Davina terduduk di lantai karena rasa shocknya. Dia tak menyangka ibunya akan senekat itu pada Lara.


Davina tak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan polisi yang membuat otaknya menjadi blank seketika.


"Dia bukan ibuku. Ya, dia bukan ibuku," kata Davina akhirnya.


"Anda harus datang kemari, Nona," ucap polisi itu.


"Sudah kubilang DIA BUKAN IBUKU!! TERSERAH KALIAN AKAN MELAKUKAN APAPUN PADANYA!!! AKU TAK PEDULI!!" teriak Davina frustasi.


Lalu Davina melempar ponselnya dan menangis sejadi-jadinya. Siapa yang menyangka bahwa dirinya akan bernasib seperti ini.


Hidupnya hancur sehancur-hancurnya. Dia berada di titik yang terbawah saat ini.


"Apakah ini balasan atas perbuatanku padamu dulu, Lara?" gumam Davina dengan suara lirih dengan tubuh yang berbaring di atas lantai marmer yang terasa dingin.


"Maafkan aku, Dad. Maafkan aku ... Aku membohongimu dulu. Aku tak pernah mencari Lara. Maafkan aku," Davina menangis penuh penyesalah.


"Maafkan aku ..." tangisnya pilu dan memeluk tubuhnya di atas lantai.


Rumah kosong itu kini hanya terdengar tangisan Davina yang menggema.


*


*


Tetapi Phoenix memaksa agar Lara dirawat sampai keadaannya benar-benar membaik terutama mentalnya.


Keadaan Iris membuat Lara down dan berpengaruh pada kehamilannya.


"Apakah operasinya lancar?" tanya Lara pada Phoenix.


"Hmm, Gonza sedang menunggunya. Kata dokter keadaan Iris sudah stabil. Jangan khawatir." Pria dengan wajah lesu itu tampak mencium punggung tangan sang istri.


CEKLEK ...


Pintu terbuka dan tampak Velvet serta Damon masuk dengan wajah khawatirnya.


"Bagaimana keadaanmu, Lara?" tanya Velvet yang langsung memeluk Lara.


"Aku baik-baik saja, Kak. Tetapi Iris ..." Ucapan Lara menggantung.


"Tenanglah, Iris pasti baik-baik saja. Aku sudah melihatnya tadi," kata Velvet untuk menenangkan Lara.


"Hmm," jawab Lara singkat.


"Kau sudah mengurusnya?" tanya Damon.


"Ya," jawab Phoenix.


Lalu mereka pun tak membahas kembali hal itu. Fokus mereka kini hanya menenangkan Lara yang masih sangat khawatir dengan keadaan Iris.


Karena Lara begitu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Iris. Berly ingin menyerangnya, bukan Iris.


Tetapi justru Iris-lah yang menjadi korban. Lara bisa saja menghabisi Berly tetapi itu tak dilakukannya karena menurutnya itu hal yang tak berguna.


Lebih baik melihat Berly membusuk di penjara dari pada mati dengan mudahnya.


"Aku tak akan tenang jika Iris belum sadar," ucap Lara yang memaksa ingin melihat keadaan Iris.


"Honey ... Iris baik-baik saja di jaga oleh Gonza. Sekarang tenanglah dan beristirahatlah. Ingat apa yang dikatakan dokter tadi. Kau tak boleh terlalu stress." Phoenix sampai harus naik ke ranjang sempit itu untuk menenangkan Lara dengan cara memeluknya.


"Tapi aku tak bisa melakukan itu," sahut Lara keras kepala.


"Baiklah, aku akan merekam keadaan Iris dan memperlihatkannya padamu, Lara. Kau di sini saja, Oke?" kata Damon.


"Hmm, pergilah ke kamar Iris, Kak," jawab Phoenix tanpa menunggu jawaban Lara.