
"Apa kita perlu beristirahat, Nona?" tanya Iris karena mereka sudah melakukan perjalanan sekitar 8 jam lamanya.
"Tidak perlu," ucap Lara.
"Tapi kau sedang hamil. Tunggu, aku akan mencari rest area yang cukup nyaman untukmu," kata Iris.
"Tapi ini sudah malam, Iris," jawab Lara.
"Tidak, kau harus tetap istirahat. Gonza dan tuan Phoenix akan membunuhku jika terjadi sesuatu yang padamu dan bayimu," kata Iris.
"Hanya Gonza yang peduli padaku, Iris. Jadi kau harus siap menghadapinya," jawab Lara.
Iris tertawa pelan sembari mencari tempat peristirahatan di sekitar jalan itu.
Hingga akhirnya, Iris melihat semua restoran dengan view sebuah perbukitan yang cukup indah dengan cahaya lampu kelap kelip yang menghiasi pagarnya.
"Ayo turun, Nona," ucap Iris.
"Hmm, ayo" Lara turun dan mobil dan masuk ke dalam restoran itu. Suasana malam membuat udaranya semakin sejuk.
"Iris,tolong ambilkan jaket coklatku di kursi belakang," kata Lara yang sudah ada di depan pintu restoran.
"Oke, Bos," jawab Iris.
Lalu Iris mengambil jaket coklat besar itu dan memberikannya pada Lara. Kemudian Lara memakainya dan tubuhnya terasa hangat karena jaket tersebut.
Lara dan Iris pun memesan makanan serta minuman hangat untuk menghangatkan tubuh mereka.
Pandangan mereka tertumpu pada puncak bukit dan hamparan rumput hijau di depan mata mereka.
Tak ada obrolan apapun di antara mereka. Mereka berdua hanya menikmati pemandangan alam di depannya yang membuat pikiran mereka tenang.
Setelah 1 jam berada di sana, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar 2 jam lagi, mereka akan tiba di New Jersey.
Lara tampak tertidur lelap. Iris tetap fokus menyetir tanpa rasa lelah. Rasa lelahnya terhempas begitu saja karena dia akan segera bertemu dengan Gonza.
Dan dia berharap Gonza tak membencinya karena ikut dengan Lara ke kota.
2 jam kemudian, mereka pun sampai di New jersey. Sesuai pesan Lara, Iris menghentikan mobilnya di sebuah hotel berbintang lima yang dekat dengan perusahaan.
Lara membuka matanya perlahan dan mengerjap.
"Kita sudah sampai?" tanya Lara.
"Ya, Nona," jawab Iris.
"Hmm, ayo," ucap Lara.
Lalu mereka berdua pun turun dari mobil dan menuju ke pintu lobby hotel. Lara sudah membooking hotel tersebut melalui internet.
Setelah melakukan registrasi meja resepsionis, Lara dan Iris pun menuju ke arah lift untuk naik ke lantai 10.
Tangan Lara bersedekap di depan dadanya. Dia masih merasa kedinginan karena udara semakin dingin.
Ketika akan memasuki lift, bahu lara di sentuh oleh seseorang. Lara menoleh ke belakang dan melihat seseorang yang dikenalnya.
"Lara?" ucap Galy tampak tertegun melihat Lara.
"Aunty?" sahut Lara.
Galy masih mengamati Lara, tidak, Galy lebih tepatnya mengamati jaket yang dipakai Lara.
'Ini jaket Phoenix. Aku sangat mengingatnya karena ini hadiah ulang tahun dariku. Jadi gadis itu adalah Lara? Ya Tuhan, sempit sekali dunia ini,'' batin Galy.
"Aunty ..." panggil Lara kembali karena Galy masih terpaku.
Lalu Galy tersadar dan segera memeluk Lara.
"Dari mana saja kau, Sayang. Kau tahu betapa Phoenix kebingungan mencarimu?" tanya Galy sembari mengusap-usap punggung Lara berkali-kali.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja," jawab Lara seadanya.
"Jangan pernah lagi pergi tanpa pamit darinya, Lara. Jangan pernah," ucap Galy lirih dengan masih memeluk Lara.
Lara cukup heran dengan sikap Galy yang menurutnya sedikit berubah padanya. Mungkin karena dirinya kini telah hamil calon cucunya.