
"Ada apa dengannya?" tanya Velvet yang baru masuk ke kamar Lara dengan membawa nampan makanan.
"Dia tak enak badan, Kak." Lara memegang kepala Phoenix.
Galy yang kemudian juga masuk kamar mendengar hal itu. Galy mendekati putra bungsunya itu dan memegang leher serta keningnya.
"Kau tidak demam. Apa ada yang sakit?" ucap Galy.
"Perutku mual dan aku muntah beberapa kali, Mom. Bisakah panggilkan dokter kemari. Dan sekarang kepalaku pusing," jawab Phoenix menutup matanya.
"Oh my ... Kurasa itu balasan untukmu, Phoenix," ucap Velvet.
"Kak .." sahut Lara.
Galy tampak tersenyum dan beranjak dari ranjang. Lara memandang heran pada Galy yang seharusnya khawatir, bukan?
"Tenangalah, Sayang. Phoenix sedang mengidam saja menggantikan dirimu. Bersyukurlah kau tak mengalami mual dan muntah itu," ucap Galy yang melihat Lara kebingungan.
"Mengidam?" ucap Lara.
"Ya, dia mengalami kehamilan simpatik. Dia terlalu khawatir padamu jadi kini dia yang merasakan sakitnya," jawab Galy.
Galy lalu keluar dan mengambil ponselnya untuk menelepon dokter.
"Oh God ..." keluh Phoenix yang merasakan tak enak di perutnya.
"Ayo makan sarapanmu, Lara. Bayimu membutuhkan makanan ini," kata Velvet.
"Aku akan makan sendiri, Kak," jawab Lara.
Lalu Velvet memberikan piring berisi makanan itu pada Lara.
Lara mulai makan dengan lumayan lahap karena semalam hanya makan sedikit saja. Lara mempercepat makannya karena tak tega melihat Phoenix yang masih tampak pucat.
"Pelan-palan saja, Lara. Dokter akan memeriksa Phoenix nanti. Dia sehat dan hanya menerima sedikit karma saja," ucap Velvet yang seakan tahu pikiran Lara.
"Mengapa kau menyebalkan sekali, Vel?" lirih Phoenix yang kini merangkul pinggang Lara dan menyembunyikan kepalanya di balik punggung Lara.
"Hei ... Lara susah bergerak jika kau seperti itu padanya," ujar Velvet.
"Ya, aku rela seperti ini untukmu, Honey," jawab Phoenix pelan.
"Dasar anak manja," ledek Velvet.
Lara melanjutkan makannya dan akhirnya selesai dengan lumayan cepat. Setelah minum air, Lara menaikkan kepala Phoenix ke pahanya agar Phoenix tidur dengan lebih nyaman.
"Aaahhh ... Ini membuatku sedikit nyaman," ucap Phoenix.
"Ck, seharusnya kau menidurkannya di lantai saja, Lara," kata Velvet dan membawa keluar piring kotor Lara tadi.
"Jangan kembali ke kamar ini, Vel," sahut Phoenix kesal.
Lara hanya tertawa pelan melihat Phoenix dan Velvet yang jarang akur karena dirinya.
Tak lama kemudian, dokter pun datang. Dokter hanya memberi saran dan resep obat untuk mengurangi gejala saja.
"Berapa lama aku akan mengalami hal ini?" tanya Phoenix.
"Itu tergantung anda dan istri anda, Tuan. Sebenarnya ini lebih ke faktor psikologis. Perbaiki hubugan kalian karena ada rasa kekhawatiran yang terlalu besar yang anda rasakan pada istri anda yang sedang mengandung," jawab Dokter.
"Apakah berlibur bisa menjadi solusi?" tanya Velvet.
"Itu ide yang bagus. Sindrom Couvade akan menghilang dengan sendirinya jika anda lebih rileks. Gejala itu muncul karena anda terlalu banyak beban pikiran. Itu bukanlah penyakit fisik ataupun mental. Jadi anda tak perlu khawatir," jawab Dokter.
"Terima kasih penjelasannya, Dokter," ucap Rey yang juga ada di kamar itu.
"Aku pamit dulu, Tuan," ucap dokter itu.
Rey dan Galy mengangguk.
"Banyak-banyaklah istirahat, Phoenix. Jangan pikirkan urusan perusahaan dulu. Daddy yang akan menghandlenya sementara," kata Rey.
"Thanks, Dad," jawab Phoenix.
"Selamat menikmati penderitaanmu, Adikku Sayang," ledek Damon yang kemudian keluar dari kamar.
"Ck ... Suami istri itu benar-benar menyebalkan," gumam Phoenix memegang kepalanya dan kembali berbaring di samping Lara yang duduk di tepi ranjang.