
Phoenix menarik tangan Lara agar Lara beranjak dari kursinya. Lara berdiri dengan perasaan yang berat. Dia akhirnya mengikuti langkah Phoenix karena Phoenix terus menggandeng tangannya.
Lara sebenarnya amat sangat mencintai Phoenix. Tapi kini dia begitu kecewa pada suaminya itu. Mungkin juga karena hormon kehamilannya membuat dirinya semakin cepat emosi dan sensitif.
Kini mereka berada di dalam mobil dan menuju ke mansion Phoenix. Lara sama sekali tak berbicara satu patah kata-pun pada Phoenix. Dia hanya diam dan melihat ke samping jendela mobil.
Begitu sampai di mansion, Lara keluar dari mobil terlebih dahulu. Phoenix segera menyusul di belakang langkah Lara.
Tiba-tiba tubuh Lara lunglai dan Phoenix cepat menangkapnya karena dia tepat ada di belakangnya. Lara pingsa dan terkulai lemas di pelukan Phoenix.
"Oh God ... Honey, ada apa denganmu?" ucap Phoenix panik.
Lalu Phoenix mengangkat Lara dan menggedongnya ke dalam.
"Apa Nona Lara tidak apa-apa, Tuan?" tanya seorang security yang melihat hal itu.
"Aku akan membawanya ke dalam," jawab Phoenix.
Phoenix segera masuk ke dalam mansionnya dan melihat keluarga besarnya sudah berkumpul di sana.
Damon -- sang kakak -- yang melihatnya pertama kali tampak menghampiri Phoenix.
"Ada apa dengan Lara?" tanya Damon.
"Dia pingsan di depan. Panggilkan dokter cepat," kata Phoenix dan membawa Lara ke dalam kamarnya.
"Ada apa? Oh my God," Galy yang melihatnya tampak sangat khawatir.
"Apa yang kau lakukan padanya, Phoenix?" tanya Velvet mengikuti Phoenix ke dalam kamar.
Phoenix tak menjawab dan merebahkan tubuh Lara di atas ranjang.
"Apa yang terjadi padanya, Phoenix?" tanya Dillon.
"Dia pingsan, Kak," jawab Phoenix.
"Dia pingsan pasti ada alasannya? Apa kalian bermasalah?" tanya Velvet menyelidik dan memegang tangan Lara yang dingin.
"Dia masih muncul di kehidupan kalian?" tanya Velvet marah.
"Cepat panggil dokter!!" kata Galy yang mengusap perut Lara dengan lembut.
"Kak Damon sudah menelepon dokter, Mom," jawab Phoenix.
"Jika terjadi apa-apa dengannya, aku tak akan melepaskan Davina," geram Velvet.
Phoenix hanya terdiam dan menangkup wajah pucat Lara serta terasa dingin. Phoenix menempelkan keningnya pada kening Lara.
"Sorry ... Maafkan aku," bisiknya.
Tak lama kemudian dokter pun datang dan segera memeriksanya.
"Sepertinya dia sedikit stress karena jantungnya berdebar lebih cepat. Aku akan memasang cairan infus untuknya nanti," ucap dokter.
"Jika besok belum membaik, lebih baik bedrest di rumah sakit," lanjut dokter.
"Apa itu bahaya dokter?" tanya Phoenix.
Dokter mengangguk. "Perkembangan janinnya akan terganggu dan itu akan berbahaya jika tak di tangani dengan cepat," jawab dokter.
Phoenix tampak mengepalkan tangannya.
"Oh my ..." Galy menutup mulutnya karena cukup terkejut dengan ucapan dokter.
"Apakah dia bekerja?" tanya dokter.
"Ya," jawab Phoenix.
"Lebih baik berhenti dulu agar tak banyak pikiran. Dia harus benar-benar tenang tak memikirkann sesuatu yang terlalu berat. Jika stres berlanjut mungkin saja terjadi depresi karena ketika hamil hormon kortisol akan mengalami peningkatan yang menyebabkan emosi tak stabil." Dokter menjelaskan.
"Jika dia sampai pingsan, itu berarti dia sudah ada di tahap stress yang cukup tinggi. Lebih banyak sharing itu lebih baik dari pada memendamnya," lanjut dokter.
Velvet mencium tangan Lara yang masih terasa dingin. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada lara dan bayinya.