
"MOM!!! Apa-apaan ini!!!" teriak Davina marah pada Berly dengan melemparkan kertas-kertas itu pada sang mommy.
Berly tampak santai dan melanjutkan makan malamnya.
"Itu hanya sedikit tagihan. Bayarlah, Davina. Bukankah kau memiliki banyak uang, Sayang?" jawab Berly santai.
"Apa maksudmu, Mom? Aku berusaha membangun perusahaan daddy dengan susah payah dan kini Phoenix sudah tak menyokongku lagi. Dan mommy dengan mudahnya berjudi dan membeli barang-barang mewah itu???" marah Davina.
"Oh come on, Honey. Harta dari daddy masih sangat banyak, bukan? Bayarlah dan jangan buat keributan. Mommy pusing mendengarnya," ucap Berly.
"Mommy!!! Jangan pergi!!" teriak Davina ketika Berly tampak akan masuk ke kamarnya.
Lalu Berly memutar badannya dan melihat ke arah putri semata wayangnya itu.
"Ada apa lagi?" tanya Berly.
"Aku tak akan membayar hutang-hutangmu, Mom. Tak akan pernah," ucap Davina dengan tatapan dingin.
"Apa kau gila?" marah Berly.
"Kau mau melihatku di penjara?" lanjut Berly marah.
"YA!!!! Lebih baik mommy di penjara. Aku sudah bosan dengan sikap mommy yang selalu boros seperti ini. Bukankah aku sudah memperingatkan mommy sebelumnya???!!" teriak Davina hingga kesabarannya telah habis.
"Jika kau tak bisa membayar hutang mommy maka mommy akan menjual saham mommy di perusahaan," ancam Berly.
"Jual saja dan bersiaplah untuk hidup di jalanan!!" marah Davina.
"Mommy berhutang pada rentenir untuk bermain judi. Dan mommy tahu berapa bunganya?? Hampir membengkak menjadi 10 kali lipat. Perusahaanku bisa gulung tikar jika seperti ini, MOM!!" Davina sampai tersengal-sengal melupkan emosinya.
"Dan mommy memakai kartu kreditku untuk membeli barang-barang mahal tak berguna itu. Apa yang ada di otak mommy???!!! Davina memukul-mukul meja makan di depannya hingga kacanya pecah dan tangannya berdarah.
"Apa yang kau lakukan?? Kau mau mati???" teriak Berly dan mengambil kain lap lalu membalutkannya ke tangan Davina tetapi dia menepis bantuan dari mommynya itu.
"YA!!! Aku lebih baik mati, Mom, daripada hidup seperti ini!!!" Davina menangis histeris dan Berly memundurkan langkahnya.
"Kau tak menyayangi mommy, Davina. Padahal mommy begitu menyayangimu," kata Berly menangis.
"Kau tak menyayangiku, Mom. Tidak ... Kau sama sekali tak pernah menyayangiku. Kau hanya menyayangi dirimu sendiri. Hanya daddy yang menyayangiku. Kau membuatku seperti sapi perahmu." Davina berlutut di lantai dan menangis mengingat ayahnya yang begitu menyayanginya hingga membuat Davina sedikit merubah sifatnya yang culas.
"Tidak, ini pasti karena Lara. Jika Phoenix tak melepaskan perusahaanmu kau pasti bisa membayar hutang mommy. Iya, kan?" kata Berly seakan tak terima.
"Jangan libatkan Lara dalam hal ini, MOM!!! Ini semua salahmu. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Mom. Why??? Bukan Lara yang menghancurkanku tetapi dirimu!! Kau menghancurkanku, MOM. Kau membuatku hancur. Apa yang harus kulakukan sekarang???" Davina masih menangis histeris.
Sudah lama Berly memiliki kecanduan berjudi. Awalnya hanya untuk senang-senang semata. Tetapi karena pergaulan sosialitanya yang tak terlalu baik, membuatnya semakin berani bermain judi dalam jumlah yang besar.
Apalagi dia memiliki hobby berbelanja barang mewah karena hanya untuk gengsi semata.
Davina dulu masih bisa menanggungnya tetapi untuk kali ini Davina tak bisa menanggungnya lagi karena jumlahnya terlampau besar.
Bahkan jika dia menjual sahamnya itu tak akan cukup karena sahamnya hanya sedikit saja di perusahaannya sendiri.
"Kau benar-benar membuatku gila, Mom," tangis Davina yang masih terduduk di atas lantai.