BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#100



Keesokan harinya, Phoenix dan Lara pergi ke Villa yang ada di daerah perbukitan. Vila itu cukup indah dengan arsitektur bangunan vintage.


Ada air terjun buatan di halaman belakangnya dan membuat Lara merasa tenang dan moodnya membaik.


"Ini sangat indah, Phoenix," kata Lara merentangkan tangannya.


"Hmm, kau suka?" Phoenix memeluk perut Lara dari belakang dan mencium tengkuk lehernya.


Lara hanya mengangguk kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Lara.


"Punggungmu sudah tidak sakit?" tanya Lara karena pasalnya tadi pagi punggung Phoenix sakit efek dari gejala sindrom couvade yang masih dirasakannya.


"Tidak terlalu. Aku sudah mulai terbiasa. Asal bersamamu saja membuatku sedikit tak merasakan sakitnya," jawab Phoenix tersenyum dan membelai pipi Lara.


Lara pun tersenyum tipis dan berjinjit kemudian mengecup bibir Phoenix.


"Kau ingin makan apa hari ini? Aku akan menyuruh pelayan memasakkan makannan kesukaanmu," ucap Phoenix.


"Apapun makanannya akan kumakan. Sudah kubilang aku bukan pemilih, kan?" jawab Lara.


Lalu Phoenix sedikit mengangkat pinggang Lara agar dia bisa menciumnya dengan leluasa tanpa menunduk.


Cukup lama mereka berciuman. "I love you," bisik Phoenix sembari menggesekkan hidungnya pada Lara.


Meskipun sudah tak terhitung berapa kali mereka berciuman, tetapi Lara tetap merasakan getaran di tubuhnya setiap Phoenix menciumnya.


Phoenix masih memandang mata biru Lara untuk menunggu balasan dari ucapannya itu.


"Ooohh ... Jangan menunggu jawabannya," kata Lara akhirnya.


"Jika kau tak mengatakan hal itu, aku akan menjadi sakit kembali, Honey," jawab Phoenix.


"Ck ..." Lara mencebik.


"Good girl," Phoenix kembali mengecup bibir Lara dan kemudian membawanya duduk di sofa dekat beranda itu.


*


*


Sudah 3 hari, Lara dan Phoenix berada di villa. Lara seakan enggan pulang dari sana karena terlalu nyaman dengan suasana di Villa itu.


Phoenix hanya bisa menurutinya hanya demi melihat Lara bahagia. Lara lebih sering tertawa sekarang. Mungkin karena dia sama sekali sudah tak memikirkan masalahnya dengan Davina.


Phoenix tak ingin tahu apapun lagi tentang Davina untuk menjaga perasaan Lara. Dia menyerahkan semuanya pada sang kakak tertuanya -- Damon.


Apakah Phoenix masih merasakan mual dan muntah? Ya, Phoenix terkadang masih sering merasakan mual tetapi dia bersyukur tidak pernah muntah lagi. Setidaknya itu tak membuat tubuhnya lemas karena dia juga harus menjaga Lara di sana.


Lambat laun Lara dan Phoenix pun semakin dekat dan lebih mengenal pribadi masing-masing. Lara tak sedingin apa yang dipikirkannya selama ini. Inilah Lara yang sebenarnya. Gadis cantik yang 8 tahun lalu di temuinya.


Kini Phoenix tampak memandangi Lara yang sedang asyik bercerita tentang kebersamaannya dengan Velvet dulu ketika masih di penjara anak.


Hanya hal itu yang menurut Lara adalah kenangan termanisnya. Phoenix menopang dagunya sembari melihat Lara bercerita dengan tangan yang sibuk membuat susu.


"Kau cantik," ucap Phoenix ketika Lara menyelesaikan ceritanya dan kini sedang mengaduk susunya.


"Aku bosan mendengarnya. Sungguh," jawab Lara seperti biasa.


Phoenix tertawa pelan dan melihat Lara meminum susunya sampai habis.


"Aaahh ... Susu ini sangat enak. Banyak krim di dalamnya," ucap Lara hingga menjilat habis susu itu sampai pinggir bibirnya ada bekas susu yang cukup banyak.


Phoenix berdiri dan mengambil tisu lalu membersihkan bekas susu itu di pinggir bibir Lara dengan sentuhan terakhir sebuah kecupan dari Phoenix.