BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#82



Lara dan Galy masuk ke dalam ruang makan. Di sana sudah berkumpul semua orang termasuk Davina.


Davina tampak tersenyum pada Lara tetapi Lara tak menggubrisnya.


'Kau menyebalkan, Lara. Baiklah, aku akan mengganggu hubunganmu dan Phoenix mulai saat ini. Aku masih tak percaya Phoenix begitu mudahnya menyukaimu. Kau tak seistimewa itu, Lara,' batin Davina kesal.


Pandangan mata Lara sangat tajam ke arah Davina dan Galy menyadari hal itu.


"Halo, Lara," sapa Rey, sang tuan besar.


"Halo, Uncle," balas Lara tersenyum tipis.


"Lara, kemarilah," panggil Velvet dan Lara menghampiri Velvet dengan senyum lebarnya.


"Di mana Phoenix?" tanya Damon.


"Dia masih mandi," jawab Lara.


Davina mengepalkan tangannya di bawah meja makan.


"Kita mulai saja makan paginya," ucap Rey.


Lalu mereka pun makan pagi bersama dengan suasana yang tenang. Lara menganggap Davina tak ada di sana.


Galy dan Velvet tampak memberikan semua makanan yang ada di meja makan untuk dicicipi oleh Lara.


"Ikan dan salad itu sehat untuk kehamilanmu, Sayang. Makanlah yang banyak," ucap Galy.


Lara mengangguk dan tersenyum.


"Makanlah yang banyak, Lara. Makanan di piringmu terlalu sedikit. Bayimu membutuhkan banyak makanan sehat," kata Velvet menambah lagi makanan di piring Lara.


"Tapi, Kak. Aku sudah kekenyangan," protes Lara.


"Tapi kau hanya makan sedikit tadi," kekeh Velvet.


"Velvet, jangan memaksanya jika dia tidak mau," kata Phoenix yang tampak baru datang ke ruang makan.


"Ck ... Kau tak tahu apapun, Phoenix," jawab Velvet.


Phoenix menghampiri Lara dan mencium puncak kepalanya.


Davina yang melihat hal itu semakin sakit hatinya. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa Phoenix begitu terpikat pada Lara hanya dalam waktu yang singkat.


Davina yang mendekati Phoenix bertahun-tahun bahkan tak mampu menembus pertahanan Phoenix.


"Kau memang adikku yang paling manis, Lara," kata Velvet gemas.


Lalu Phoenix pun ikut makan di sebelah Lara. Phoenix bahkan terkadang tampak menyuapi Lara salad sayur yang sama sekali belum tersentuh oleh Lara.


"Jika kau kenyang, berhentilah," kata Phoenix sembari menghapus sedikit mayonaise yang tertinggal di pinggir bibir Lara.


Davina mengalihkan pandangannya dari pasangan yang tampak mesra itu. Davina benar-benar tak di gubris sama sekali di sesi makan pagi itu.


Phoenix bahkan tak melihat ke arahnya sama sekali.


Tetapi Davina tetap menyembunyikan kekecewaan dan kemarahannya dengan senyumnya yang selalu tersungging di bibirnya.


Seusai makan pagi, Phoenix langsung mengajak Lara pulang ke apartemen mereka tetapi Galy tak mengizinkannya.


"Lara akan tinggal di sini sampai kalian menikah," kata Galy.


"Mom, pernikahan kami masih disiapkan, bukan?"


"Pernikahan kalian akan dilakukan besok lusa. Daddy sudah mengurus semuanya. Tuan Silas juga cukup membantu prosesnya," jawab Galy.


"Secepat itu?" tanya Lara.


"Ya, tentu saja, Sayang," jawab Galy.


"Baiklah, kalau begitu aku akan ke perusahaan sebentar," kata Phoenix yang kemudian mencium bibir Lara tanpa sungkan di depan Galy.


"Aku pergi dulu," ucap Phoenix.


Lara mengangguk dan Phoenix mencium punggung tangan Lara lalu pergi.


"Oohh my ... Sepertinya putra bungsuku benar-benar tergila-gila padamu, Sayang," kata Galy.


Lara hanya tersenyum tipis menahan rasa malunya karena ucapan calon ibu mertuanya itu.


"Kau ingin pergi keluar hari ini? Kalo iya, nanti akan kuantar," ucap Galy.


"Tidak, Aunty. Aku hanya di sini saja. Oh iya, di mana kak Velvet?" tanya Lara.


"Dia mengobrol bersama Iris di taman belakang," jawab Galy.


"Baiklah, aku akan menyusul mereka," ucap Lara.


"Hmm," kata Galy singkat dan mengangguk.