
Setibanya di mansion, Galy tetap memegang tangan Lara.
Lalu Lara ingin membuka jaketnya tetapi dicegah oleh Galy.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Cuaca sangat dingin tetapi kau malah ingin membuka jaketmu," ucap Galy.
"Kau tak boleh membukanya. Ayo kita masuk, nanti kau bisa membukanya di kamar," lanjut Galy dan justru memasang resleting jaket itu sampai ke leher Lara.
Lara hanya bisa diam saja dengan perlakuan Galy yang tampak sangat perhatian padanya.
"Ya, Nona. Di luar sangat dingin. Lagipula untuk apa kau membuka jaketmu? Bukankah kau tak bisa lepas dari jaket itu sebelumnya? Kau selalu memakainya setiap hari," ucap Iris.
Galy hanya tersenyum mendengar hal itu. Lara tak bisa mengatakan apapun selain menuruti kata-kata Galy dan Iris.
Lalu mereka bertiga pun keluar dari mobil. Velvet yang sudah menunggu di depan pintu tampak menghampiri Lara dan memeluknya.
"Dasar anak nakal ... Kau ke mana saja ha???" Marah Velvet sembari memukul pelan bokong Lara.
"Dia aman bersamaku, Nona. Jangan khawatir," ucap Iris yang ada di belakang Lara.
Velvet melihat ke arah Iris.
"Kau siapa?" tanya Velvet.
"Dia asisten pribadiku," jawab Lara.
"Terima kasih telah menjaga adik nakalku ini," ucap Velvet.
Iris tersenyum dan mengangguk hormat.
"Ayo masuk, di sini sangat dingin," ucap Galy.
"Ya, Mom," jawab Velvet dan mereka berempat pun masuk ke dalam mansion.
Velvet membawa Lara ke ruang tengah mansion. Langkah Lara terhenti karena melihat Davina di sana.
Galy yang melihat Davina di sana juga sedikit terkejut karena Galy tak tahu jika Davina datang ke mansion hari ini.
"Lara, kau sudah kembali? Syukurlah," ucap Davina tersenyum.
Lara tak menjawab apapun dan memandang Davina dengan tajam.
'Dia kembali? Baiklah, aku akan memainkan dramaku. Kau tak akan bisa mengambil perhatian keluarga ini, Lara. Aku lebih mengenal mereka dari pada kau,' batin Davina.
"Lara ..." panggil Phoenix yang baru saja datang.
Lara langsung menoleh ke arah Phoenix dan Phoenix melihat Lara dengan begitu intens.
Phoenix masih terdiam di tempatnya beberapa detik. Hingga akhirnya, dia menghampiri Lara dan merengkuh pinggangnya kemudian memeluk tubuhnya.
Senyum Davina langsung menghilang ketika melihat adegan yang cukup romantis itu.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu. Bersiaplah," bisik Phoenix pelan.
"Dia akan membuat perhitungan denganku, Aunty. Itu yang dia bisikkan padaku," kata Lara mengadu pada Galy.
"What???? Phoenix, apa yang akan kau lakukan pada Lara? Jika kau sampai membuatnya pergi lagi, mommy sendiri yang akan membuat perhitungan denganmu," ancam Galy.
Lara tersenyum miring.
"Oh God, please, Mom. Aku tak akan melakukan hal yang buruk padanya," ucap Phoenix.
Davina yang melihat hal itu semakin panas hatinya. Dia tak suka dengan keakraban mereka dengan Lara.
Davina heran mengapa Galy begitu cepat menyayangi Lara padahal sebelumnya Galy tak bersikap begitu hangat pada Lara.
"Aku akan membawanya ke apartemen, Mom," ucap Phoenix dan menarik tangan Lara.
"Hei, kau tak bisa membawanya begitu saja," kata Velvet yang memegang tangan kiri Lara hingga mereka terlihat seperti sedang memperebutkan Lara.
"Velvet, lepaskan tangannya. Dia milikku," ucap Phoenix yang membuat Lara menatap wajahnya.
"Tapi aku yang bertemu duluan dengannya jadi dia milikku malam ini," kata Velvet tak mau kalah.
Iris tampak tertawa pelan melihat adegan tatik menarik itu.
"Oh my ... Dia harus bersamaku mulai malam ini dan seterusnya karena dia mengandung anakku. Aku akan menjaganya agar dia tak kabur lagi dariku," kata Phoenix.
Kata-kata Phoenix tentu saja membuat Davina terkejut bukan main.
'Lara hamil? Tidak ... Tidak mungkin,' batin Davina yang mulai melangkah mundur.