BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#42



Phoenix menjadi hilang respect pada Lara atas perbuatannya pada Davina kali ini.


Rey hanya diam melihatnya karena dia sebenarnya tahu tentang masa lalu Lara yang cukup pedih itu bahkan hampir membuat Lara bunuh diri. Rey mencari tahu semua itu karena dia harus tahu orang seperti apa yang akan bekerja sama dengan perusahaan keluarganya.


Reaksi Rey? Untuk saat ini dia hanya ingin mengawasi saja tanpa ikut campur masalah Lara dan Davina. Jika tindakan Lara sudah berlebihan, baru Rey akan turun tangan. Sejauh ini tindakan Lara masih di batas wajar menurutnya.


"Sudahlah, Sayang. Davina punya alasan sendiri mengapa dia melakukan hal itu," ucap Rey.


Galy memandang heran pada Rey yang tak terlalu khawatir tentang hal ini. Dan Galy sangat mengenal Rey. Itu artinya Rey tahu sesuatu yang tak diketahui olehnya.


"Aku akan keluar dulu. Luka di kepala Davina bisa diobati dengan plester sementara sembari menunggu dokter datang. Ayo Phoenix, kita keluar karena banyak tamu menunggu," perintah Rey.


"Oke, Dad," jawab Phoenix.


*


*


Lara saat ini duduk bersama Velvet dan Willow. Mereka tampak mengobrol dengan akrab. Willow yang berkarakter lembut membuat Lara nyaman.


Lalu tampak Thea menghampiri ketiga wanita cantik itu.


"Halo ... Apakah aku boleh bergabung dengan para wanita cantik ini?" tanya Thea -- kakak perempuan Phoenix satu-satunya.


"Thea ... Kau darimana saja? Jared sejak tadi mencarimu," ucap Velvet.


"Aku baru dari dalam mengganti bajuku karena aku akan menari sepuasnya dengan suami tarzanku itu," jawab Thea.


"Oh ya, Lara ... Dia Thea -- kakak Phoenix," kata Willow.


"Halo, senang berkenalan denganmu, Lara," ucap Thea yang terlebih dulu menyapa.


Lara hanya tersenyum tipis dan menunduk hormat.


"Kau cantik, apakah Phoenix tidak menggodamu? Karena kau adalah tipe Phoenix kurasa. Mata biru dengan rambut coklat pirang dan kudengar kau adalah seorang CEO muda," kata Thea panjang lebar.


"Sudahlah Thea. Pergilah, Jared sudah menunggumu terlalu lama," ucap Velvet.


"Ayo kita menari bersama, Lara," Thea menarik tangan Lara dan Lara melihat wajah Velvet.


"Kau tak akan bisa menolak perintahnya, Lara. Ikuti saja wanita itu," ucap Velvet tertawa.


"Tapi, Kak ..." ujar Lara yang masih melihat ke arah Velvet dan tangannya di tarik oleh Thea ke arah tengah taman.


"Aku akan menyusul sebentar lagi," teriak Velvet.


Lalu Lara mau tak mau mengikuti langkah Thea di belakangnya. Di sana sudah ada Jared -- suami Thea yang berambut panjang itu. Dan di sana juga sudah cukup ramai yang menari.


"Siapa dia, Baby?" tanya Jared yang langsung menarik pinggang Thea untuk menari bersamanya.


"Teman bisnis Phoenix," jawab Thea.


"Menarilah, Lara," ucap Thea.


Lara masih terdiam dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Phoenix!!!! Kemarilah!!!" teriak Thea melambaikan tangannya ke atas pada Phoenix.


Lalu Phoenix menghampiri Thea.


"Temani Lara menari," perintah Thea dan Phoenix melihat ke araah Lara yang tadi tak dilihatnya karena tertutup kerumunan orang.


"Tidak, aku duduk saja," kata Lara berbalik tetapi Phoenix menarik tangan Lara dan merangkul pinggangnya.


"Aku tak keberatan menemanimu menari," ucap Phoenix dengan menatap tajam ke arah netra biru Lara.


Tangan Phoenix menyentuh kulit pinggang Lara yang terbuka dan itu membuat Lara seakan terkena sengatan listrik akibat sentuhan itu.


Mata mereka beradu ketajaman, karena mereka sama-sama memiliki rasa tidak suka di antara keduanya. Phoenix dengan pikiran bahwa Lara adalah orang tanpa empati dan Lara dengan pikiran bahwa Phoenix adalah teman dekat Davina yang tentu saja harus dia benci juga.