
Keesokan harinya, Lara dan Phoenix bekerja seperti biasa. Tak ada acara bulan madu atau apapun untuk saat ini.
Pekerjaan Lara terlalu menumpuk karena kepergiannya kemarin.
Tuan Silas sebenarnya sudah memberikan waktu untuk Lara berbulan madu. Tetapi Lara menolaknya karena menurutnya itu sesuatu yang tak terlalu penting.
Dan Phoenix hanya bisa mengikuti kemauan Lara.
"Dia masih bekerja sama dengan perusahaan Phoenix?" tanya Lara pada salah satu asistennya yang bernama Beatrice.
"Ya, Nona. Tetapi sepertinya ada perubahan struktur pimpinan di perusahaan itu. Aku mendengar kabar bahwa CEO-nya akan diganti," jawab Beatrice.
"Hmm, terima kasih informnasinya, Beatrice. Kembalilah bekerja," ucap Lara.
"Oh ya, selamat atas pernikahan anda, Nona Lara," kata Beatrice.
"Terima kasih," jawab Lara datar seperti biasanya.
Lalu Beatrice pun keluar.
Iris yang ada di samping Lara tampak melihat keseriusan wajah Lara yang jarang dilihatnya dulu. Memang benar, Lara akan berubah menjadi sedikit dingin jika berada di sini.
"Oh ya, Nona. Apakah nanti siang aku perlu mengatur jadwalmu dengan tuan Phoenix?" tanya Iris.
"Tak perlu. Aku sangat sibuk hari ini. Kau pergilah ke ruang sekretaris. Di sana banyak pekerjaan yang bisa kau kerjakan," jawab Lara.
"Baik, Nona." Iris pun keluar dari ruangan Lara.
*
*
"Jadi Phoenix hanya mengganti CEO-nya dan menurunkan jabatan Davina?" gumam Lara sembari menyandar di kursi kebesarannya.
"Kau terlalu baik padanya, Honey. Baiklah, aku akan bertindak sendiri jika seperti itu." Lara memutar otaknya dan menemukan ide yang lumayan bagus.
Lara menelepon seseorang dan membicarakan sesuatu yang cukup penting sepertinya.
"Lakukan hal itu dengan sangat bersih," ucap Lara di akhir pembicaraan.
"Baik, Nona. Aku akan menangani hal ini."
Lara menutup teleponnya dan senyum miringnya tersungging seakan menunggu kehancuran Davina.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi dan Kara segera mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Lara.
"Kau sama sekali tak romantis, Baby," jawab Phoenix di seberang sana.
"Aku tak mengerti," sahut Lara.
"Sudahlah ... Oh ya, nanti kita makan siang bersama. Aku akan menjemputmu," ucap Phoenix.
"Tidak, aku sangat sibuk hari ini. Sangat sangat sangat sibuk. Jadi tak ada yang boleh menggangguku termasuk dirimu," jawab Lara.
"Terserah kau saja," jawab Lara tak ambil pusing.
"Oke, i love you," ucap Phoenix.
"Hmm," jawab Lara singkat.
"Kau tak menjawabnya?" tanya Phoenix.
"Aku sudah menjawabnya," jawab Lara.
"Oh my ... Akan kugigit kau nanti," sahut Phoenix.
"Apakah harus aku mengatakannya? Bagiku sekali saja sudah cukup, bukan?" tanya Lara.
"Itu suatu keharusan kau mengatakannya, Sayang," jawab Phoenix.
"Nanti aku akan mengatakannya," ucap Lara.
"Oh God ... Wanita ini benar-benar menyebalkan," kata Phoenix.
"Kau baru tahu?" ucap Lara.
"Oke oke ... Baiklah, nanti aku akan ke sana," sahut Phoenix dan menutup sambungan teleponnya.
Lara pun menutup ponselnya. "I love you," bisiknya lirih.
Senyumnya sedikit tersungging dan dia merasa ada bunga-bunga yang bertebaran di hatinya.
Lalu Lara menggelengkan kepalanya dan menaruh ponsel itu kembali di mejanya.
Menjelang siang, Phoenix sudah datang membawa beberapa macam makanan untuk Lara.
Lara tampak excited melihat kedatangan Phoenix. Dia langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri Phoenix.
Lara mengambil bungkusan tangan suaminya itu dan meletakkannya di meja.
"Baby ... Are you okay?" tanya Phoenix.
"Ya, i'm okay. Why?" tanya Lara sambil menata makanannya di meja.
"Kau tak menciumku terlebih dulu dan kau lebih tertarik dengan makanan itu," ucap Phoenix.
"Kau manja sekali. Aku sangat lapar dan ingin secepatnya makan," jawab Lara.
Phoenix masih mematung di tempatnya hingga akhirnya Lara berdiri dan menghampiri Phoenix lalu mengecup bibirnya.
"Thank you atas makanannya. And i love you," lirih Lara.
Dan senyum Phoenix otomatis mengembang karena hal sederhana itu. Tidak bisa dikatakan sederhana jika itu dilakukan oleh Lara.