BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#118 (EDISI IRIS - GONZA)



"Kita akan langsung berangkat?" tanya Iris.


"Hmm, nanti kita akan sering-sering beristirahat di jalan agar perutmu tak terlalu sakit," ucap Gonza.


"Perutku sudah tak terlalu sakit meskipun kadang ada rasa nyeri yang timbul," jawab Iris yang sudah mengepak pakaiannya ke koper.


"Tak perlu mengangkatnya. Kau tak boleh mengangkat yang terlalu berat," kata Gonza ketika melihat Iris akan mengangkat kopernya.


"Ya, baiklah," jawab Iris tersenyum.


Hatinya benar-benar bahagia saat ini karena Gonza sudah menjadi suaminya yang sah sekarang meskipun sikap Gonza tak terlalu hangat pada Iris.


Tapi setidaknya, Gonza sudah tak bersikap terlalu kaku lagi padanya. Bukankah itu suatu peningkatan? 😁


Satu jam kemudian, mereka pun berangkat melakukan perjalanan yang lumayan panjang menuju kampung halaman Iris sekaligus rumah nenek Gonza.


Iris merasa hatinya sangat berbunga-bunga. Duduk berdua saja dengan Gonza di dalam mobil sudah membuatnya bahagia tiada tara.


"Kau akan sembuh total sekitar sebulan lagi," ucap Gonza memulai obrolan.


"Hmm," jawab Iris.


"Kau tak masalah kan jika kita melakukannya bulan depan?" tanya Gonza.


Iris menoleh ke arah Gonza.


"Melakukan apa?" tanya Iris lugu.


Gonza melihat ke arah Iris dan melihat wajah lugunya. Lalu dia kembali melihat ke depan karena dia sedang menyetir saat ini.


"Kau tak mengerti apa yang kubicarakan?" tanya Gonza.


"Tidak," jawab Iris jujur.


"Wait ... Kau pernah menikah, bukan?" tanya Gonza lagi.


"Ya, kau tahu itu, lalu apa hubungannya?" tanya Iris tak mengerti.


"Oh my God ... Kau bodoh atau lupa, Iris?" ucap Gonza.


"Kau menyebutku bodoh?" Iris mulai kesal.


"Katakan dengan jelas apa yang ingin kau katakan. Jangan menyuruhku menebak-nebak dan mengataiku bodoh seenakmu," kesal Iris.


"Oh God, ini hari pertama kita sebagai suami istri dan kau sudah marah-marah," kata Gonza.


'Sabar Iris ... Sabar ... Ini adalah Gonza, pria jelek yang telah membuatmu cinta mati,' batin Iris.


"Maaf," ucap Iris akhirnya.


"Tapi sungguh aku tak mengerti maksudmu. Kau bisa menanyakan pertanyaan yang jelas, kan? Kita akan melakukan apa?" tanya Iris dengan nada pelan dan menahan emosinya.


"Baiklah, aku akan mengatakannya secara jelas padamu." Gonza mulai berbicara lagi sambil fokus menyetir.


"Aku akan melakukan malam pertama kita setelah kau sembuh," ucap Gonza dengan jelas dan langsung membuat wajah Iris memerah.


Iris menghadap ke depan lagi dan menyembunyikan wajah merahnya itu dari Gonza.


Iris belum menanggapi ucapan Gonza itu dan membuat Gonza menoleh ke arah Iris sekilas.


"Ada apa? Apakah yang kukatakan membuatmu marah lagi?" tanya Gonza.


"T-tidak. Hanya saja itu membuatku sedikit malu," jawab Iris jujur.


"Malu? Mengapa harus malu? Kau pernah menikah sebelumnya, bukan? Kukira kau tahu tanpa aku harus menjelaskannya tadi," ucap Gonza yang masih heran dengan sikap Iris.


Iris masih diam tak menjawab ucapan Gonza. Dan Gonza masih menunggu jawaban Iris.


"A-aku belum pernah melakukannya," jawab Iris jujur.


"Apa maksudmu? Aku tak mengerti," kata Gonza.


"Aku pernah menikah tetapi aku belum pernah melakukannya," jawab Iris menunduk.


"What??" ucap Gonza cukup kaget hingga meminggirkan mobilnya dan berhenti.


"Ada apa? Mengapa kau terkejut? Apakah kau ingin aku melakukannya dengan mantan suamiku dulu?" tanya Iris yang mulai kesal dengan reaksi Gonza.


Gonza melihat Iris dengan pandangan heran. Bagaimana bisa Iris belum pernah melakukannya sementara dulu dia pernah menikah? Apakah ada yang salah dengan Iris atau mantan suaminya? Itulah yang ada di otak Gonza saat ini.