
"Jadi dia pergi? Bagus sekali. Semoga dia tertimpa musibah di luar sana dan tak pernah kembali untuk selamanya," kata Berly tersenyum.
"Hmm, aku tak berharap dia terkena musibah, Mom. Aku hanya berharap dia tak akan pernah kembali lagi. Aku tak ingin berurusan lagi dengannya. Aku hanya ingin hidupku tenang," ucap Davina.
"Lebih baik mendoakannya mati daripada dia kembali lagi ke dalam kehidupanmu, Davina," kata Berly.
"Mom, please. Jangan memulainya lagi. Dengan kepergiannya itu sudah cukup," kata Davina.
"Kau terlalu baik padanya, Davina. Itulah mengapa dia dengan mudah menindasmu dan mengambil Phoenix darimu," kesal Berly.
"Sudahlah, Mom. Aku akan ke kantor dulu." Davina beranjak dari kursinya dan pergi dari sana.
Davina cukup lega mendengar kabar kepergian Lara. Dan berharap Lara tak akan pernah kembali.
Davina akan pergi ke New Jersey besok. Dia ingin menemui Phoenix karena sudah lama mereka tak bertemu.
Davina tak mau hubungan persahabatannya dengan Phoenix merenggang. Dia ingin tetap dekat Phoenix meskipun Phoenix tak akan pernah bisa mencintainya.
*
*
"Kau belum menemukan Lara, Sayang?" tanya Galy pada Rey.
"Tuan Silas mengatakan, kita tak perlu mencarinya karena Lara akan kembali sesuai dengan apa yang dikatakannya kemarin," jawab Rey.
"Tapi Phoenix masih tetap kebingungan mencarinya. Apakah menurutmu Phoenix mencintainya? Hubungan mereka masih terbilang singkat untuk bisa merasakan perasaan yang begitu mendalam, kan?" ucap Galy.
"Lara mengandung anak Phoenix. Tentu saja itu membuat Phoenix kebingungan," jawab Rey.
"Ya Tuhan, kemana sebenarnya Lara pergi. Aku sangat khawatir padanya. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya dan juga calon cucu kita?" tanya Galy.
"Tenanglah ... Lara adalah wanita yang sangat tangguh. Dia pasti baik-baik saja. Dia sangat cerdas, jadi tak mungkin dia ceroboh," jawab Rey.
"Ya, semoga saja. Kapan kita ke New Jersey?" tanya Galy lagi.
"Tidak perlu. Setelah Lara kembali, kita akan mengadaka pesta pernikahan mereka di New York saja. Siapkan semuanya, Honey," jawab Rey.
"Ya, aku sudah mulai menyiapkannya bersama Velvet. Apa kita perlu mengundang Davina?" tanya Galy.
"Lara ingin mengundangnya," jawab Rey.
"Tidak akan, kita bisa mencegahnya," ucap Rey.
"I hope so," sahut Galy.
*
*
"Deal ..." ucap Iris sambil berjabatan tangan dengan seorang pria paruh baya.
Mereka sedang bertransaksi membeli mobil bekas. Iris cukup paham hal ini. Dia bahkan mendapat harga yang cukup jauh dibawah harga pasar.
Lara yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Padahal Lara bisa membeli mobil itu tanpa tawar menawar, tapi jiwa hemat Iris memaksanya untuk menawar mobil mahal itu dengan harga terendah.
"Let't go, Baby," ucap Iris dengan sumringah.
Lalu mereka pun akhirnya pergi melanjutkan perjalanan.
Lara membuka atap mobil mercinya dan menaikkan tangannya ke atas.
"Yuuhuuuuu ..." Iris berteriak dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Lara menyalakan musik dan mereka berdua bersenandung bersama. Dan mereka tampak tertawa bersama menikmati perjalanan yang lumayan panjang ini.
'Nikmatilah Lara ... Nikmatilah, sebelum menghadapi peliknya hidupmu di New Jersey nanti ... ' batin Lara.
"Berhentilah di cafe itu, Iris. Perutku lapar," ucap Lara ketika baru 2 jam perjalanan mereka.
"Oke," jawab Iris dan meminggirkan mobilnya di depan cafe.
Lalu mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe. Tampak di dekat pintu keluar ada beberapa gerombolan pria yang bersiul pada Lara dan Iris.
Mereka tak menggubrisnya dan tetap masuk melewati gerombolan laki-laki itu.
"Ck, coba saja berani menyentuhku. Pasti akan kuhajar semua pria itu," geram Iris.
Lara hanya tertawa pelan dan mulai memesan makanan untuk mereka berdua.